News Video

2 Langkah Dipilih Gubernur Edy Rahmayadi Ketimbang Terapkan PSBB di Sumut Meski Banyak Zona Merah

Sebanyak 4 kabupaten/kota seperti Medan, Deliserdang, Tanjungbalai dan Simalungun dinyatakan zona merah penyebaran Covid-19

Penulis: Satia | Editor: Hendrik Naipospos

TRI BUN-MEDAN.COM - Sebanyak 4 kabupaten/kota seperti Medan, Deliserdang, Tanjungbalai dan Simalungun dinyatakan zona merah penyebaran Covid-19.

Kondisi saat ini dianggap beberapa pihak sudah perlu diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun Gubernur Sumut Edy Rahmayadi belum berpikir untuk melakukan PSBB.

Mantan Pangkostrad ini mengaku berat untuk menerapkan kebijakan PSBB.

Sebab, penerapan kebijakan ini jika dilakukan, akan dapat menimbulkan resiko besar.

Mulai dari masalah perekonomian hingga kesenjangan sosial.

"Kita tidak menerapkan PSBB, karena resiko sangat berat untuk diterapkan," kata Edy Rahmayadi, Jumat (17/4/2020).

Bolehkah Masyarakat ke RS USU untuk Minta Uji Swab Mandiri?

Bukan di Wuhan, Ilmuwan Inggris Sebut di Daerah Ini Awal Wabah Covid-19, China Revisi Data Kematian

Saat ini, kata dia, Pemerintah Sumut telah menyiapkan strategi lain untuk mengalihkan penerapan PSBB tersebut.

Pertama, dengan konsep fisik, pemerintah telah menyiapkan rumah sakit dan kelengkapan peralatannya termasuk tenaga medis.

Kedua, kasus Covid-19 ini diselesaikan secara konsep non-fisik, yakni menyiapkan dampak sosial kepada seluruh rakyat Sumut yang terdampak Covid-19.

Adapun anggaran diambil dari dari refocusing dan realokasi dana, termasuk dari dana desa.

Tahap pertama dialokasikan anggaran Rp 502 miliar untuk 3 bulan ke depan.

Atas seijin DPRD Sumut, jumlah itu nantinya ditambah Rp 500 miliar lagi tahap kedua jika pandemi Covid-19 masih terjadi untuk 3 bulan kedepannya lagi.

Kalau masih terus terjadi, anggaran ditambah lagi tahap ketiga Rp 500 miliar untuk 3 bulan kedepannya lagi.

"Tolong catat ini dan jangan disalah-salahkan catatannya hingga nanti menjadi salah," pungkas Edy Rahmayadi.

Tinjau Lab PCR USU

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi meninjau kesiapan laboratorium PCR (Polymerase Chain Reaction) milik RS Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat (17/4/2020).

Tenaga medis menerangkan kepada Edy Rahmayadi cara kerja dari alat tersebut menguji sampel dahak pasien PDP Covid-19.

Hingga hari ini, sudah ada 40 sampel diuji.

"Jumlah yang dites ada 40 hari ini dan kebetulan hasilnya alhamdulilah, semoga setiap yang dicek negatif," kata Edy Rahmayadi.

 Tempo 4 Jam Hasil Tes Swab Covid-19 Langsung Diketahui, RS USU Siap Operasikan Alat PCR

 Bangun Laboratorium Swab PCR Test, RS USU Gelontorkan Dana Rp 8 Miliar

Mantan Pangkostrad ini menegaskan bahwa RS USU menjadi satu-satunya laboratorium yang menangani uji swab di Sumut.

Diwawancarai Terpisah, Kepala Laboratorium PCR RS USU, dr Dewi Indah Sari Siregar, menyebutkan kalau warga tak bisa datang ke RS USU untuk meminta uji swab mandiri.

Penentuan uji swab adalah rekomendasi dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumut.

"Kita di sini sifatnya menerima sampelnya, jadi Dinas Kesehatan yang menentukan dan yang mengantarkan kepada kita, hari ini kita sudah terima 40 sampel swab," tutur dr Dewi Indah Sari Siregar.

Setelah diuji, RS USU tak memiliki hak untuk menyampaikan hasil kepada masyarakat.

Nantinya hasil uji swab akan diserahkan ke Gugus Tugas.

"Hasilnya nanti akan kami laporkan secara online ke pusat dan ke Dinas Kesehatan Provinsi. Mereka yang akan memberitahukan untuk hasil, jadi tetap dari pusat," pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sumut Alwi Mujahit Hasibuan terkait kedatangan PCR dan reagensia di RS USU, Kamis (16/4/2020)
Kepala Dinas Kesehatan Sumut Alwi Mujahit Hasibuan terkait kedatangan PCR dan reagensia di RS USU, Kamis (16/4/2020) (Tribun Medan)

 KABAR BAIK, Ini Wujud Alat Pendeteksi Virus Corona untuk Uji Swab yang Tiba di RS USU

 Setelah Hadir di RS USU, Rumah Sakit Pelabuhan Belawan Juga Segera Miliki Alat Pemeriksa Covid-19

Biaya uji swab

RS USU baru saja menerima bantuan bahan Reagensia dari BNPB sejumlah 1000 bahan untuk mengecek pasien terduga Covid19, Jumat (17/4/2020).

Reagensia merupakan larutan zat dalam komposisi dan konsentrasi tertentu yang digunakan untuk mengenali zat lain yang belum diketahui sehingga diketahui isi zat lain tersebut.

Hal ini diungkapkan, Rektor USU Prof DR Runtung Sitepu saat dikunjungi Gubernur Sumut Edy Rahmayadi di RS USU.

"Kita juga baru dapat kabar pagi ini, kita baru saja menerima sumbangan 1000 Reagensia dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk kurang lebih bisa digunakan untuk 500 pasien. Kita sangat bersyukur dan nantinya akan kita gunakan untuk masyarakat," tuturnya.

Runtung menegaskan bahwa pengujian spesimen sampel swab di RS USU tidak akan dikenakan biaya apapun.

Senada dengan rektor, dr Dewi Indah Sari Siregar menjelaskan bahwa jumlah 1000 reagensia tersebut dapat mengecek 500 pasien lebih.

"Hari ini ada 1000 Reagensia dari BNPB tadi pagi kita terima. Perkiraan kita bisa digunakan untuk 500 sampel hingga kurang dari 1000 sampel pasien terduga virus corona yang bisa kita cek," tuturnya

Wanita yang juga menjabat sebagai Direktur II RS USU ini menjelaskan bahwa pihak RS USU akan melakukan swab terhadap sampel yang diberikan Dinas Kesehatan Pemprov Sumut.

(wen/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved