Pengamat Politik Sebut Sabrina Mundur dari Sekda Disinyalir Ada Tekanan dari Atasan
Pengamat Politik, Anwar Saragih menilai rencana pengunduran diri Sabrina dari jabatan Sekda.
Penulis: Satia |
TRIBUN MEDAN.COM, MEDAN - Pengamat Politik, Anwar Saragih mengungkap dugaan penyebab pengunduran diri Sabrina dari jabatan Sekda.
Dirinya heran melihat Sabrina yang mau mengundurkan diri untuk menekuni bidang mengajar atau dosen.
Menurutnya kenapa dari awal Sabrina ngotot mengajukan diri untuk menjadi Sekda Sumut, jika akhirnya dia memilih untuk mundur.
Ia mengatakan, kemungkinan Sabrina mengundurkan diri, karena tidak tahan dengan desakan dari Gubernur Edy Rahmayadi dan Wakilnya Musa Rajekshah.
Di satu sisi, Sabrina juga adalah orang lama, yaitu diangkat semasa kepemimpinan Tengku Erry Nuradi.
Seharusnya, dari awal dilantik menjadi Gubernur, Edy Rahmayadi sudah harus mencari sosok sekda yang memiliki hubungan secara emosional bisa diterima oleh dua pimpinan Sumut.
"Sekda harus punya hubungan emosional dengan gubernur dan wakil gubernur, atau kedekatan. Sabrina ini adalah orang lama. Ketika ada asumsi, kurangnya keharmonisan dengan kedua pimpinan, dan akhirnya asumsi ini terjadi, Sabrina tidak tahan tekanan berada di antara dua orang pimpinan ini,"ujarnya, Kamis (6/2/2020).
Dengan adanya rencana ini, menurut dia, publik bisa menilai bahwa Sabrina tidak bisa menjalankan tugas dengan benar.
Artinya, jabatan sekda harus bisa menjadi penghubung antara pimpinan dengan kepala dinas untuk saling berkoordinasi.
Dirinya melihat, peran ini tidak terjadi.
"Mundurnya dia akan menjadi pemikiran lain, bahwa adanya kinerja yang tidak sejalan," ucapnya.
Anwar tak menduga, kalau alasan sekda mundur karena mau menjadi dosen, pastinya karena tidak tahan adanya desakan kinerja yang harus ditopangnya.
Sebab, kedua pimpinan ini memiliki pemikiran masing-masing untuk membangun Sumut.
"Kalau bekerja di bawah tekanan itu tidak masuk akal," ucapnya.
Selanjutnya, ia menyarankan kepada Gubernur Edy Rahmayadi dan Wakilnya Musa Rajekshah agar mencari sosok orang yang bisa mengisi jabatan sekda lebih layak lagi.
Artinya, sekda itu harus bisa menjadi penghubung kepada pihak internal atau pun eksternal.
"Jabatan sekda itu seharunya diisi oleh orang-orang yang memiliki kedekatan antara kedua tokoh ini, kalau itu secara politis ya," ujarnya.
(cr19/Tribun-Medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/sekda-sumut-sabrina-2.jpg)