TRIBUN-MEDAN-WIKI: Mengenal Sejarah dan Kemegahan Masjid Raya Al Mashun di Medan

Masjid Raya Al Mashun menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Medan.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Tribun Medan/Riski Cahyadi
Wisatawan foto bersama dengan latar belakang bangunan bersejarah Masjid Raya Al-Mashun, Medan, Sumatera Utara, Selasa (20/8/2019).Tribun Medan/Riski Cahyadi 

Sang arsitek JA Tingdeman merancang Masjid Raya Al Mashun dengan konsep denah simetris segi delapan dengan sentuhan corak campuran Maroko, Eropa, Melayu, dan Timur Tengah.

Konsep persegi delapan itu menghasilkan ruang bagian dalam yang unik, dan tidak seperti masjid kebanyakan di Tanah Air.

Di empat penjuru Masjid Al Mashun masing-masing diberi beranda dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid. Masing-masing beranda dilengkapi dengan pintu utama dan tangga hubung antara pelataran dengan lantai utama masjid yang ditinggikan, kecuali bangunan beranda di sisi mihrab.

Ruangan di bangunan masjidnya terbagi tiga yaitu menjadi ruang utama, tempat wudhu, gerbang masuk dan menara.

Ruang utama berfungsi untuk tempat salat, yang berbentuk segi delapan tidak sama sisi. Pada sisi berhadapan lebih kecil, terdapat ‘beranda’ serambi kecil yang menempel dan menjorok keluar.

Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca-kaca patri yang sangat berharga, sisa peninggalan Art Nouveau periode 1890-1914, yang dipadu dengan kesenian Islam. Seluruh ornamentasi di dalam masjid baik di dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan yang kaya dengan hiasan bunga dan tumbuh-tumbuhan.

Di depan masing-masing beranda terdapat tangga. Kemudian, pada segi delapan tadi, pada bagian luarnya tampil dengan empat gang pada keempat sisinya, yang mengelilingi ruang salat utama.

Gang-gang ini punya deretan jendela-jendela tak berdaun yang berbentuk lengkungan-lengkungan yang berdiri di atas balok. Baik beranda dan jendela-jendela lengkung itu mengingatkan desain bangunan kerajaan-kerajaan Islam di Spanyol pada Abad Pertengahan.

Sementara, kubah mesjid mengikuti model Turki, dengan bentuk yang patah-patah bersegi delapan. Kubah utama dikitari empat kubah lain di atas masing-masing beranda, dengan ukuran yang lebih kecil.

Lalu, di bagian dalam masjid, terdapat delapan pilar utama berdiameter 0,60 m yang menjulang tinggi untuk menyangga kubah utama pada bagian tengah. Adapun mihrab terbuat dari marmer dengan atap kubah runcing.

Gerbang mesjid ini berbentuk bujur sangkar beratap datar. Sedangkan menara mesjid berhias paduan antara Mesir, Iran dan Arab. Dari kemegahan dan keunikan serta cantiknya arsitektur masjid ini tak terlepas dari bahan-bahan bangunan.

Sebab, sebagian bahan bangunan diimpor dari luar negeri. Seperti marmer, untuk dekorasi yang diimpor dari Italia, Jerman, kaca patri yang berasal dari China, dan lampu gantung langsung dari Perancis.

Fasilitas Masjid Raya Al Mashun

Masjid Raya Al Mashun ini dapat menampung lebih kurang 2.000 jemaah. Masjid ini dilengkapi berbagai fasilitas, seperti parkir, taman, tempat penitipan sepatu dan sandal, kantor sekretariat, penyejuk udara (AC), sound system dan multimedia, kamar mandi wc, tempat wudhu, dan sarana ibadah.

Adapun kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan pengurus masjid, yaitu Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam dan Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved