Fiona Sari Utami, Perempuan Harus Percaya Diri dan Pantang Menyerah

"Sebenarnya saya waktu kecil itu tidak terbayang bekerja di perusahaan pelabuhan," kata Vice President Public Relations PT Pelabuhan Indonesia I.

Tribun Medan/Risky Cahyadi
Vice President (VP) Public Relations (PR) PT Pelabuhan Indonesia I atau Pelindo I, Fiona Sari Utami 

Masa kecilnya, Fiona habiskan di Batusanggar Sumatera Barat.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar ia sudah menyukai kegiatan teater. Memasuki jenjang SMP, ia memilih untuk sekolah di luar daerah tinggal di asrama.

"Jadi memang saya sudah suka berpetualang dari kecil dan saya biasa berpetualang. Saat masuk SMA, saya sudah tahu kalau nanti bila saya kuliah saya akan pilih fakultas ilmu komunikasi, karena saya ingin menjadi PR, jurnalis ataupun presenter karena saya terinspirasi dari presenter nasional maupun internasional," ucapnya.

Ia pun bertekad tidak akan tinggal di kampungnya, sebab ia ingin merantau supaya mampu meraih cita-citanya. Benar saja, usai lulus SMA, Fiona melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung.

"Di Bandung, happy banget, karena banyak hal-hal baru, kita dapat banyak ilmu. Kita pun semakin banyak mengenal kebudayaan yang beranekaragam. Saya sempat mengalami culture shock tapi penyesuaian enggak begitu lama," kata anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Setelah lulus sarjana, Fiona pun pernah menjadi host di reality show, salah satu program TV swasta, "Jika Aku Menjadi". Ia tinggal selama lima hari bersama penjual teh.

Selanjutnya, ia melamar pekerjaan sebagai reporter di salah satu TV swasta. Tak hanya sebagai reporter, seiring berjalannya waktu, ia juga dipercayakan sebagai seorang presenter di salah satu TV swasta nasional di Jakarta selama hampir dua tahun.

"Sebagai seorang jurnalis saya juga meliput ke KPK, rumah sakit, polisi, makanan, setiap hari dunia kita berubah. Yang kita temui itu beragam, kita wawancarai menteri, pejabat, dan tukang bakso. Menjadi jurnalis itu bagian hidup yang tak terlupakan," ungkapnya.

Peran keluarga pun tak pernah lepas dari hidup Fiona. Ia selalu diajarkan orangtuanya untuk hidup mandiri dan memiliki kreativitas yang tinggi.

"Ibu saya itu punya kreativitas tinggi dalam berdagang, jadi memotivasi saya juga untuk untuk berkerja dengan ide-ide kreatif. Suami saya pun mendukung pekerjaan saya saat ini, profesi kita sama, sebagai humas," tambahnya.

Ia menjelaskan pemerintah sangat peduli kepada dunia kemaritiman, apalagi didukung dengan adanya tol laut sehingga dunia kemaritiman saat ini benar-benar menjadi prioritas program Pemerintah Indonesia.

Kedepannya, Fiona ingin belajar tentang ilmu pelabuhan sebab ia menyadari background pendidikannya bukan dari ilmu kemaritiman.

"Sukses itu meraih apa yang kita harapkan dan bermanfaat buat orang lain. Kunci sukses itu percaya diri, dan jangan pantang menyerah. Bila gagal, maju lagi dengan strategi yang baru," tutupnya. (nat/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved