Imam Besar Masjid Istiqlal Ibaratkan Perbedaan Agama Bagai Lukisan, Indah bila Ada Warna Kontras

Negara yang plural, bukan menjadi ancaman yang berbahaya. Contohnya adalah negara Indonesia seperti ini

Tribun-Medan / Nanda Rizka Nasution
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof KH Nasaruddin Umar MA PhD sambangi Yayasan Sultan Iskandar Muda, Sabtu (19/1/2019). Ia turut didampingi oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Sultan Iskandar Muda Medan Sofyan Tan. 

"Manusia itu miniatur alam semesta. Alam raya itu juga Alquran. Makanya harus dibaca. Murid yang cerdas bukan hanya mampu membaca Alquran kecil, juga tetapi yang makro cosmos ini. Alam ini adalah guru," katanya.

Nenek Delfina Terlempar dari Mobil di Tol Tanjung Morawa, Meninggal Akibat Luka Parah di Kepala

Ibu Kandung Aniaya Bayinya hingga Tewas sebagai Pelampiasan Dendam pada Mantan Suami

Sekda Sabrina Ogah Jawab Pertanyaan Soal Mobil Dinas Kabag Aset Pemprov Sumut Pilih Tutup Pintu

Dalam penutup, ia sampaikan, jika ada orang yang suka menyalahkan orang lain, itu pertanda orang itu harus belajar, sekalipun profesor. Secara tidak langsung, ia memberikan vonis dirinya harus masih belajar.

"Tetapi, jika tidak menyalahkan orang lain, dan dirinya sendiri, diam-diam ia telah memperbaiki. Orang arif tidak pernah menyalahkan kambing hitam dan putih, diam-diam ia menyelesaikan masalah. Di Indonesia, orang pintar sudah banyak. Yang kurang orang arif. Semoga Yayasan Sultan Iskandar Muda tidak hanya melahirkan orang pintar, tetapi juga orang arif," pungkasnya.

(cr17/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved