PANIK VIRUS CORONA, Sebabkan Harga Masker Meroket 15 Kali Lipat, Polisi Gerebek Lokasi Penimbunan

"Kalau kami dapati, kami akan tindak tegas,"ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jawa, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Iwan Kurniawan

(ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
Sejumlah warga membeli masker dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin (2/3/2020). Harga masker dan hand sanitizer di sentra alat kesehatan tersebut mengalami lonjakan dari 600 persen hingga 1.400 persen akibat permintaan konsumen yang meningkat drastis setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Kota Depok positif terinfeksi virus corona.(ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA) 

Kepanikan masyarakat perihal wabah virus Corona mengakibatkan masker langka. Bahkan, harga masker sudah meroket 15 kali lipat dari harga normal. Oleh karena itu, Polda Metro Jawa mengingatkan pelaku pasar tidak menimbun masker demi keuntungan besar.

TRIBUN-MEDAN.com - Kepolisian Daerah Metro Jaya memperingatkan para pelaku usaha alat kesehatan tidak menjadikan wabah virus Corona atau Covid-19 sebagai peluang memainkan harga masker. Apalagi, kepanikan masyarakat juga berpengaruh penting pada harga.

"Kalau kami dapati, kami akan tindak tegas," ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jawa, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Iwan Kurniawan saat melakukan inspeksi mendadak di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (4/3/2020).

Iwan mengingatkan para produsen, distributor, dan tenaga pemasar alat kesehatan untuk tidak memanfaatkan situasi mewabahnya Covid-19 guna meraup keuntungan pribadi.

Timbun Masker Untuk Dijual di Selandia Baru, Dua Mahasiswa Ditangkap Polisi

Ini Cara Artis Indonesia Jaga Diri dari Virus Corona, Ogah Salaman hingga Beli Masker Jutaan Rupiah

Sedangkan, Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Yusri Yunus menambahkan, petugas kepolisian memeriksa legalitas produk masker yang dijajakan di Pasar Pramuka. Jadi, masker yang beredar harus sesuai standar dan memiliki izin.

"Ini mengingat ada beberapa temuan masker tidak sesuai standar dan tidak ada izin Kementerian Kesehatan," ujarnya.

Yusri menyampaikan, Polda Metro Jaya menemukan masker diduga ilegal di Jakarta Barat dan Kota Tangerang. Lalu, polisi mendalami dugaan masker diproduksi tanpa izin seperti yang terjadi di kawasan pergudangan Central Cakung, Jakarta Utara. 

Selain itu, kata dia, harga masker naik lantaran masyarakat panik perihal merebaknya virus Corona. 

"Polsek Tanjung Duren sita 350 kardus masker berbagai merek di apartemen kawasan Grogol," ujarnya.

Sedangkan,Subbidang Penerangan Masyarakat Bidang Humas Polda Ajun Komisaris Besar, I Gede Nyeneng menambahkan, Dirkrimsus Polda Metro Jaya mengungkap dugaan penimbunan masker yang tidak memiliki izin edar dari Kementerian Kesehatan.

Pengungkapan dilakukan oleh tim Subdirektorat Industri dan Perdagangan Ditreskrimsus pada Selasa (3/2/2020) sekitar pukul 15.00.

"TKP (tempat kejadian perkara) di pergudangan sekitar Kecamatan Neglasari Tangerang. Banyaknya lebih kurang 600.000 lembar," ujar Gede.

Informasi yang santer berkembang, Gudang yang diduga menjadi tempat penimbunan masker tanpa izin edar itu merupakan gudang PT MJP Cargo, berlokasi di Jalan Marsekal Suryadarma, Kelurahan Selapanjang.

Adapun pemilik barang berinisial H dan D, dengan rincian H memiliki 360.000 lembar masker dan D 214.000 lembar.

Masker Langka di Medan, Apotek di Jalan Iskandar Muda Kehabisan Stok

LOKASI PENIMBUNAN MASKER Digerebek Polisi pasca-merebak Kabar Virus Corona, Ratusan Kardus Disita

Sebelumnya, Subdirektorat 2 Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kamis (27/2/2020) pukul 16.30, menggerebek gudang alat kesehatan di Central Cakung karena disalahgunakan sebagai pabrik ilegal guna memproduksi masker-masker tanpa izin.

Polisi menyita antara lain 60 kardus berisi total 3.000 boks masker siap edar, alat-alat produksi, bahan masker, serta dus dan boks kosong. Selain itu, 10 orang ditetapkan sebagai tersangka.

Meski demikian, Irwan, seorang pengelola apotek di Pasar Pramuka, menyatakan bahwa masker amat sulit didapatkan.

Ia kadang-kadang mesti menggunakan jalur tidak resmi agar bisa mendapatkan barang. Itu pun dengan harga melambung.

"Sekarang kami menjual Rp 300.000 per boks. Kami belinya sudah Rp 280.000-Rp 290.000 per boks," kata Irwan.

Padahal, di hari-hari sebelum virus korona merebak, ia menjual ke konsumen dengan harga hanya Rp 20.000 per boks. Setiap boks berisi 50 lembar masker. Kepanikan mendorong harga masker naik menjadi 15 kali lipat.

Ketua Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka Edy Haryanto menambahkan, gejolak harga masker juga sangat dipengaruhi perilaku konsumen.

Ia meyakinkan masyarakat bahwa stok masker tergolong terjamin asalkan masyarakat berbelanja secara wajar.

Keinginan membeli melebihi kebutuhan bisa dilihat oleh oknum sebagai kesempatan mengambil untung besar dari permainan harga.

"Jika saudara-saudara datang ke toko, sebenarnya stok barang cukup. Namun, ketika seperti akan membeli secara keseluruhan, banyak tangan yang bermain," ujar Edy.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul Polisi Tangkap Penimbun Masker dan Cairan Antiseptik di Semarang dan Polisi Sidak di Pasar Pramuka, Ingatkan Penjual Masker Ada Ancaman Pidana serta Polisi Gerebek Gudang yang Diduga Menimbun Masker di Tangerang

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved