Kenangan Korban Banjir

LEBARAN TAHUN INI, Sulianti Cuma Bisa Kenang Toples Kue dan Rumah Hancur❓

Sulianti korban banjir di Tapteng hanya bisa mengingat saat hari lebaran rumahnya dipenuhi kue dalam toples, kini semuanya hanya tinggal kenangan.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: M.Andimaz Kahfi

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN - Sambil menatap setengah rumahnya yang hilang, akibat banjir bandang yang menerjang Desa Lopian, Kecamatan Badiri Kabupaten Tapteng, Sulianti mengenang Lebaran tahun lalu yang penuh kehangatan. 

Sulianti mengenang Lebaran tahun lalu dengan mata berkaca-kaca sambil memegang dua buah toples yang masih kosong. 

Bahkan setelah melaksanakan salat Ied, ia bersama suami dan 9 keluarganya yang tinggal satu atap dengannya hanya duduk termenung. 

Saat didekati Sulianti bercerita, rumahnya yang berukuran 9x5 Meter itu lenyap dan hanya menyisakan ruang dapur.

"Itu yang sekarang diinjak dulunya lantai rumah kami. Tapi semua hanyut dan hanya sisa ruang dapur ini," ucapnya kepada Tribun Medan, Sabtu(21/3/2026). 

Sulianti mengatakan, rumah yang hanyut dibawa air ini, tak menyisakan sehelai baju. Namun ia bersyukur, sebab ruang dapur masih tersisa. 

"Enggak ada baju yang tersisa. Dapur ini dulunya hanya dapur. Sekarang di sekat-sekat. Karena kami ada 9 orang yang tinggal di sini," jelasnya. 

Ia pun mengaku Lebaran kali ini terasa berbeda saat Takbiran mulai menggema di masjid-masjid 

"Dulu kalau mau Lebaran pasti sudah buat kue-kuean. Tapi, ini kami masak daging sapi itupun karena dapat bantuan. Kalau enggak, gak ada yang bisa di masak. Dulu toples kue ini berisi, rumahnya lebar, sekarang beginilah dulu," tuturnya. 

 Diakuinya kesedihan makin terasa, usai melaksanakan salat ied. Karena biasanya sudah salat orang bawa kue-kuean.  

"Ini salam-salaman tetangga datang ya yang disuguhi ya air minum saja. Ada rasa sedih karena baju Lebaran ini pun didapati dari warga," ucapnya.

Disinggung alasan tidak pindah ke Huntara dan Huntap, karena tanah rumahnya masih terlihat. 

"Jadi kami dapat uang Rp 1.350.000 per 3 bulan. Jadi satu harinya Rp 15 ribu. Itu sudah kami dapat. Tapi kalau Dana Tunggu Hunian (DTH) 600 ribu kami tidak dapat," jelasnya .

Untuk itu, ia berharap agar pemerintah segera membantu dalam perbaikan rumah

"Mudah-mudahan pemerintah ada membantu dalam pembangunan rumah untuk kami daerah bencana," jelasnya. 

Diketahui, Desa Lopian Kecamatan Badiri satu diantara desa yang terdampak bencana di Kabupaten Tapteng. Di mana, Ada Puluhan warga yang meninggal dan paling banyak mengalami kerusakan rumah mulai dari berat hingga hilang di sapu banjir. 

Saat ini kondisi bencana di Desa Lopian sudah mulai ditahap pemulihan. Namun ada beberapa rumahnya yang masih dipenuhi lumpur.

(cr5/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved