Imam Besar Masjid Istiqlal Ibaratkan Perbedaan Agama Bagai Lukisan, Indah bila Ada Warna Kontras

Negara yang plural, bukan menjadi ancaman yang berbahaya. Contohnya adalah negara Indonesia seperti ini

Tribun-Medan / Nanda Rizka Nasution
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof KH Nasaruddin Umar MA PhD sambangi Yayasan Sultan Iskandar Muda, Sabtu (19/1/2019). Ia turut didampingi oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Sultan Iskandar Muda Medan Sofyan Tan. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Nanda Rizka S Nasution

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof KH Nasaruddin Umar MA PhD sambangi Yayasan Sultan Iskandar Muda, Sabtu (19/1/2019).

Turut didampingi oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Sultan Iskandar Muda Medan Sofyan Tan, ia sangat surprise karena forum seperti ini adalah kerinduannya.

Dalam ceramahnya, ia menyinggung soal perbedaan. Katanya, hal tersebut jangan dianggap sebagai suatu malapetaka. Bagai lukisan, akan indah manakala ada warna kontras.

Warna-warna Indonesia yang seperti ini harus dianggap sebagai rahmat besar. Bhinneka Tunggal Ika bisa menjadi contoh untuk negara-negara lain.

"Institusi negara yang seragam dan homogen, tidak ada jaminan untuk menjadi negara yang paling stabil, begitu pun sebaliknya. Negara yang plural, bukan menjadi ancaman yang berbahaya. Contohnya adalah negara Indonesia seperti ini," tutunya yang diikuti oleh tepuk tangan hadirin.

Antisipasi Batasan Umur IKASI Sumut Siapkan Atlet Usia 20-22, Berlaga di PON 2020 dan PON 2024

Jual Mie Ayam Rp 2.000, Wanita Ini Malah Mendapat Cibiran, Ternyata Rasa Mie Ayamnya Enak

Kepala BKD Sebut Pemprov Sumut akan Tambahkan Daftar Nama ASN Koruptor yang akan Dipecat

Indonesia, tambahnya, sudah mendapatkan banyak ramalan mengenai kehancuran. Mulai dari tahun 1998, 2011, 2014 hingga 2017. Namun, semunya tidak terbukti.

"Negeri ini sangat berbhinneka, negara dengan posisi silang, negeri yang paling Indah. Negeri ini adalah Indonesia. Surganya ikan ada di daerah khatulistiwa ini. Mau makan ikan apapun, jenis apapun. Tumbuh-tumbuhan, seluruh jenis tumbuh-tumbuhan berkumpul di Indonesia. Apapun bisa ditanam. Kita beragam dari agama, budaya, etnik, bahasa dan lainnya," lanjutnya.

Kepala BKD Sebut Pemprov Sumut akan Tambahkan Daftar Nama ASN Koruptor yang akan Dipecat

VIDEO: Kecelakaan Maut di Jalur Tol Medan-Tebingtinggi, Akibatya Satu Orang Tewas

Pria Ini Tega Bunuh Kekasihnya Hanya Karena Hal Sepele, Sup Masakannya Terasa Hambar

Nasaruddin sampaikan optimisme Indonesia tetap utuh dan akan terus utuh. Rahasinya adalah selama umat beragama utuh dan bersatu tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang bisa menghentikan Indonesia.

"Apapun agama kita, tidak boleh sikut menyikut. Keuntungan Indonesia itu terkait pada keutuhan umat beragama. Allah memuliakan anak-anak cucu adam. Siapapun yang merasa anak cucu adam, apapun agamanya, warga negaranya, warna kulitnya, wajib untuk dihormati. Kenapa? Itu semua perintah Tuhan. Semua kita di sini adalah anak cucu adam. Membunuh satu jiwa, sama dengan membunuh jiwa yang lain," lanjutnya.

Wanita Pelatih Klub Sepak Bola di Liga Jerman: Saya Pilih Pemain Berdasarkan Ukuran Penis

Pascatragedi Taft Maut Warga Langkat Tetap Pilih Rakit daripada Jalur Darat: Hemat Waktu, Hemat Uang

Dari Warung Ramen So Joy Medan, Pengunjung Berasa Seperti di Jepang

Lanjutnya, mukmin adalah orang yang amanah dan merasa aman. Yang paling beriman adalah orang yang merasa aman. Di Indonesia aman, berarti ini negara mukmin.

Sesungghnya orang-orang yang memiliki keimanan saling bersaudara. Dalam artian, semuanya bersaudara satu sama lain. Perbedaan agama bukan menjadi faktor tidak bersaudaranya seseorang.

"Dalam Islam, anak-anakku semua, guru itu sangat mulia. Guru berasal dari kata Gu kegelapan dan Ru obor. Jadi, guru adalah obor yang menerangi kegelapan. Bukan seorang guru kalau tidak mampu menyalakan lentera hati anak-anak muridnya," katanya.

Terima Kunjungan Pemred Tribun Wali Kota Medan Mengaku Siap Dikritik Asalkan Disertai Solusi

Demi Berobat di Kota, Wanita Lumpuh dari Desa Harus Ditandu 6 Kilometer

Dalam Islam, ada dua macam guru, lanjutnya. Satu adalah personal teacher, seperti dalam bentuk orang. Dan ada yang disebut dengan inpersonal teacher yaitu yang tidak tampak dalam bentuk orang.

Semuanya yang ada adalah guru. Seperti Alquran yang menghimpun ayat, surah, juz. Bangunan juga Alquran yang menghimpun batu dan semen. Kita, manusia juga Alquran.

Lima Korban Taft yang Tercebur di Sungai Wampu Dimakamkan Berdampingan di Desa Stungkit, Langkat

Berasal dari Kasta Rendah Remaja Ini Terpaksa Kuburkan Ibunya di Hutan, Warga Tolak Lakukan Kremasi

KABAR TERKINI AHOK (BTP) - Rencana Pernikahan Private, Sosok Bripda Puput, dan Tanggapan Keluarga

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved