Aulia Kesuma Terinspirasi Sinetron Bakar Jasad Suami - Anak Tiri, Rencananya Dorong Mobil ke Jurang

Aulia Kesuma mengatakan, ide bakar jenazah suami dana anak tirinya terinspirasi dari adegan pembunuhan dalam sinetron.

Editor: Juang Naibaho
(KOMPAS.com/BUDIYANTO)
Pembunuh Bayaran Aulia Kesuma Kejang-kejang saat hendak Bunuh Pupung dan Anak, Terungkap Fakta Ini. Tersangka AK (45) mengenakan pakaian warna orange digiring sejumlah anggota polisi di Polres Sukabumi di Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (28/8/2019). ((KOMPAS.com/BUDIYANTO)) 

TRIBUN MEDAN.com - Tersangka Aulia Kesuma (45) melakukan berbagai upaya untuk menghilangkan jejak pembunuhan terhadap suami dan anak tirinya, Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili (54) dan anak tirinya, M Adi Pradana alias Dana (23).

Upaya yang dilakukan mulai pembakaran jenazah beserta rumah di Lebak Bulus, hingga akhirnya membakar jasad Pupung Sadili dan Dana di dalam mobil di kawasan Sukabumi.

Aulia Kesuma mengatakan, ide bakar jenazah suami dana anak tirinya terinspirasi dari adegan pembunuhan dalam sinetron.

Minggu (25/8/2019) paginya, Aulia Kesuma, sang anak KV, serta dua pembunuh bayaran ini sempat mensetting agar kedua korban terlihat meninggal karena kebakaran di garasi.

"Saya punya rencana menghilangkan jejak, seolah-olah Pak Edi sama Dana mau pergi dari garasi. Jadi, saya nggak pernah ada rencana terbersit untuk membakar rumah,” ujarnya.

"Jadi saya mau membakar garasi yang ada mobil. Jadi seolah-olah Pak Edi keluar rumah sama Dana, tapi tidak tahu kalau tangki bocor dan menyalakan rokok, setelah itu terbakar," imbuh Aulia.

"Awalnya saya hanya ingin kebakaran. Saya tahu persis begitu garasi terbakar, pemadam kebakaran akan langsung datang," ucap Aulia Kesuma.

Kebakaran tersebut menurut Aulia Kesuma akan menyulitkan polisi untuk melakukan proses sidik jari.

"Jadi saya bukan berarti Dana sama Pak Edi itu gosong. Tapi hanya luka bakar, ya setidaknya menghilangkan sidik jari. Gitu aja sih tujuannya," ucap Aulia Kesuma tenang.

Setelah rencana kebakaran itu tak berhasil, Aulia Kesuma lantas membawa jenazah Edi dan Dana ke dalam mobil.

Diungkapkan Aulia Kesuma, rencana pembunuhan yang ia lakukan terinspirasi dari sinetron yang kerap ditonton. "Kita tuh mungkin karena terlalu banyak nonton film sinetron kali ya," kata Aulia Kesuma.

Namun, Aulia Kesuma mengaku tak ada niat sama sekali ia membawa jenazah suami dan anak tirinya ke Cidahu, Sukabumi. "Karena kepanikan-kepanikahn yang terjadi sama saya. Itu pun dalam perjalanan yang sesungguhnya kita nggak tahu arah. Bukan kita menuju oh arahnya ke Cidahu, enggak," ucapnya.

Baca: Terciduk Bercumbu Dalam Mobil Bergoyang, Pasangan Bukan Suami Istri Diarak Ke Kantor Polisi

Aulia Kesuma mengungkapkan tak berencana membakar mobil hingga meledak.

Ia dan anaknya, Kelvin berencana mendorong mobil tersebut ke jurang. "Jadi memang awalnya saya pengen apinya kecil, nyala, setelah itu, mobilnya didorong ke jurang," beber Aulia Kesuma.

Ternyata api tersebut sangat besar sehingga membuat mobil yang berisi jenazah Edi dan Dana meledak. Hal ini juga membuat Kelvin mengalami luka bakar saat membakar jenazah ayah dan saudara tirinya itu di dalam mobil.

"Saya tadinya tidak menduga kalau mobil itu akan meledak seperti itu. Sampai Kelvin itu luka bakar," ujar Aulia Kesuma.

Sementara itu, Kepolisian menyebut rencana pembunuhan itu sudah bergulir sejak Juli 2019. Adapun Pupung Sadili dan Dana dibunuh pada 23 Agustus lalu.

Terungkap, bahwa Aulia Kesuma ternyata cukup gigih berupaya membunuh suami dan anak tirinya.

Awalnya, Aulia Kesuma berencana membunuh Pupung dan Dana dengan cara santet. Ia meminta bantuan pada suami mantan asisten rumah tangganya berinisial RD untuk mencarikan dukun. Aulia bahkan memberikan uang bayaran senilai Rp 40 juta kepada RD.

"Tersangka AK mencari dukun untuk menyantet korban (Edi dan Dana) biar meninggal. Dia mengeluarkan uang Rp 40 juta untuk biaya ke dukun untuk santet suaminya," terang Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono.

Namun, upaya itu gagal. Pupung dan anak tirinya tidak terpengaruh apa pun dari upaya santet tersebut.

Karena upaya santetnya gagal, Aulia Kesuma kembali meminta bantuan RD untuk dicarikan senjata api.

Namun, Aulia Kesuma hanya mampu membayar Rp 35 juta dari harga senjata api Rp 50 juta. "Rencana kedua itu pun batal karena harga senjata apinya terlalu mahal," kata Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Suyudi Ario Seto, seperti dikutip dari Kompas.com.

Terakhir, Aulia Kesuma memutuskan untuk membunuh suami dan anak tirinya dengan cara diracun dan dibakar.

Ia pun meminta pada RD untuk dicarikan pembunuh bayaran. Ia menjanjikan uang Rp 500 juta jika berhasil membunuh suami dan anak tirinya.

RD kemudian membawa para eksekutor, yakni AG, SG, dan AL. Eksekutor AG dan SG kini mendekam di sel tahanan Mapolda Metro Jaya.

Keempat eksekutor itu, termausk RD, kemudian bertolak dari apartemen di wilayah Pejanten, Jakarta, menuju rumah Aulia Kesuma di Lebak Bulus.

Akan tetapi, saat menuju rumah Aulia Kesuma, eksekutor AL disebutkan kesurupan. AL mengalami kejang-kejang seperti sakit ayan. RD kemudian mengantarkan AL kembali ke apartemen. Sehingga hanya dua eksekutor yakni AG dan SG yang bertolak ke rumah Aulia Kesuma.

Di kediaman Aulia, kedua eksekutor itu bersembunyi di dalam garasi sembari menunggu perintah Aulia Kesuma.

Adapun Aulia Kesuma kemudian menyiapkan obat tidur dosis tinggi agar Pupung Sadili tertidur lelap. Aulia Kesuma kemudian mengajak suaminya untuk berhubungan badan.

"Sebelum melakukan hubungan suami istri itu, Edi Chandra sudah meminum jus tersebut, minumnya di ruang tamu sebelum masuk ke kamar," kata Nasriadi.

Setelah melakukan hubungan suami istri, Pupung kemudian melakukan yoga seperti kebiasaannya sebelum tidur. Namun, karena efek dari obat tidur, korban tertidur di lantai dengan posisi terlentang.

"AK (Aulia Kesuma) memastikan korban apakah tidur pulas apa belum. Setelah diyakini pulas, sekitar pukul 21.30, AK memanggil si SG sama AG (eksekutor) untuk masuk ke ruangan tersebut. Nah, di situlah dilakukan eksekusi terhadap Edi Chandra (Pupung) dengan cara dibekap dengan handuk yang sudah dibaluri dengan alkohol, tangan dipegang dan sebagainya sampai diyakini korban meninggal dunia," kata Nasriadi.

Setelah itu, para eksekutor bergegas kembali bersembunyi menunggu kedatangan korban kedua yakni Dana yang sedang berada di luar rumah.

Ketika Dana pulang, pemuda 23 tahun itu langsung menuju kulkas mengambil jus yang telah ditaburi dengan obat tidur. Kemudian Dana dibunuh pada pukul 24.00 WIB oleh para eksekutor dibantu Aulia Kesuma dan Kelvin.

Baca: SIM Palsu Berlapis Kartu Timezone Terjaring dalam Razia Operasi Patuh Toba

Aulia Kesuma Merasa Lega
Seusai membunuh suami dan anak tirinya, Aulia Kesuma mengaku merasa lega. Perasaan lega muncul karena rumah suaminya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, akan disita oleh bank guna melunasi utangnya senilai Rp 10 miliar.

Adapun total utang Aulia Kesuma mencapai Rp 10 miliar. Setiap bulan, ia harus membayar cicilan sebesar Rp 200 juta.

"Maksudnya lega itu, iya saya sempat mengucapkan alhamdulillah dalam hati. Akhirnya, saya lepas dari utang yang benar-benar menghimpit saya, yakni Rp 200 juta per bulan," kata Aulia Kesuma dalam wawancara kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Selasa (3/9/2019).

Ucapan Aulia Kesuma membuat penyidik yang mendengar pengakuannya, geleng-geleng kepala.

Aulia mengaku sempat merasa stres dan berencana bunuh diri karena harus membayar cicilan tersebut. Ia memberanikan diri untuk meminta Pupung Sadili menjual rumahnya di kawasan Lebak Bulus.

Nantinya, uang hasil penjualan rumah itu akan digunakan untuk membayar utang. Kendati demikian, permintaan Aulia itu ditolak oleh Pupung Sadili.

Atas penolakan tersebut, Aulia Kesuma merasa sakit hati dan mulai merencanakan pembunuhan terhadap suami dan anak tirinya.

Ia berharap, rumahnya dapat disita oleh bank setelah menghabisi nyawa Edi dan anak tirinya, Dana. "Saya pikirannya waktu itu simpel (sederhana) saja. Dengan Pak Edi enggak ada (meninggal), Dana enggak ada, rumah itu bisa disita bank dan sisanya (uang) juga enggak banyak," ucapnya.

"Setelah itu, saya bisa hidup damai dengan Rena (anak Edi dan Aulia)," imbuh Aulia.

Baca: Wanita Eks Pendukung Ahok, Veronica Koman Jadi Tersangka Provokator Rusuh Papua

Pembunuh Bayaran Sempat Tak Tega
Pembunuh bayaran yang disewa Aulia Kesuma gagal saat berupaya membakar jasad Pupung Sadili dan Dana. Merasa tak tega, pembunuh bayaran itu memadamkan obat nyamuk yang digunakan untuk membakar jasad Pupung dan Dana. Pemadaman dilakukan dengan diludahi.

Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Suyudi Ario Seto menjelaskan, Aulia Kesuma dan tersangka lainnya berencana membakar rumah untuk membuat orang-orang mengira Pupung dan Dana tewas karena kebakaran.

Mereka pun menyiapkan barang untuk membakar kediaman Pupung di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Yakni tiga obat nyamuk spiral dan tiga kain yang telah disiram bensin.

Aulia Kesuma berharap rumah di Lebak Bulus terbakar selang 12 jam setelah dinyalakan pada Sabtu (24/8/2019) pukul 07.00 WIB.

"Perencanaan berikutnya adalah membakar rumah seolah-olah meninggal karena terbakar. Dibuatlah tiga komponen pembakar dengan obat nyamuk spiral dan diletakkan kain yang sudah disiram bensin di samping obat nyamuk," tutur Suyudi dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Terinspirasi Sinetron, Ini Rencana Awal Aulia Kesuma Hilangkan Jejak Kejahatannya,

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved