Tewasnya Pengawal Raja Salman, Begini Situasi Politik di Kerajaan, Hingga Putra Mahkota Bersumpah. .

Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah bersumpah untuk mengubah negara kerajaan menjadi negara modern.

Editor: AbdiTumanggor
twitter/saudi_gazette
Raja Salman (di kursi roda) dan Putra Mahkota (paling kiri) saat Sholat Id di Masjidil Haram, Selasa (4/5/2019) lalu. 

Mohammed telah bersumpah untuk mengubah negara kerajaan menjadi negara modern.

Simak juga situasi politik di kerajaan pascatewasnya pengawal pribadi Raja Salman. 

Jenderal Abelaziz al-Fagham (kiri), saat mengawal Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz. (presstv.com)
Jenderal Abelaziz al-Fagham (kiri), saat mengawal Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz. (presstv.com)

/////

TRIBUN-MEDAN.COM -  Beberapa anggota keluarga kerajaan dan elit bisnis Arab Saudi menyatakan frustrasi dengan kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menyusul terjadinya serangan terbesar yang pernah terjadi pada infrastruktur minyak milik kerajaan pada bulan lalu.

Menurut seorang diplomat asing senior dan lima sumber yang terkait dengan para bangsawan dan elit bisnis kepada Reuters, hal ini telah memicu kekhawatiran di antara beberapa cabang terkemuka dari keluarga Al Saud yang berkuasa, yang berjumlah sekitar 10.000 anggota, tentang kemampuan putra mahkota untuk mempertahankan dan memimpin negara eksportir minyak terbesar di dunia itu.

Semua berbicara dengan syarat anonimitas.

Kata sumber tersebut, serangan itu juga telah memicu ketidakpuasan di kalangan beberapa kalangan elit yang meyakini putra mahkota, yang dikenal di Barat dengan inisial MbS, telah berusaha terlalu ketat pada kekuasaan.

Beberapa dari sumber tersebut juga mengatakan, serangan itu juga memicu kecaman dari mereka yang percaya bahwa MbS bersikap terlalu agresif terhadap Iran.

"Ada banyak kebencian tentang kepemimpinan putra mahkota," kata salah satu sumber, yang merupakan seorang anggota elit Saudi dengan koneksi kerajaan. "Bagaimana mereka tidak dapat mendeteksi serangan itu?"

Sumber Reuters ini menambahkan,  beberapa orang di kalangan elit mengatakan mereka "tidak percaya" pada putra mahkota, sebuah pernyataan yang juga digemakan oleh empat sumber lain dan diplomat senior.

Namun putra mahkota memiliki pendukung yang setia.

Sumber Saudi dalam lingkaran yang setia pada putra mahkota mengatakan: "Peristiwa terbaru tidak akan memengaruhi dirinya secara pribadi sebagai penguasa potensial karena ia berusaha menghentikan ekspansi Iran di kawasan itu. Ini adalah masalah patriotik, jadi dia tidak akan berada dalam bahaya, setidaknya selama ayahnya masih hidup."

Seorang diplomat asing senior kedua mengatakan, rakyat biasa Saudi masih ingin bersatu di belakang MbS sebagai pemimpin yang kuat, tegas, dinamis.

Kantor media pemerintah Saudi tidak menanggapi pertanyaan terperinci dari Reuters untuk artikel ini.

Putra mahkota, selama wawancara televisi yang disiarkan hari Minggu dengan media AS CBS, mengatakan bahwa membela Arab Saudi sulit karena ukuran kerajaan yang besar dan skala ancaman yang dihadapinya. "Sangat sulit untuk membahas semua ini sepenuhnya," katanya.

Sumber: Kontan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved