Kapal Yang Gunakan Pukat Trawl Hancurkan Jaring Nelayan
Di Tanjung Balai saja, sudah ada 50 pengusaha yang menggunakan pukat trawl.
Laporan Wartawan Tribun Medan/ Array A Argus
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pengusaha dan cukong kapal ikan yang menggunakan pukat trawl kerap merusak dan mengahncurkan jaring nelayan. Ketika kapal pukat melintas, nelayan tradisional harus pasrah semua tangkapannya hilang dihempas kapal cukong pukat trawl.
"Inilah alasan kami kenapa meminta pemerintah untuk menindak pengusaha yang menggunakan pukat trawl. Di Tanjung Balai saja, sudah ada 50 pengusaha yang menggunakan pukat trawl. Akibat adanya pukat trawl ini, jaring kami hancur berantakan," kata Kordinator Serikat Nelayan Asahan, Abdul Latif Sitorus alias Sangkot, Kamis (14/4/2016) siang.
Tiap hari, sambung Sangkot, pertumbuhan pukat trawl kian bertambah banyak. Pengusaha-pengusaha nakal tak pernah memikirkan nasib nelayan kecil.
"Mereka merusak ekosistem laut. Terumbu karang tempat kehidupan ikan rusak parah, dan hasil tangkap kami cendrung menurun," ungkap mantan narapidana ini.
Dalam kesempatan itu, Sangkot meminta Menteri Kelautan bijak menuntaskan persoalan ini. Sebab, kata Sangkot, bila ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin konflik antara nelayan tradisional dengan nelayan pukat trawl terus terjadi.
"Jangan hanya berdiam diri saja. Pol Air juga harusnya bertindak. Jangan pernah menerima suap dari cukong kapal pukat trawl," ujarnya mengakhiri.
(ray/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/nelayan-unjuk-rasa-di-kantor-gubernur-sumut_20160414_113045.jpg)