News Video

Angin Puting Beliung Terjang 62 Rumah di Patumbak Hingga Porak-poranda. 234 Warga Kehilangan Rumah

Angin puting beliung merusak puluhan rumah warga yang berada di Dusun VI, Desa Patumbak I, Kecamatan Patumbak, pada Senin (6/4/2020)

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: M.Andimaz Kahfi

Angin Puting Beliung Terjang 62 Rumah di Patumbak Hingga Porak-poranda. 234 Warga Kehilangan Rumah

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Angin puting beliung merusak puluhan rumah warga yang berada di Dusun VI, Desa Patumbak I, Kecamatan Patumbak, pada Senin (6/4/2020) sekitar pukul 15.30 WIB.

Akibat bencana angin puting beliung, sebanyak 62 rumah porak poranda dan 234 jiwa terdampak.

Salah seorang korban, Suyono (57) mengatakan, bahwa seluruh barang-barang yang dimilikinya rusak dan rata dengan tanah.

Rumahnya yang terbuat dari batu, runtuh dan hanya meninggalkan puing-puing.

Saat disambangi pada Selasa (7/4/2020), Suyono mengungkapkan kesedihannya setelah dia melihat rumahnya telah rata dengan tanah.

"Saat kejadian, saya enggak ada di rumah. Saya masih kerja di ladang," kata Suyono saat diajak berbincang seputar kejadian tersebut.

"Saya kan kerjanya di ladang, tanam ubi lah dan kerja ke ladang orang juga," sambungnya.

Saat sedang di ladang, dia sudah berharap bisa menikmati kopi di sore hari.

Dia menerobos hujan yang kian deras menuju rumah dengan harapan bisa lebih cepat membersihkan diri dan menikmati kopi.

Saat sudah di depan rumah, dia hanya terdiam.

Saat melihat rumahnya sudah runtuh dan rata dengan tanah.

"Kemarin itu hujan dah deras. Saya pengin cepat pulang ke rumah dengan harapan bisa langsung mandi dan minum kopi. Nyatanya, saya tiba di depan rumah, sudah pada ambruk, rata dengan tanah," tuturnya.

Dia berharap agar ada orang-orang yang baik hati menyampaikan tali asih baginya.

Sebab dia tinggal sendiri di rumah dan bekerja sebagai petani sederhana.

Sementara warga lainnya, Suwandi (38) yang saban hari bekerja sebagai penarik becak yang kebetulan sedang berhenti di teras rumah Suyono saat hujan deras menyaksikan robohnya rumah tersebut.

"Saat kejadian, aku pas lagi istirahatlah, soalnya hujan deras. Entah kenapa, gara-gara angin kencang itu, rumah itu ambruk, aku pun enggak bisa berbuat apa," ujar Suwandi.

Akibat robohnya bangunan tersebut, Suwandi hanya bisa terdiam sembari menahan sakit akibat puing rumah yang menghantam kakinya.

"Kakiku memang kena, tapi yang parah itu becakku peot semuanya. Gimana mau lari, dah pada ambruk rumahnya. Becak itu dah kubuat di bengkel supaya diperbaiki," tambahnya.

Untuk sementara, Suyono tinggal di sebuah gubuk kecil yang dibangun di atas puing-puing bangunan tersebut.

"Aku masih tinggal di sini, untung aja teman-teman datang bantu saya buatkan gubuk kecil ini agar aku bisa istirahat sementara," ungkapnya dengan sedih.

Gubuk tersebut ternyata diupayakan oleh sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi agar Suyono bisa bertahan hidup dan beristirahat.

"Aku tidak bisa berkata apa, ya beginilah situasinya, ini kan bencana alam, tidak kita sengaja. Aku bermohon bantuan agar rumahku yang saat ini sudah roboh bisa terbangun kembali," pungkasnya.

(cr3/medan-tribun.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved