Ibu Kota Baru Terkini: Alasan Menteri Era Soeharto Emil Salim Kritik soal Ibu Kota ke Kalimantan

Ibu Kota Baru Terkini: Alasan Menteri Era Soeharto Emil Salim Kritik soal Ibu Kota ke Kalimantan

Editor: Salomo Tarigan
Tribunnews.com/Nurmuliarekso Purnomo
Ibu Kota Baru Terkini: Alasan Menteri Era Soeharto Emil Salim Kritik soal Ibu Kota ke Kalimantan 

Ibu Kota Baru Terkini: Alasan Menteri Era Soeharto Emil Salim Kritik soal Ibu Kota ke Kalimantan

TRIBUN-MEDAN.COM - Ibu Kota Baru Terkini: Alasan Menteri Era Soeharto Emil Salim Kritik soal Ibu Kota ke Kalimantan.

//

Ekonom senior Emil Salim mengaku sedih mendengar usulan Bappenas.

Baca: 5 Fakta tentang Putra Dian Sastro yang Sempat Terkena Autisme, Begini Perjuangannya untuk Sembuh

Baca: WHATSAPP TERKINI: Cara Menyadap Whatsapp (WA) Pasangan, Gak Ketahuan Pantau Seseorang di Mana Saja

Maket salah satu desain Ibu Kota Baru RI versi Kementerian Pekerjaan Umum yang akan diterapkan di Pulau Kalimantan nanti.
Maket salah satu desain Ibu Kota Baru RI versi Kementerian Pekerjaan Umum yang akan diterapkan di Pulau Kalimantan nanti. (Kolase Tribunkaltim.co)

Ini menyangkut soal pemindahan ibu kota yang disinyalir mampu memeratakan pertumbuhan ekonomi dan menjadikan Indonesia Sentris.

Emil mengatakan, usalan Bappenas yang menjadi langkah pengambilan kebijakan Presiden RI Joko Widodo, keliru.

"Di sini kita ingin bilang kepada teman-teman kita di Bappenas, keliru cara berpikirnya itu. Yang kesian ya presiden, yang memikul dampaknya.

Kenapa bappenas tega berbuat seperti itu? Saya sedih sekali mendengarnya," kata Emil Salim dalam Diskusi Publik INDEF di Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Baca: WHATSAPP TERKINI: Cara Menyadap Whatsapp (WA) Pasangan, Gak Ketahuan Pantau Seseorang di Mana Saja

Alih-alih memindahkan ibu kota baru, Emil menyarankan untuk memperbaiki sumber daya manusia (SDM).

Pasalnya, semua negara maju di Asia seperti Jepang, China, dan Korea Selatan terus membangun SDM untuk menjadikan negaranya maju.

Presiden Joko Widodo meninjau kawasan Bukit Soeharto di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang menjadi salah satu lokasi calon Ibu Kota baru, Selasa (7/5/2019).
Presiden Joko Widodo meninjau kawasan Bukit Soeharto di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang menjadi salah satu lokasi calon Ibu Kota baru, Selasa (7/5/2019). (Biro pers setpres)

Terlebih, Indonesia tengah mengalami bonus demografi yang kedepannya belum tentu terjadi lagi. Jumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri pun lebih banyak ketimbang negara berpenduduk lebih sedikit, seperti Vietnam dan Malaysia.

Baca: WHATSAPP TERKINI: Cara Menyadap Whatsapp (WA) Pasangan, Gak Ketahuan Pantau Seseorang di Mana Saja

"Coba kita belajar dari Jepang, Korea Selatan, RRC. Semua negara ini di Asia, mulanya tertinggal dengan negara Barat. Sikap mengejar ketertinggalan ini yang harus kita contoh sehingga menghasilkan problem resolve, bukan pindah ibu kota," jelas pria yang pernah jadi Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH).

Baca: Kasus Bakar Polisi Terbaru - 5 Orang Ditetapkan Jadi tersangka, Terancam 9 Tahun Penjara

"Kalau kita lihat sejarah bangsa maju karena human resources, kenapa kita tidak tempuh jalur ke sana? Nah itu yang saya tidak mengerti," tambah dia.

Emil menuturkan, pindahnya ibu kota tidak akan menyelesaikan persoalan yang terjadi di Jakarta, seperi banjir, kurang air bersih, dan macet.

Baca: Selain Tanggal Expired, 5 Ciri-ciri Obat Kedaluwarsa Perlu Anda Ketahui, Cek Kemasan Sebelum Membeli

"Kalau itu persoalannya, persoalan itu kita pecahkan, jangan lari ke tempat lain. Lantas kalau kau pindah ke tempat lain gimana? Betul-betul, saya ingin tahu apa logikanya Bappenas, lalu kita diskusikan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved