Berita Tapteng
Tangis Orangtua Boy Simamora Anaknya Disebut Diterkam Buaya: Mohon Bantulah Kami
Satu per satu warga menghampiri, mendengarkan kisah pilu keluarga, lalu membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan.
Penulis: Azis Husein Hasibuan | Editor: Azis Husein Hasibuan
TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Kasus kematian Boy Simamora terus disuarakan kedua orangtuanya yang hingga kini menuntut keadilan.
Boy Simamora merupakan pria 21 tahun asal Tapanuli Tengah yang kematiannya disebut karena diterkam buaya di Sungai Sungai Saga, Kecamatan Sirandorung, Rabu (27/5/2026) lalu.
Perjuangan orangtua Boy Simamora menuntut keadilan kembali dilanjutkan. Didampingi Forum Masyarakat (Formas), mereka mengumpulkan 1.000 tanda tangan di Alun-alun Pandan, Rabu (8/7/2026).
Satu per satu warga menghampiri, mendengarkan kisah pilu keluarga, lalu membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan.
Tangis sang ibu pecah saat menyampaikan permohonannya kepada masyarakat.
“Bapak, ibu. Lihatlah kami. Bantulah kami dengan memberikan dukungan tanda tangan agar kematian anak kami diusut tuntas. Kami orang kecil, kami tidak mengerti hukum. Biarlah Tuhan yang membalas semua kebaikan bapak dan ibu yang membantu kami,” ucapnya dengan suara bergetar.
Ia mengaku keluarga masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai kondisi jenazah anaknya.
Menurutnya, terdapat sejumlah hal yang dinilai janggal sehingga keluarga berharap penyelidikan dilakukan secara menyeluruh.
“Kami memohon kepada Bapak Kapolres Tapanuli Tengah agar mengusut tuntas kematian anak kami. Sudah lama kami menunggu. Kami melihat ada kejanggalan pada tubuh anak kami. Karena itu kami berharap semuanya dapat dibuktikan melalui penyelidikan dan hasil forensik,” ujarnya.
Tak Ada Bekas Gigitan Buaya
Ayah korban, Saudara Lamsehat Simamora (46) mengungkap, bahwa ia merasa ragu dan janggal atas kematian Boy Simamora yang disebut akibat diterkam buaya.
"Ada kejanggalan terhadap anak kami ini, dibilang dimakan buaya ternyata bekas gigitan buaya gak ada. Mulai dari ujung kepala sampai kaki gak ada. Itu lagi lubang yang di lehernya," katanya saat diwawancarai, Rabu, Siang.
Lamsehat menambahkan, ketidakcocokan antara informasi awal dengan kondisi fisik jenazah menjadi alasan utama keluarga tidak ingin berhenti menuntut kejelasan.
Pihaknya meminta penyidik Polres Tapteng tidak terpaku pada satu kesimpulan semata, melainkan menelusuri semua kemungkinan termasuk keberadaan unsur tindak pidana.
"Biar kami tahu apa hasilnya, apa memang dimakan buaya atau pembunuhan," lanjutnya.
Serahkan Dukungan ke Polres Tapteng
Lamsehat bersama kerabat lainnya melanjutkan perjalanan ke Mapolres Tapanuli Tengah menyerahkan beberapa helai kain yang berisikan tanda tangan sebagai bentuk dukungan kepada Kapolres Tapteng dalam mengusut kasus ini.
| Bupati Masinton Temui Mensos Gus Ipul, Bahas Percepatan Bantuan Bencana di Tapteng: Sabar Saja |
|
|---|
| Disuruh Prabowo, DPN Turun ke Tapteng Lihat Kondisi 8 Bulan Pascabencana: Progresnya Seperti Apa |
|
|---|
| Pujian Masinton Pasaribu untuk Polres Tapteng di HUT Bhayangkara 2026, Terutama Selama Bencana |
|
|---|
| Wabup Tapteng Buka Layanan Kesehatan Gratis, Tantang ASN Jadi Pelopor Hidup Sehat |
|
|---|
| Tekan Ancaman Demam Berdarah Pascabencana, SPPG Tukka & Dinkes Tapteng Fogging Lingkungan Masyarakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ibu-boy-simamora-tribunmedan.jpg)