Virus Corona

Pemandangan Menyedihkan RS Spanyol, Kamar Mayat Penuh, Dokter Pilih Pasien Muda untuk Diselamatkan

Banyak orang sekarat di ruang tunggu sebelum mereka bahkan dapat dirawat karena korban pandemi virus corona mengalahkan jumlah staf medis.

picture-alliance/abaca/Ipa/C. Carlo
Pasien Corona (Covid-19) Italia 

TRI BUN-MEDAN.com - Di ruang gawat darurat di salah satu rumah sakit terbesar di Madrid, Dr Daniel Bernabeu menandatangani sertifikat kematian untuk seorang pasien dan segera berbalik untuk membantu pasien lain yang tersedak.

Mengutip Bloomberg, pemandangan di ruangan tersebut sangat menyedihkan.

Banyak orang sekarat di ruang tunggu sebelum mereka bahkan dapat dirawat karena korban pandemi virus corona mengalahkan jumlah staf medis.

Dengan beberapa layanan pemakaman dihentikan di ibu kota Spanyol dan tidak ada ruang tersisa di kamar mayat, akhirnya, banyak mayat disimpan di gelanggang es utama.

Arab Saudi Lockdown Mekah Madinah dan Riyadh, Menag Akui Ibadah Haji 2020 Mungkin Ditunda

Detik-detik Polisi di Tobasa Bubarkan Adat Pernikahan Batak, tak Boleh Manortor dan Bersalaman

Misteri Tulisan Cakar Ayam Dokter, Sering Ditemukan pada Resep & Kode Obat, Rumusan Cara Membacanya

Bangsal perawatan intensif meluap dan aturan baru menentukan bahwa pasien yang lebih tua memiliki kesempatan untuk dibantu lebih rendah dibandingkan orang yang lebih muda.

Dr Bernabeu memberikan alasan, kelompok muda memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup.

"Kakek itu, dalam situasi lain, akan memiliki kesempatan. Tapi ada banyak dari mereka, semuanya sekarat pada saat yang sama," paparnya seperti yang dikutip Bloomberg.

Ketika Covid-19 menyapu benua itu, fokus virus corona beralih ke Spanyol.

 Jumlah kematian di negara berpenduduk 47 juta orang tersebut sekarang meningkat lebih cepat daripada di China, tempat virus itu pertama kali muncul, dan di Italia, tempat penyakit itu menyerang bulan ini.

Pihak berwenang Spanyol melaporkan 738 orang lainnya telah kehilangan nyawa mereka.

 Ini menjadikan Spanyol sebagai negara paling mematikan pada hari Rabu (25 Maret).

Sementara di tempat lain, sejumlah negara meluncurkan sejumlah kebijakan untuk menangani hancurnya perekonomian.

Kendati demikian, jumlah kematian harian turun menjadi 655 pada hari Kamis.

Secara total, korban tewas Spanyol sekarang sudah mencapai 4.089 kasus pada minggu ini, menyusul posisi China.

Perdana Menteri Pedro Sanchez memperingatkan penduduk bahwa sebagian besar dari mereka tidak pernah mengalami ancaman skala ini.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved