Isu Ikan Makan Bangkai Babi

BREAKING NEWS: Marak Isu Ikan Makan Bangkai Babi, Pemilik Bagan Percut: Kami Seperti Terzolimi

Bagan Percutseituan, yang biasa ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, semenjak terjadinya isu ikan makan bangkai babi

TRIBUN MEDAN/M FADLI TARADIFA
Kondisi pasar ikan di bagan Percutseituan terlihat sepi, Jumat (22/11/2019). 

Kampanyekan Makan Ikan

Dinas Perikanan dan Kelautan Pemkab Deliserdang berencana untuk mengkampanyekan enaknya makan ikan laut.

Hal ini lantaran saat ini masih banyak masyarakat yang ragu untuk mengkonsumsi ikan laut pascaadanya kejadian pembuangan dan ditemukannya bangkai babi di muara sungai.

Selain di kawasan Kecamatan Percut Seituan temuan bangkai babi itu juga sempat ditemukan di berbagai daerah lainnya.

Kadis Perikanan dan Kelautan Deliserdang, Zaky Aufa menyebut sebelum dilakukan kampanye nikmatnya makan ikan mereka juga akan memanggil sejumlah pihak.

Mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama, Nelayan, Dinas Pertanian hingga Dinas Kesehatan akan diundang untuk didudukkan bersama.

Ia tidak ingin ketika kampanye dilakukan ternyata masih ada persepsi atau pandangan yang berbeda.

" Masalah ini adalah tanggungjawab bersama jadi bukan dinas kita saja. Hari Jum'at pertemuannya di kantor Bupati. Teman-teman wartawan juga akan kita undang nanti mohon kalian bantu jugalah untuk mempublikasikannya. Nantikan ulama-ulama kita itu tau dalil-dalilnya seperti apa. Karena tidak semuanya juga apa yang didengar oleh orang-orang selama ini itu benar," kata Zaky Rabu, (20/11).

Mantan Camat Percut Seituan ini menyebut telah menerima keluhan dari nelayan akan penjualan hasil tangkapan mereka.

Bersama itu ia dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) sudah turun ke lapangan melihat bagaimana kondisi lapangan.

Perlu didengar nanti keterangan nelayan bagaimana sebenarnya mereka mendapatkan ikan di laut.

" Kalaulah seperti ikan dencis contohnya itukan carinya itu jauh nelayan bisa sampai 9 mil. Sementara bangkai (babi) itukan dipinggirannya. Jadi itulah gunanya kita undang supaya ada steadmen dari masing-masing pihak. Biar para ulama ikut menyampaikan apa pendapat mereka nanti tentang ini. Kita kumpulkan dulu lah apa pendapat masing-masing pihak. Kalau sudah ada persepsi yang sama nanti baru kita kampanye makan ikan bersama di pinggir pantai atau di Bagan Percut contohnya," kata Zaky.

Ia berpendapat bahwa virus hot cholera yang menyerang babi tidaklah berpengaruh pada manusia.

Ia juga mengaku sangat menyayangkan banyak berita atau informasi yang berlebihan sehingga berpengaruh pada perekonomian nelayan. Karena kejadian dan penemuan bangkai babi juga sudah lama.

Ketua HNSI Deliserdang, Rahmadsyah mengaku kalau saat ini para nelayan sangat terpuruk.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved