OVO Disebut Bakar Duit hingga Saham Lippo sebagai Pendiri Susut 70 Persen, Penjelasan Presdir OVO

#OVO Disebut Bakar Duit hingga Saham Lippo sebagai Pendiri Susut 70 Persen, Penjelasan Presdir OVO

Editor: Tariden Turnip
tribunnews.com
OVO Disebut Bakar Duit hingga Saham Lippo sebagai Pendiri Susut 70 Persen, Penjelasan Presdir OVO. Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra 

#OVO Disebut Bakar Duit hingga Saham Lippo sebagai Pendiri Susut 70 Persen, Penjelasan Presdir OVO 

Presiden Direktur PT Visionet International (OVO) Karaniya Dharmasaputra menanggapi pernyataan Mochtar Riadi yang menyebut OVO bakar duit hingga sahamnya susut 70 persen.

Pendiri Lippo Group Mochtar Riady mengakui bahwa pihaknya harus rela menjual lebih dari 70 persen aset saham yang ada pada aplikasi penyedia layanan digital OVO.

Ovo, penyedia layanan pembayaran elektronik besutan Grup Lippo, ditaksir memiliki valuasi sebesar 2,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 41 triliun oleh firma analis perusahaan CB Insight.

Angka tersebut, menurut CB Insight, sudah dicapai sejak 14 Maret 2018.

Ovo pun menjadi startup kelima dari Indonesia yang digelari “unicorn”, mengacu pada valuasi di atas 1 miliar dollar AS.

Empat unicorn lainnya adalah Gojek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka.

Dari kesemuanya, Gojek memegang valuasi paling tinggi dengan nilai di atas 10 miliar dollar AS sehingga disebut pula dengan julukan lain, yakni “decacorn”.

Pendiri Lippo Group Mochtar Riady mengatakan saat ini, saham Lippo di PT Visionet International (OVO) hanya tersisa 30 persen.

"Bukan melepas, tapi kita menjual sebagian.

Sekarang tinggal 30 sepersekian persen, dua per tiga kita harus jual," kata pendiri Lippo Group, Mochtar Riady ketika ditemui di Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Pelepasan aset saham tersebut memang harus dilakukan oleh Lippo Group, lantaran selama ini terus melakukan bakar uang.

"Karena terus bakar uang, bagaimana kita kuat," ungkapnya.

Mochtar Riady (Pendiri Lippo Group) dalam sambutan saat meresmikan gedung baru Mochtar Riady Social & Political Research Center? di lingkungan FISIP UI bertepatan Hari Pendidikan Nasional (2/5/2019).
#OVO Disebut Bakar Duit hingga Saham Lippo sebagai Pendiri Susut 70 Persen, Penjelasan Presdir OVO . Mochtar Riady (Pendiri Lippo Group) dalam sambutan saat meresmikan gedung baru Mochtar Riady Social & Political Research Center? di lingkungan FISIP UI bertepatan Hari Pendidikan Nasional (2/5/2019).

Melansir kontan.co.id, Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra menanggapi pernyataan Mochtar Riadi.

Pihak OVO mengaku yang dilakukan Lippo bukanlah melepaskan sahamnya tapi terdilusi.

Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra menyatakan OVO memang didirikan oleh Lippo.

Namun layaknya start up teknologi lainnya, OVO terus mencari pendanaan atau fundrising. Langkah ini membuat terjadi perusahaan struktur pemegang saham.

“Komposisi pemegang saham jadi sangat beragam dan Lippo masih jadi pemegang saham OVO.

Alasannya (Lippo) sebetulnya kan kalau investasi ada dua pilihan, ketika perusahaannya membutuhkan capital (modal) baru, maka ada dua pilihan apakah ikut menambah kepemilikan saham atau tidak ikut.

Bila tidak ikut maka otomatis sahamnya terdilusi. Juga bisa pilihan exit. Itu pilihan investor,” jelas Karaniya pada acara Indonesia Digital Conference di Jakarta pada Kamis (28/11/2019).

Ia juga menepis isu bahwa terdilusinya saham Lippo lantaran langkah OVO melakukan promosi atau bakar-bakar uang.

Sebelumnya beredar kabar langkah ini turut membebani keuangan Lippo.

Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra
#OVO Disebut Bakar Duit hingga Saham Lippo sebagai Pendiri Susut 70 Persen, Penjelasan Presdir OVO . Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra (tribunnews.com)

Karaniya menyatakan proses promosi merupakan hal yang lumrah.

Ia menyebut pada dunia teknologi, bisnis modelnya baru tidak sama dengan bisnis konvensional.

Sehingga dalam periode tertentu, dibutuhkan pemasaran.

“Dulu e-commerce awalnya juga lakukan pemasaran yang besar.

Ride hailing juga gitu, sekarang karena eranya fintech jadi setiap perusahaan fintech berupaya mengedukasi publik untuk mulai menggunakan layanan fintech,” ujar Karaniya.

Ia juga menyatakan hingga saat ini belum ada kepastian bahwa OVO akan dimerger dengan PT Espay Debit Indonesia Koe (DANA).

DANA sendiri merupakan bisnis uang elektronik milik PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

“Diambil Emtek dan merger dengan DANA. Itu kan masih isu.

Saya juga bekas wartawan itu kan sumbernya anonim.

Sampai sekarang belum ada kepastian rumor tersebut.

Pembicaraan pasti dilakukan, semua perusahaan teknologi secara berkala melakukan fundrising. Itu wajar dan memang seperti itu bisnis model teknologi,” tutur Karaniya.

Sebelumnya Direktur OVO Harianto Gunawan bilang terdapat tiga transaksi paling besar dan menjadi fokus di OVO itu ada transportasi, transaksi e-commerce, dan ritel termasuk food and beverages.

Tak heran untuk transportasi, OVO telah bekerja sama dengan Grab yang juga menjadi decacorn di Asia Tenggara.

Sedangkan untuk transaksi e-commerce OVO telah bekerja sama dengan unicorn Indonesia yakni Tokopedia.

Selain itu, OVO memiliki layanan pinjaman kepada para pengguna dengan menggandeng peer to peer lending Taralite.

Produk ini sudah diluncurkan sejak Mei 2019 lalu.

Sebelumnya, muncul kabar yang menyebut bila Lippo Group akan hengkang dari OVO karena tidak kuat lagi menyuntik dana.

Untuk OVO, Lippo Group harus mengeluarkan biaya 50 juta dollar AS (Rp 700 miliar) per bulan.

Kabar ini pun langsung dibantah oleh Presiden Direktur PT Visionet Internasional (OVO) Karaniya Dharmasaputra.

Menurut Karaniya, OVO adalah perusahaan penyedia layanan keuangan digital yang didirikan, dirintis, dan dikembangkan oleh Lippo Group.

Saat ini, para pemegang saham OVO sudah sangat beragam seiring meningkatnya kinerja OVO pada dua tahun terakhir.

Bahkan dirinya sudah berdiskusi panjang lebar dengan Direktur Lippo Group John Riady, guna mengembangkan OVO ke depan.

Dia mengatakan, beberapa hari terakhir muncul rumor yang sangat merugikan eksistensi OVO dan Lippo Group.

Ovo menjadi layanan dompet digital yang masuk daftar 5 besar di Indonesia, menurut survei iPrice Group.

Adapun 5 besar aplikasi dompet digital di Indonesia dengan pengguna terbanyak, secara berurutan adalah Go-Pay, OVO, Dana, LinkAja, dan Jenius.

Sementara, jumlah unduhan aplikasi terbanyak dipegang oleh Go-Pay, OVO, Dana, LinkAja, dan i.saku.

STARTUP BAKAR DUIT AWAS BUBBLE 

Perusahaan rintisan atau startup memiliki celah kegagalan cukup besar dan berpotensi menimbulkan gelembung (bubble) ekonomi.

Startup pada umumnya masih dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Adapun sebagian besar startup berbisnis di industri digital.

"Dalam pandangan saya fenomena gelembung spekulatif dalam bisnis startup ini mulai muncul. Tinggal tunggu gelembungnya meletus," kata Direktur Generasi Optimis Research and Consulting (GORC), Frans Meroga Panggabean, dalam pernyataan tertulis, Selasa (26/11/2019).

Sebelumnya, perusahaan rintisan sewa properti WeWork, memangkas 2.400 karyawannya guna memotong biaya dan pengeluaran perusahaan yang cukup besar.

Setelah memecat sejumlah karyawan, WeWork berupaya untuk menciptakan organisasi yang lebih efisien dan memfokuskan kembali pada bisnis inti perusahaan.

Pengurangan pekerja mewakili 19 persen dari total tenaga kerja WeWork yang berjumlah 12.500 karyawan per 30 Juni 2019 dilansir CNBC, Jumat (22/11/2019) lalu.

New York Times melansir, tidak kurang dari 1,25 miliar dollar AS adalah kerugian yang diderita WeWork, startup decacorn yang berbasis di New York itu.

Nilai valuasi perusahaan rintisan tersebut yang semula mencapai 50 miliar dollar AS merosot menjadi hanya kurang dari 5 miliar dollar AS.

Tak hanya itu, Softbank Group raksasa investasi dari Jepang juga sebagai investor utama dari WeWork dan Uber menyatakan merugi sampai Rp 100 triliun akibat anjloknya nilai valuasi Uber dan WeWork.

Frans menyebutkan bisnis digital yang selama ini dianggap sebagai lokomotif ekonomi terdepan dalam era industri 4.0 mulai berjatuhan satu demi satu.

“Bahkan Forbes pernah merilis angka kegagalan dalam bisnis startup itu mencapai 90 persen,” ujar dia.

Dalam riset GORC, ia melanjutkan, gejala latah bisnis digital ini hampir sama seperti yang terjadi pada 2000.

Saat itu, banyak perusahaan internet yang sempat mempunyai nilai triliunan berakhir gagal tanpa nilai sama sekali.

“Fenomena ini dikenal dengan internet bubble. Pets.com bangkrut, diikuti dengan Boo.com, Webvan, hingga semua saham perusahaan internet turun 75 persen,” ujarnya.

Strategi jitu Frans menilai bisnis startup tidak mempunyai modal sosial yang kuat dalam ekosistem bisnisnya.

Strategi bakar uang akan terus dilakukan demi tetap eksis dalam persaingan karena pasar hanya loyal terhadap harga dan promo serta diskon.

“Itu akan selalu menjadi lingkaran setan yang tidak ada habisnya jika sebuah startup baru berusaha masuk dalam suatu pasar,” ujarnya.

Menurut Frans, strategi yang benar seharusnya bangun modal sosial yang kuat terlebih dahulu dalam sebuah ekosistem, dengan melibatkan semua stakeholder untuk berkomitmen membesarkan usaha yang ada untuk kesejahteraan bersama.

Ia berpendapat, dukungan aplikasi digital hanyalah sebagai enabler dan akselerator setelah modal sosial tertanam dengan kuat antar semua pemangku kepentingan.

"Jangan terbalik, seharusnya aplikasi digital baru dipakai sebagai kemasan untuk membantu dan mempercepat pencapaian tujuan usaha setelah hubungan antar semua peran dalam rantai pasok sudah terjalin dengan solid," ucap dia.

##OVO Disebut Bakar Duit hingga Saham Lippo sebagai Pendiri Susut 70 Persen, Penjelasan Presdir OVO 

Artikel ini dikompilasi dari Kompas.com dengan judul "Mochtar Riyadi: Kami Terus Bakar Uang di OVO, Mana Kuat..." "Startup Terus Bakar Uang, Waspadai Bubble Ekonomi", dari kontan.co.id berjudul: Lippo lepas 70% kepemilikan sahamnya, OVO jelaskan duduk perkaranya

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved