Polisi Temukan 11 Grup WhatsApp Porno di Kalangan Pelajar Deliserdang

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Deliserdang mengungkap grup WhatsApp berbagi video porno yang populer di kalangan pelajar di Deliserdang.

Penulis: Indra Gunawan |
Thinkstock/AndreyPopov
Ilustrasi pornografi(Thinkstock/AndreyPopov) 

TRIBUN-MEDAN.com-Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Deliserdang mengungkap grup WhatsApp berbagi video porno yang populer di kalangan pelajar di Deliserdang.

Setelah mengetahui grup WhatsApp porno dengan nama "bobok yuk" yang diikuti dari seorang pelajar yang diamankan saat hendak ikut demo ke Medan, polisi juga mendapatkan ada belasan grup WhatsApp porno lainnya.

Kasat Reskrim Polres Deliserdang, AKP Rafles Langgak Putra Marpaung menegaskan meski pelajar yang menjadi anggota grup telah dipulangkan dan dikembalikan kepada orangtuanya, namun penyelidikan atas kasus ini tetap berjalan.

Rafles mengatakan, pihaknya masih mencari admin dari masing-masing grup WhatsApp porno itu.

"Kata pelajar SMP itu, dia tiba-tiba diundang. Ya, sama seperti kita alami, kadang-kadang ada saja yang invite. Entah siapa yang invite cuma mereka justru penasaran. Rupanya di situ ada bagi-bagi video porno," ujarnya.

Untuk saat ini, lanjut Rafles pihaknya telah menyita ponsel siswa SMP tersebut. Ia mengakui bahwa di dalam ponselnya itu ternyata ada sebelas grup Whatsapp porno. Meski tergabung dalam grup sebanyak itu namun ia memastikan bahwa yang bersangkutan bukanlah admin grup.

"Kami sekarang sedang dalami, belum terhenti ini. Adminnya lagi kita cari, ini yang mau dikembangkan bisa dijerat pidana. Bisa Undang-Undang Pornografi dan bisa juga UU ITE. Kalau sudah dapat tersangkanya nanti anak itu bisa kita jadikan saksi," kata Rafles.

Ia menghimbau agar pihak sekolah maupun orangtua memberikan pengertian bahwa hal-hal yang berbau porno itu kejahatan bukan sekedar kenakalan remaja saja. Disebut karena video porno bisa berkembang dan terjadi kejahatan lain. Orang tua dan pihak sekolah dihimbau untuk rutin melakukan razia atau pengecekan ponsel dari masing-masing anak.

"Ya, ini bisa saja adminnya ini berniat jahat karena mau merusak anak-anak. Mungkin mau kasih pancingan makanya ada yang nge-share video porno. Mana tahu dari anak-anak ini ada yang bisa ngeshare video porno yang dibuat sendiri," kata Rafles.

Kasus ini terungkap akibat adanya pelajar yang mau ikut aksi demo mahasiswa. Saat itu pihak kepolisian dan TNI melakukan sweeping untuk menghentikan agar pelajar tidak gabung dan ikut-ikutan demo. (dra/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved