Virus Corona
Corona Telan 15.887 Jiwa di Italia, Studi Sebut Jumlah Bisa 2 Kali Lipat, Banyak yang Tewas di Rumah
Hal ini dikatakan seorang peneliti melihat kondisi di Italia. Warga-warga kebanyakan mati saat berada di dalam rumah.
Angka kematian di Italia akibat virus corona atau Covid-19 bisa terjadi dua kali lipat dari jumlah yang tertulis.
Hal ini dikatakan seorang peneliti melihat kondisi di Italia. Warga-warga kebanyakan mati saat berada di dalam rumah.
Sebab, petugas medis tak dapat atau tidak akan melakukan kunjungan rumah, sesuai dengan saran medis untuk beralih ke pengobatan jarak jauh.
TRI BUN-MEDAN.com - Jumlah kematian karena virus corona di Italia diduga bisa 2 kali lipat dari yang tertulis, ahli sebut banyak warga yang tewas di rumah masing-masing.
Penanganan virus corona di Italia sendiri sebenarnya sudah maksimal.
Namun mirisnya, lockdown dan social distancing masih tak bisa menangkal virus corona Covid-19, dan membuat negara itu harus terpuruk.
Dilansir dari Worldometer, total kasus terkonfirmasi positif virus corona berjumlah 128.948 jiwa.
Belum lagi catatan kematian yang berjumlah 15.887 jiwa dengan 21.815 pasien dinyatakan sembuh.
Namun sebuah penilitan tentang catatan kematian di Italia dikutip dari Kompas.com pada (6/4/2020), mengatakan bahwa jumlah korban jiwa bisa saja mencapai dua kali lipat yang tertulis secara resmi.
Studi yang terhitung baru ini menuliskan tentang catatan kematian dengan jumlah kematian di Provinsi Bergamo, Lobardia, Italia.
• Empat Artis ini Terpaksa Tutup Sementara Bisnisnya Akibat Wabah Virus Corona
• Empat Artis ini Terpaksa Tutup Sementara Bisnisnya Akibat Wabah Virus Corona
Mereka menuliskan bahwa sebenarnya bisa saja kematian di rumah warga ada lebih dari dua kali lipat jumlah resmi yang didapatkan dari catatan kematian di rumah sakit.
Perjuangan global untuk menyelamatkan jiwa di Italia sekarang berpusat pada peningkatan pasokan ventilator rumah sakit.
Namun beberapa dokter mengatakan kurangnya perawatan kesehatan primer terbukti sama mahalnya.
Sebab, petugas medis tak dapat atau tidak akan melakukan kunjungan rumah, sesuai dengan saran medis untuk beralih ke pengobatan jarak jauh.
"Apa yang menyebabkan situasi ini adalah bahwa banyak dokter keluarga tidak mengunjungi pasien mereka selama berminggu-minggu," kata Riccardo Munda, seorang dokter di Selvino dan Nembro.
Menurutnya, banyak kematian dapat dihindari jika orang-orang di rumah segera menerima bantuan medis.
Akan tetapi, para dokter tidak memiliki cukup masker dan pakaian untuk melindungi diri mereka dari infeksi serta tidak dianjurkan melakukan kunjungan.
Kecuali, jika benar-benar diperlukan baru dokter dan petugas medis bisa mengunjungi pasien di rumah.
Ketika pekerja rumah sakit diberi akses prioritas ke masker, beberapa dokter keluarga mengatakan mereka pergi tanpa masker dan merasa tidak dapat mengunjungi pasien dengan aman.
• Artis Cantik Ini Blak-blakan Ungkap Alami Pelecehan Seksual, Payudaranya Kena Begal saat Lari Pagi
• Empat Artis ini Terpaksa Tutup Sementara Bisnisnya Akibat Wabah Virus Corona
Ketika orang yang diduga terinfeksi virus corona tak ada penanganan di rumah
Silvia Bertuletti (48) memerlukan waktu 11 hari untuk membujuk seorang dokter melalui telepon agar mengunjungi ayahnya yang mengalami demam dan kesulitan bernapas.
Ketika seorang dokter panggilan pergi ke rumahnya di dekat Bergamo, pusat penyebaran virus corona di bagian utara Italia pada Rabu (18/3/2020) malam, keadaaan sudah terlambat.
Ayahnya yang berusia 78 tahun dinyatakan meninggal pada pukul 1.10 pagi, Kamis (19/3/2020) dini hari atau sepuluh menit sebelum ambulans tiba.
Satu-satunya obat yang ia resepkan, melalui telepon, adalah obat penghilang rasa sakit ringan dan antibiotik spektrum luas.
"Ayah saya dibiarkan mati sendirian di rumah tanpa bantuan. Kami ditinggalkan begitu saja. Tidak ada yang layak mendapatkan perlakuan seperti itu," kata Bertuletti, warga Italia seperti dilansir Reuters dari Kompas.com.
Wawancara dengan keluarga, dokter, dan perawat di wilayah Lombardy menunjukkan bahwa banyak orang mengalami nasib sama seperti Bertuletti.
• Seorang PNS/ASN Polda Sumut Positif Corona, Bertugas di Pelayanan Markas, Berikut Riwayat Penyakit
• Artis Cantik Ini Blak-blakan Ungkap Alami Pelecehan Seksual, Payudaranya Kena Begal saat Lari Pagi
Jumlah kematian resmi Italia sejauh ini mencapai 15.887 kasus atau hampir sepertiga dari total global.
Tetapi ada bukti yang berkembang bahwa jumlah itu jauh dari total sebenarnya karena begitu banyak orang sekarat di rumah.
Sebuah studi oleh surat kabar lokal L'Eco di Bergamo dan konsultan penelitian InTwig dengan menggunakan data yang disediakan oleh kota setempat, memperkirakan sekitar 5.400 orang meninggal di provinsi Bergamo selama bulan Maret, enam kali lebih banyak dari setahun yang lalu.
Dari jumlah tersebut, diperkirakan bahwa sebanyak 4.500 orang meninggal akibat virus corona, lebih dari dua kali lipat jumlah resmi.
Pengalaman pahit keluarga Bertuletti menunjukkan bagaimana perawatan primer menjadi garis pertahanan pertama sistem kesehatan.
(*)
Artikel ini sudah tayang di Tribun Style dengan judul : Studi Sebut Jumlah Kematian Virus Corona Italia Seharusnya 2 Kali Lipat, Banyak yang Tewas di Rumah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/virus-corona-di-italia.jpg)