Petani Sayur di Tanahkaro Cuma Bisa Gigit Jari Sejak Virus Corona Merebak

Penyebaran virus Corona di Indonesia turut membawa dampak buruk bagi para petani di Tanahkaro

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Array A Argus
Tribun-Medan.com/Muhammad Nasrul
Aktivitas petani yang menjual hasil kebunnya ke pengepul sayur mayur di Pasar Roga, Jalan Jamin Ginting, Desa Rumah Berastagi, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Rabu (1/4/2020). 

BERASTAGI,TRIBUN-Kabupaten Tanahkaro adalah satu wilayah penghasil sayur dan buah di Sumatera Utara.

Sejak virus Corona/Covid-19 ini menyebar luas di sejumlah daerah, permintaan sayur pun menurun drastis.

Sekarang ini, para petani yang biasa menjual sayur pada pengepul cuma bisa gigit jari.

"Penurunannya 30 sampai 50 persen lah.

Sudah dua bulan belakangan ini permintaan sayur sangat minim," kata Andi Tarigan, petani sayur asal Berastagi yang ditemui Tribun Medan di Pasar Roga, Rabu (1/4/2020).

Ini yang Dilakukan Polri setelah 300 Orang Calon Perwiranya Dinyatakan Positif Corona Covid-19

Ia mengatakan, sebelum virus Corona ini merebak, permintaan sayur dari Tanahkaro cukup tinggi.

Sebab, kata Andi, sayur yang mereka pasok masih segar.

Beda dari wilayah lainnya yang mungkin akan layu karena terlalu lama di perjalanan.

"Permintaan paling banyak itu biasanya dari Kota Medan.

Tapi menurut pengepul, akhir-akhir ini banyak pedagang di Medan yang tidak jualan.

Sehingga permintaan akan sayur minim," kata Andi sembari merapikan sayur miliknya.

Senada disampaikan N Ginting. Menurutnya, permintaan sayur dari luar daerah mengalami penurunan.

Sejumlah petani mengalami kerugian, karena sayur yang sudah dipanen hanya sedikit saja yang laku dijual.

Jika terlalu lama berada di dalam gudang, dikhawatirkan sayur akan layu dan rusak.

"Kalau ditanya kondisi sekarang ini, ya terkendala sekali lah.

Dari Kota Medan sana sudah sepi permintaan," ungkap Ginting.

Aktor Star Wars Meninggal karena Terjangkit Corona, Tak Bisa Bertemu Istri hingga saat Terakhir

Ia berharap, ada solusi dari pemerintah daerah mengenai persoalan ini.

Sebab, jika kondisi ini berlarut-larut, tidak tertutup kemungkinan banyak petani yang bakal gulung tikar.

"Harapannya semoga kondisi ini bisa berlalu lah," pungkas Ginting.

Meski permintaan sayur di sejumlah daerah menurun drastis, aktivitas di Pasar Roga, Desa Rumah Berstagi, Kecamatan Berastagi masih ramai.

Mulai dari petani, pengepul hingga pengecer terlihat sibuk melakukan aktivitas jual beli di lokasi.

KABAR Terbaru Corona di Indonesia - 1.677 Kasus dan Daftar Lengkap Wilayah Sebaran

Tidak hanya berdampak pada petani saja.

Kondisi merebaknya virus Corona ini juga membawa dampak bagi pengusaha angkutan.

Seperti yang dirasakan Candra Ginting.

Katanya, karena permintaan sayur dari Kota Medan menurun, otomatis operasional pengiriman juga dibatasi.

Diimbau Belajar di Rumah Hindari Corona, Pelajar Ini Malah Berzina tanpa Busana, Alasannya Buat PR

"Saya ini kan biasa ngantar sayur ke kawasan Jalan Pancing Medan sana.

Jadi karena permintaan sayur ini turun, aktivitas pengiriman juga ikut berdampak," kata Candra.

Biasanya, sambung Candra, sebelum virus Corona ini merebak, angkutannya bisa mengantar tiga ton sayur.

Tapi sekarang, dapat dua ton saja sudah lumayan.

KABAR BAIK: 2 Peneliti Indonesia Temukan Suplemen Nitrico untuk Membantu Tubuh Melawan Virus Corona

"Pengiriman ini kan tergantung juga sama pemesan di Medan.

Kalau permintaan sayur minim, yang berkurang juga aktivitas pengiriman," ungkap Surya.

Tidak hanya mengeluhkan soal minimnya permintaan sayur, pria asal Kabanjahe ini juga sempat mengeluh karena ada pembatasan operasional 12 ruas jalan di Kota Medan.

Pembatasan jalan ini, sambungnya, turut berdampak pada bisnis pengiriman.

BERITA FOTO Jalan Ditutup Antisipasi Penyebaran Corona, Digunakan Warga Dengan Bermain Bola di Medan

"Kalau jalan ditutup, ya kita mutar-mutar ngirimnya.

Otomatis minyak juga bertambah," ungkap Candra.

Untuk menyiasati buka tutup 12 jalur itu, Candra bersama pengusaha angkutan lain turut menyesuaikan jadwal pengiriman sayur.

Dengan begitu, ongkos yang dikeluarkan saat pengiriman barang bisa disesuaikan dengan biaya sewa dari pemilik barang.

10 Hari Diisolasi, Artis Andrea Dian Umumkan Hasil Rapid Test Corona Negatif: Aku Bisa Pulang!

"Sekarang ini kami main agak malam lah turun ke Medan.

Kalaupun ada penutupan, ya kami cari tempat berhenti," ungkap Candra.

Dengan kondisi seperti ini, tidak tertutup kemungkinan pengiriman sayur juga terhambat.

Ambil Dari Petani
Ketua Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Karo, Martin Sitepu mengkhawatirkan ada warga yang bisa terpapar virus jika terlalu lama berkumpul di keramaian.

Apalagi, aktivitas jual beli di Pasar Roga masih padat.

Ia pun mengajak dan mengimbau semua pengepul untuk "jemput bola" dari petani.

BERITA FOTO Berjibaku Melawan Virus Corona, Edy Rahmayadi Berdoa Bersama Para Perawat di Medan

"Ya, harapan kita kalau bisa seperti dulu lagi. Misalnya ada agen besar dari Medan ini mengambil sayur, maka dia harus datangi petani.

Dengan begitu, potensi kumpul- kumpul dapat diminimaisir," kata Martin.

Ia menjelaskan, memang proses seperti ini membutuhkan biaya yang lebih tinggi.

Tapi demi kesehatan bersama, tak salah rasanya cara ini dilakukan.

CARA Mengajukan Listrik Gratis Selama Corona Menggila di Indonesia, Mudah Token Jangan Sampai Hilang

"Walaupun nanti beda-beda sedikit hargaya, kan tidak apa-apa.

Lebih baik kita berkorban sedikit biaya dari pada harus mengambil resiko," kata Martin.

Saat ditanya mengenai pembatasan kendaraan-kendaraan yang membawa sayur dari Tanahkaro, Martin menyebut pihaknya belum melakukan itu.

Katanya, kebijakan tersebut tidak bisa diputuskan secara tergesa-gesa.

TERUNGKAP Fakta 300 Siswa Setukpa Terinfeksi Virus Corona, Proses Belajar Terpaksa Dihentikan

"Semuanya masih normal. Untuk imbauan sosial distancing juga untuk semua masyarakat kami minta saling menjaga di semua tempat, tak hanya di pasar saja," ucapnya.

Martin menyebutkan, untuk saat ini masyarakat diminta tetap mengikuti arahan dari pihak yang bekompeten.

Karena jika nantinya masyarakat terlalu berani mengambil resiko, maka akan menimbulkan dampak yang lebih parah.

6 Gejala Infeksi Virus Corona yang Tidak Biasa, Lelah Tanpa Alasan hingga Kebingungan Parah

"Apa boleh buat, kita sekarang memang harus saling menjaga.

Memang tidak bisa seperti biasanya, tapi kalau kita tidak disiplin maka akan lebih parah lagi.

Marilah sama-sama kita sikapi dengan bijak," pungkasnya.(cr4)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved