Pasukan Suriah Bergerak ke Perbatasan untuk Membantu Milisi Kurdi Melawan Turki, Ini Ancaman Trump

Pasukan pemerintah Suriah bergerak ke perbatasan Turki setelah menjalin kesepakatan dengan milisi Kurdi

Editor: AbdiTumanggor
AFP/OZAN KOSE
Warga sekitar memandang kepulan asap yang membubung dari kota Suriah Ras al-Ain dari perbatasan Turki Ceylanpinar pada 11 Oktober 2019. 

TRIBUN-MEDAN.Com - Pasukan pemerintah Suriah bergerak ke perbatasan Turki setelah menjalin kesepakatan dengan milisi Kurdi sehari sebelumnya.

Tentara melambaikan bendera Suriah bergerak ke Tall Tamr, tak jauh dari Ras al-Ain, kota yang menjadi target Turki dan sekutunya.

Tall Tamr berlokasi sekitar 30 km dari perbatasan.

Namun Observatorium untuk HAM Suriah (SOHR) menyebut, pasukan pemerintah Suriah ada yang bergerak hingga jarak enam km.

Dilaporkan AFP Senin (14/10/2019), kedatangan mereka disambut oleh warga lokal, dengan televisi setempat menayangkan momen saat mereka dielu-elukan.

Berdasarkan pemberitaan media yang mengutip sumber Damaskus, pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad juga bakal ditempatkan di Manbij dan Kobane.

Pada 9 Oktober, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan Operation Peace Spring untuk menggempur milisi Kurdi di perbatasan Suriah.

Ankara menuding Kurdi yang tergabung dalam Unit Perlindungan Rakyat (YPG) merupakan teroris.

Sebab, mereka dianggap berhubungan dengan Partai Rakyat Kurdistan (PKK) yang berkonflik sejak 1984.

Operasi itu terjadi setelah Amerika Serikat (AS) mengejutkan Kurdi maupun dunia dengan mengumumkan penarikan pasukan dari utara Suriah.

Presiden Donald Trump mendapat tekanan karena dia dianggap memberikan jalan bagi Ankara dan pemberontak yang didukungnya untuk menyerang Kurdi.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin oleh Kurdi kemudian menyatakan menjalin aliansi dengan pemerintahahan Assad.

Komandan SDF Mazloum Abdi dalam tulisannya di Foreign Policy menyebut, dia tidak percaya dengan Damaskus maupun sekutunya, Suriah.

"Malah sejujurnya, sulit bagi kami percaya siapa pun. Namun jika diminta memilih antara kompromi dengan genosida rakyat kami, saya jelas memilih hidup rakyat," kata Abdi.

Abdi mengomentari keputusan Trump dengan menarik pasukan dari utara Suriah diibaratkannya sebagai "menusuk dari belakang".

Dalam kicauannya di Twitter, Trump menyatakan adalah keputusan pintar AS memilih tidak terlibat dalam operasi militer Ankara di perbatasan.

Setidaknya sekitar 785 orang yang diduga berafiliasi dengan ISIS melarikan diri dari kamp Ain Issa menyusul pemboman dari Turki.

SDF mengatakan, mereka menjaga sekitar 12.000 anggota ISIS di tujuh penjara, dengan 4.000 di antaranya adalah warga asing.

Ancama Donald Trump pada Turki

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam bakal menghancurkan ekonomi Turki jika negara tersebut "melampaui batas" dalam melancarkan operasi militer ke Suriah.

Sebagaimana terungkap pada serangkaian cuitannya, Trump membela keputusannya untuk menarik pasukan AS dari bagian timur laut Suriah sehingga Turki dapat mengerahkan militernya untuk menyerang milisi Kurdi.

Keputusan Trump itu disebut sebuah kelompok Kurdi sebagai "tikaman ke punggung" mengingat milisi Kurdi adalah sekutu utama AS dalam mengalahkan ISIS di Suriah.

Berbagai kalangan juga mengritik keputusan Trump yang dinilai dapat membangkitkan kekuatan ISIS.

Setelah dihujani kritik, Trump mengunggah sederet cuitan. Dalam cuitan-cuitan itu, Trump memperingatkan Turki untuk tidak mengambil keuntungan dari keputusannya—yang bertentangan dengan nasihat para pejabat senior di Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS.

Trump menekankan bahwa dirinya bisa "menghancurkan dan memusnahkan" ekonomi Turki.

https://twitter.com/realDonaldTrump/status/1181232249821388801

Tahun lalu, AS meningkatkan bea masuk pada produk-produk Turki sekaligus menerapkan beragam sanksi terhadap sejumlah petinggi Turki.

Namun, setelah Trump berbincang dengan President Turki, Recep Tayyip Erdogan, Gedung Putih sepakat menarik mundur pasukan AS di Suriah utara.

Trump berkata sudah saatnya "keluar dari perang tak berkesudahan yang mengada-ada ini, kebanyakan perang suku" dan "Turki, Eropa, Suriah, Iran, Irak, Rusia, dan Kurdi harus menyelesaikan sendiri situasinya".

suriah

Kantor kepresidenan Turki mengatakan Presiden Erdogan dan Presiden Trump telah berbincang melalui telepon mengenai rencana Turki untuk mendirikan "zona aman" di bagian timur laur Suriah.

Langkah itu dipandang perlu untuk memerangi "teroris" sekaligus menciptakan "kondisi-kondisi yang penting bagi kembalinya pengungsi Suriah ke negara asal mereka".

"Semua persiapan untuk operasi telah rampung," cuit Kementerian Pertahanan Turki.

Belakangan, juru bicara Pentagon, Jonathan Hoffman, mengatakan "Departemen Pertahanan telah membuat jelas kepada Turki—dan kepada presiden—bahwa kami tidak mendukung operasi Turki di Suriah Utara."

'Menuju bencana'

Ketua Senat AS, Mitch McConnell, yang merupakan petinggi Partai Republik di Kongres AS, adalah salah seorang politikus yang mengritik keputusan Trump.

Menurutnya, "penarikan pasukan AS dari Suriah hanya akan menguntungkan Rusia, Iran, dan rezim Assad".

McConnell juga mengatakan bahwa mayoritas anggota Senat risau dengan ancaman kelompok milisi Islam di Suriah sehingga mereka mendukung keberadaan pasukan AS di sana. "Kondisi yang menghasilkan keputusan bipartisan masih eksis hingga sekarang."

Lindsey Graham, senator Republik dan sekutu erat Trump, menyebut keputusan Trump "menuju bencana". Graham menekankan dirinya akan mengakukan resolusi di Senat yang menentang keputusan itu dan menuntut agar keputusan ditarik.

Reaksi berbagai individu lainnya:

  • Nikki Haley, mantan duta besar AS untuk PBB, mengatakan suku Kurdi "sangat penting dalam pertempuran yang sukses melawan " ISIS sehingga "meninggalkan mereka untuk mati adalah kesalahan besar".
  • Ketua DPR, Nancy Pelosi, mengatakan presiden "harus menarik balik keputusan yang berbahaya ini". Presiden Trump, menurutnya, "sembrono" dan "salah arah"
  • Kino Gabriel, juru bicara Pasukan Demokratik Suriah sokongan Kurdi (SDF) - yang menduduki bekas teritori ISIS di timur laut Suriah- mengatakan kepada stasiun televisi berbahasa Arab al-Hadath bahwa langkah Trump merupakan "sebuah kejutan dan kami bisa bilang itu tikaman pada punggung untuk SDF".
  • Brett McGurk, mantan utusan khusus presiden AS untuk koalisi melawan ISIS, mengatakan keputusan Trump menunjukkan "ketidakpahaman sama sekali mengenai apa yang terjadi di lapangan."

Artikel telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Trump ancam akan 'musnahkan ekonomi Turki' terkait rencana operasi militer ke Suriah dan Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul: Sepakat Bantu Kurdi Hadapi Turki, Pasukan Pemerintah Suriah Bergerak ke Perbatasan

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved