Jemaat GJAI Gelar Perayaan Hari Raya Akhir Tahun
Sedikitnya 2.000 jemaat Gereja Jemaat Allah Indonesia (GJAI) menghadiri Perayaan Hari Raya Akhir Tahun di Pardede Hall, Kota Medan
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang | Editor: Juang Naibaho
Jemaat GJAI Gelar Perayaan Hari Raya Akhir Tahun
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sedikitnya 2.000 jemaat Gereja Jemaat Allah Indonesia (GJAI) menghadiri Perayaan Hari Raya Akhir Tahun di Pardede Hall, Kota Medan, Kamis (26/12/2019).
Hingga saat ini ada lebih dari 130 GJAI yang tersebar di Sumatera Utara seperti Kota Medan, Deliserdang, Tanah Karo, Tapanuli, bahkan hingga Pekanbaru.
"Hari ini secara keseluruhan kita melaksanakan Perayaan Hari Raya Akhir Tahun yang selama ini biasa disebut Natal. Perayaan ini sangat erat kaitannya dengan hasil bumi. Karena itu yang tertulis dalam Alkitab," ujar Sekretaris Jenderal GJAI Pdt Dr Immanuel Munthe MSi MT.
Para jemaat yang hadir membawa hasil tanaman, berbagai jenis buah dan sayur. Ada pisang, daun ubi, singkong, dan lain sebagainya. Hasil tanaman ini disusun sehingga berbentuk seperti pohon Natal.
“Ada yang memasang pohon terang, itukan budaya dari Barat sana. Jadi kita kembalikan saja seperti ini. Di Jawa ada pesta buah, dimana buah disusun dan digotong oleh masyarakat. Lalu masyarakat mengambil. Kenapa kita tidak melakukan hal yang sama dan itu juga ada di Alkitab," ujarnya.
Usai perayaan tersebut, anak-anak tampak menghampiri buah dan sayur yang disusun menyerupai pohon tersebut. Mereka mengambil dan mencicipi buah dan sayuran ini. Selain itu buah dan sayuran ini juga dibagikan kepada jemaat.
"Perayaan Natal kan sudah umum, tapi ada yang lebih spesifik tapi mulai dilupakan yaitu Hari Raya Akhir Tahun. Buah dan sayur ini merupakan hasil usaha dari ladang. Kalau dulu kan enggak ada bisnis, adanya ladang semua. Sedangkan zaman sekarang, kalau jemaat yang tidak berprofesi sebagai petani bisa beli hasil pertanian lalu di bawa ke tempat ini," jelasnya.
Ia mengatakan dalam Alkitab Tuhan memerintahkan agar umat mengadakan tiga kali perayaan hari raya. Yang pertama adalah Hari Raya Pengumpulan Hasil Akhir yang disebut juga dengan Hari Raya Akhir Tahun. Lalu ada Hari Raya Paskah dan Perayaan Hari Raya Menuai yang dilakukan di awal tahun
"Saya hanya mengingatkan kembali bahwa Tuhan juga sudah memerintahkan ada perayaan pada awal tahun, pertengahan tahun, dan akhir tahun. Tahun ini untuk Perayaan Hari Raya Akhir Tahun, temanya adalah Mengalahkan Dunia," katanya.
Tema ini dipilih mengingat bahwa Tuhan sudah mengalahkan dunia jadi umat manusia juga harus mengalahkan dunia. Ia mengatakan pertarungan yang sebenarnya ada di dalam nafsu manusia itu sendiri.
"Jika pertarungan itu masih ada, berarti kita belum menang. Kalau perang terus kapan menangnya. Dalam diri kita yang baik dan jahat perang terus. Jadi pertarungan itu harus dituntaskan. Nafsu kita harus kita kalahkan. Caranya mengalahkan nafsu adalah pikiran dan roh kita dibaharui," ujarnya.
Immanuel mengatakan setiap tahun perayaan ini dilakukan secara besar-besaran. Tahun lalu jemaat GJAI juga menyelenggarakan Perayaan Hari Raya Akhir Tahun di Pardede Hall. Perbedaannya hanya dalam firman Tuhan yang dibagikan untuk jemaat.
"Tahun lalu temanya Supaya Dunia Tahu, tahun ini Mengalahkan Dunia. Kita memang harus mengalahkan dunia. Kalau tidak kita kalahkan bisa kacau. Dunia ini yang mengalahkan kita," ujarnya.
Ia berharap memasuki tahun yang baru, jemaat GJAI hidupnya semakin bagus dan cara hidupnya semakin serupa seperti yang Tuhan kehendaki. Sehingga melalui perayaan ini ada perubahan yang tampak dari karakter masing-masing jemaat.
"Yang lebih penting lagi rohnya yang dibaharui. Jika rohnya berubah karakternya pasti berubah. Kalau tidak akan jadi munafik. Karakternya dibuat-buat tapi didalam busuk semua. Kita berharap di tahun yang baru semuanya bisa semakin hidup seperti Tuhan" pungkasnya. (cr18/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/perayaan-hari-raya-akhir-tahun-gjai.jpg)