Berawal dari Manisan Kurma Tomat Kemudian Berdiri Aliansi Pemuda Peduli
Terbentuk sejak 2014, Aliansi Pemuda Peduli (APP) semakin gencar menjalankan program-programnya di segala bidang.
TRIBUN-MEDAN.com - Terbentuk sejak 2014, Aliansi Pemuda Peduli (APP) semakin gencar menjalankan program-programnya di segala bidang.
Berawal dari ketertarikan dengan kegiatan sosial yang berdampak langsung bagi sekitar, Nanda, Founder Aliansi Pemuda Peduli ingin turut membangun gerakan relawan Medan melalui komunitas yang dibangunnya.
"Sebenarnya awalnya dulu saya memang suka dengan kegiatan-kegiatan sosial, dulu sempat gabung juga menjadi relawan di salah satu lembaga, tapi karena merasa ada yang nggak sejalan, saya mulai mencoba melakukan kegiatan sosial sendiri," ujar Nanda.
Ia mengaku mengawali perjalanannya sebelum membentuk APP dengan merealisasikan kepeduliannya terhadap desa terdampak letusan gunung Sinabung beberapa waktu lalu. Rela meninggalkan perkuliahan selama tiga bulan, Nanda memgabdikan diri di desa tersebut sebagai seorang guru mengaji pada awalnya.
"Sampai waktu itu gunung Sinabung meletus, saya putuskan untuk pergi ke sana, sendirian, awalnya sampai di sana bingung apa yang mau dibuat, jadi awalnya ngajar ngaji di mushola," katanya.
Menghabiskan waktu di desa, Nanda menemukan hal yang mengganjal yang harusnya bisa dijadikan potensi yang membangun masyarakat.
Para petani membuang tomat hasil berkebun karena tidak sesuai dengan permintaan pasar.
"Jadi waktu itu saya melihat tomat yang berukuran kecil-kecil tapi itu dibuang sama masyarakat sana. Saya heran dan bingung, kemudian saya tanya, ternyata mereka bilang itu tomat yang berbeda, nggak bisa digunakan. Sejak saat itu saya bawa semua tomatnya dan saya eksperimen untuk membuat kurma yang bahan bakunya tomat, ternyata berhasil dan laku dijual. Dari situ jadi berpikir ingin membangun sesuatu yang mungkin sifatnya lebih besar," jelasnya.
Sejak saat itulah, ujar Nanda, dirinya membangun komunitas bernama Aliansi Pemuda Peduli bersama beberapa orang temannya. Hingga kini Aliansi Pemuda Peduli terus aktif membuat kegiatan sosial.
"Untuk kegiatan kita itu ada yang kegiatan besar, ada juga kegiatan kecil. Yang besar itu sifatnya berkesinambungan. Seperti saat ini ada namanya Desa Literasi, program peduli pendidikan, dan yang terakhir peduli lansia," ujar Edy, CEO Aliansi Pemuda Peduli.
Untuk program Desa Literasi, Aliansi Pemuda Peduli fokus untuk melakukan penyuluhan terhadap bahaya narkoba, baik dari sisi anak maupun orang tua.
.Sementara untuk pendidikan APP ingin membantu anak-anak yang putus sekolah untuk tetap bisa mendapatkan ijazah melalui jalur alternatif.
Serta program peduli lansia ditujukan bagi lansia-lansia yang hidup sendirian dalam kondisi yang tidak layak.
"Jadi kegiatan-kegiatan kita itu intinya ingin berdampak nyata, memberikan perubahan tidak hanya dengan kata-kata," tambahnya.
Hingga kini, dalam perekrutan terakhir yang dilakukan, sebanyak 500 an orang mendaftar untuk menjadi relawan Aliansi Pemuda Peduli.
Dari 500 orang yang mendaftar, terang Edy, 392 yang dinyatakan lulus seleksi pertama, dan 120 orang yang lulus menjadi relawan APP.
"Sebenarnya yang kita harapkan bukan hanya kuantitas yang banyak, tapi juga bagaimana bisa membangun kualitas anggotanya sendiri, juga dampak yang diberikan," ujar Dedy.
Dengan jumlah relawan yang memadai serta sistem yang baik, Edy mengatakan bahwa program-program APP yang akan dijalankan menjadi lebih mudah untuk terealisasi.
Dirinya berharap Aliansi Pemuda Peduli dapat terus memberikan dampak yang baik khususnya bagi Kota Medan.
"Dengan anggota kita yang sekarang kita berharap gencar melakukan program-program yang sudah direncanakan. Jadi sekarang itu dalam satu minggu bisa saja ada dua atau tiga kegiatan. Harapannya sebenarnya bagaimana bisa memberi dampak yang nyata baik bagi masyarakat maupun bagi pribadi relawan itu sendiri," pungkasnya.
Wadah Kegiatan Sosial
Komunitas Aliansi Pemuda Peduli (APP) menjadi tempat anak muda Medan untuk berkegiatan sosial sekaligus menyiapkan diri sebelum memasuki dunia kerja.
CEO Aliansi Pemuda Peduli, Edy mengatakan bahwa sejak November 2019 APP mulai memfokuskan programnya tidak hanya di bidang sosial tetapi juga pengembangan internal para anggotanya.
"Jadi kita ingin mulai melakukan kegiatan-kegiatan pengembangan internal terhadap para relawan, misalnya digital marketing, desain, public speaking dan pelatihan lainnya yang bertujuan meningkatkan softskill anggota," ujarnya.
Rancangan sistem organisasi yang dibuat juga sudah memiliki standar khusus mengenai capaian-capaian yang harus dilakukan masing-masing anggota.
Edy mengatakan bahwa hal ini dilakukan karena menginginkan perkembangan individu di APP dan lebih siap menghadapi dunia kerja.
"Anggota kita itu dari anak SMA ada, yang kuliah juga ada. Jadi dengan sistem yang sekarang ini kita berharapnya mereka mendapatkan sesuatu dengan bergabung di APP, dan membuatnya tidak terkejut saat memasuki dunia profesional," tambah Edy.
Dalam perekrutan sendiri, Edy menerangkan bahwa APP juga menerapkan seleksi khusus yakni dengan melakukan training yang fungsinya untuk menilai masing-masing calon relawan yang mendaftar.
"Jadi kita inginnya itu yang tersaring dan bergabung menjadi anggota sesuai dengan kriteria yang kita inginkan, makanya kita lakukan training dengan program Buy and Share yang akan melihat kinerja mereka dengan standar yang sudah ditentukan," katanya.
Saat ini, melalui struktur yang ada di APP juga di desain untuk membiasakan anggota dengan ritme yang ada di sebuah perusahaan. Terdapat beberapa divisi yakni Marketing, Program, dan Human Resource.
"Melalui beberapa divisi ini kita inginkan mereka belajar manajemen yang teratur. Jadi masing-masing itu punya jobdesk dan Key Performance Indeks (KPI) untuk melatih mereka terbiasa dengan ritme bekerja di sebuah perusahaan. Harapannya dengan bergabung ada hal nyata yang bisa mereka ambil dari APP," pungkasnya.
(cr14)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/relawan-aliansi-pemuda-peduli-app-saat-berfoto-bersama-2.jpg)