Kisah Para Perempuan yang Hancur karena Dianggap Tidak Perawan saat Malam Pertama

Berikut ini adalah potret para perempuan dari berbagai kalangan usia, yang kehidupannya berbalik setelah mereka menikah

dok
Ilustrasi pernikahan 

Saya tidak bisa menduga apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Saya tidak mempercayai lagi seseorang yang memutus hubungan yang sudah dibina bertahun-tahun dalam hitungan detik.

Setelah terdiam sejenak, Somayya menambahkan: "Sebenarnya, saya tidak tahu bagaimana menggambarkan keadaan saya dan bagaimana perasaan saya kepadanya setelah malam itu, tetapi saya tidak tahan untuk hidup bersamanya, setelah ia mengecilkan keberadaan saya hanya karena soal selaput dara. Pada akhirnya, saya adalah manusia, bukan selaput dara ".

Sejak itu, kondisi psikologis Somayya memburuk. Ia menghindari orang-orang dan mengurung diri. Ia merasa seolah-olah tengah memainkan peran gender tradisional, seorang istri yang lemah tanpa suami.

Selama tiga bulan berikutnya, beberapa kali ia enggan berhubungan seks dengan suaminya. "Ketika ia melakukan penetrasi, rasa jijik menguasai saya," katanya. "Saya tidak menginginkannya, dan tidak merasakan apa-apa, karena hasrat saya telah padam malam itu. Saya hanya akan menunggunya menyelesaikannya dan meninggalkan saya sendirian. Berhubungan seks dengannya terasa kotor dan curang, karena itu tak lebih dari sebuah tugas dan tugas yang harus saya lakukan, bukan tindakan cinta. "

Ilustrasi Pernikahan
Ilustrasi Pernikahan (Google/net)

Nasihat malam pernikahan

Di lingkungannya, kasus Somayya bukanlah suatu hal yang langka, masih banyak kasus seperti Somayya yang tertutup rapat-rapat, mereka menjaga diri dan menghindari cemoohan serta penilaian masyarakat.

Tetapi kemudian anak-anak serta keluarga dipengaruhi oleh kurangnya keterbukaan untuk membahas masalah ini secara bebas dan terus terang.

Amal al-Hamid, seorang psikiater, berbicara kepada BBC tentang keadaan psikologis seorang perempuan pada malam pernikahannya. Ia menawarkan bantuan kepada pasangan-pasangan yang akan menikah agar terhindar dari berbagai masalah yang tak terduga: "Masyarakat kami tidak terbiasa dengan berbagai bantuan psikiater."

Al-Hamid yakin sesi konseling pranikah dapat membantu memastikan awal yang bahagia untuk perjalanan sebuah pernikahan, yang intinya terletak pada dialog dan pemahaman.

"Para pasangan harus melakukan konseling supaya mendapat informasi yang berguna dan relevan, dan bisa bertanya soal apa pun, tentang keintiman mereka, berbagai jenis selaput dara, dan bagaimana memastikan penetrasi tidak menimbulkan bekas luka pada perempuan, sehingga menjadi malam yang menyenangkan."

"Sayangnya," lanjut al-Hamid, "banyak orang berpikir mereka tahu banyak tentang keadaan psikologis dan fisiologis perempuan yang baru menikah, namun ternyata malah sebaliknya, kurang berpengalaman.

"Dalam banyak kasus," tuturnya mengamati, "masalah seperti itu tidak ditangani, dan dibiarkan membusuk dari waktu ke waktu, hanya menambah kerumitan dalam jangka panjang."

Bukti kesucian

BBC bertanya kepada 20 pria tentang bagaimana reaksi mereka seandainya mereka mendapati diri mereka dihadapkan pada "tidak ada tanda keperawanan" saat pertama kali berhubungan intim.

Para laki-laki dengan rentang usia antara 20 dan 45, dengan status menikah dan lajang terdiri dari para akademisi, dokter, guru dan mereka memiliki "pikiran terbuka" terhadap permasalahan tersebut.

Sumber: bbc
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved