Berita Viral

Bima Yudho Minta Josepha Tolak Tawaran Beasiswa ke China, Ungkap 3 Alasan Ini

Salah satunya adalah selebgram sekaligus konten kreator Bima Yudho Saputro atau yang dikenal dengan nama Awbimax.

Tayang:
Youtube MPR.GO.ID
TAWARAN KE CHINA- Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak yang mendapat perlakuan tidak adil dalam acara cerdas cermat di Kalimantan Barat kini mendapat tawaran belajar ke China. 

TRIBUN-MEDAN.com - Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat masih terus menjadi perhatian publik.

Setelah video protes siswi SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra, viral di media sosial karena jawaban yang dianggap benar justru dinilai salah oleh dewan juri, kini muncul sorotan baru terkait tawaran beasiswa kuliah ke China yang diterimanya.

Perhatian publik terhadap Josepha tidak hanya datang dari kalangan pendidikan dan masyarakat umum, tetapi juga dari sejumlah tokoh media sosial.

Salah satunya adalah selebgram sekaligus konten kreator Bima Yudho Saputro atau yang dikenal dengan nama Awbimax.

Bima ikut mengomentari tawaran beasiswa S1 ke China yang diberikan Anggota MPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, kepada Josepha setelah kasus LCC Empat Pilar MPR RI menjadi viral.

Dalam pernyataannya di media sosial, Bima meminta Josepha agar tidak terburu-buru menerima tawaran tersebut.

Kasus ini semakin ramai dibicarakan karena publik menilai polemik LCC Empat Pilar bukan lagi sekadar persoalan lomba akademik, melainkan sudah berkembang menjadi isu nasional terkait objektivitas penilaian, transparansi penyelenggaraan, hingga respons lembaga negara terhadap kritik publik.

LCC Empat Pilar sendiri merupakan lomba pengetahuan yang menguji pemahaman siswa mengenai empat pilar kebangsaan Indonesia, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Berikut alasan Bima Yudho minta Josepha tolak tawaran tersebut:

1 . Beasiswa jadi Upaya Redam Polemik LCC MPR

Dalam video yang diunggah di media sosial TikTok pada Rabu (13/5/2026), Bima Yudho secara terbuka meminta Josepha berhati-hati terhadap tawaran beasiswa tersebut.

“Kalau kata gue hati-hati jangan langsung lo ambil,” ujar Bima seperti dikutip dari TikToknya.

Menurut Bima, pemberian beasiswa yang hanya ditujukan kepada Josepha memunculkan pertanyaan tersendiri di tengah polemik yang sedang berlangsung. Ia menilai situasi tersebut bisa saja berkaitan dengan upaya meredam kontroversi yang berkembang setelah kasus LCC MPR viral di publik.

Bima kemudian menyinggung fenomena yang menurutnya sering terjadi ketika muncul persoalan besar di lingkungan pemerintahan.

“Di Indonesia itu kalau ada masalah satu itu di government (pemerintahan) merembet, biasanya merembet ke mana-mana jadi mereka buru-buru nih. Cepet-cepet untuk menutup crisis yang ada biar enggak jadi overwhelming (semakin besar),” katanya.

Istilah “crisis” yang dimaksud Bima merujuk pada situasi krisis atau persoalan yang berkembang luas dan dapat memengaruhi citra suatu lembaga.

Sementara istilah “overwhelming” dalam konteks tersebut berarti kondisi ketika persoalan berkembang semakin besar dan sulit dikendalikan.

Pernyataan Bima itu kemudian memicu berbagai respons dari publik di media sosial.

Sebagian mendukung pandangan Bima agar Josepha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, sementara sebagian lain menilai tawaran beasiswa tetap merupakan kesempatan pendidikan yang baik bagi siswa berprestasi.

2. Soroti Pilihan Negara Tujuan Beasiswa

Tak hanya menyoroti momentum pemberian beasiswa, Bima Yudho juga mengomentari pilihan negara tujuan studi, yakni China.

Menurutnya, China memang memiliki reputasi kuat dalam bidang teknologi dan teknik atau engineering, tetapi belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk bidang lain seperti politik, komunikasi, maupun seni.

“China itu bagus untuk engineering dan tech. Kalau politics, arts, communication, menurut gue lebih cocok ke US, UK, atau Australia,” katanya.

Istilah engineering merujuk pada bidang teknik dan rekayasa teknologi, sedangkan tech merupakan singkatan dari technology atau teknologi.

Bima menilai Josepha sebaiknya terlebih dahulu mempertimbangkan minat akademik dan bidang studi yang ingin ditekuni sebelum memutuskan menerima tawaran kuliah ke luar negeri.

Pernyataan tersebut kembali memancing diskusi publik, terutama terkait perbandingan kualitas pendidikan antarnegara dan relevansinya terhadap bidang studi tertentu.

3. Singgung Tawaran Pekerjaan setelah Lulus

Selain soal beasiswa, Bima juga menyoroti janji pemberian pekerjaan setelah Josepha menyelesaikan pendidikan di China.

Sebelumnya, Anggota MPR RI Rifqinizamy Karsayuda menyatakan bahwa Josepha tidak hanya akan mendapatkan beasiswa kuliah gratis, tetapi juga peluang kerja di perusahaan multinasional setelah lulus.

Perusahaan multinasional adalah perusahaan besar yang beroperasi di banyak negara sekaligus dan memiliki jaringan bisnis internasional.

Bima mengingatkan Josepha agar memahami lebih dulu arah karier dan bidang yang ingin dijalani sebelum menerima tawaran tersebut.

“Kerja apa dulu? Jangan sampai jadi buzzer. Hati-hati ini long game,” ucapnya.

Istilah “buzzer” di Indonesia sering digunakan untuk menyebut pihak yang aktif membentuk opini di media sosial, biasanya terkait isu politik atau kepentingan tertentu.

Sementara “long game” berarti strategi jangka panjang yang dilakukan secara bertahap untuk mencapai tujuan tertentu.

Ucapan Bima itu kembali menjadi bahan perdebatan di media sosial karena dianggap menyentuh isu politik dan komunikasi publik yang lebih luas.

Saran Cari Beasiswa dari Jalur Lain

Dalam pernyataannya, Bima juga menyarankan Josepha agar mempertimbangkan jalur beasiswa lain yang berasal langsung dari pemerintah negara tujuan, kampus, maupun lembaga internasional.

“Mending kata gue cari eksternal beasiswa dari negara tujuannya langsung, dari goverment negara tujuannya langsung, atau dari kampusnya langsung atau parsial atau apalah. Semangat Josepha jangan mau dijadiin alat politik,” katanya.

Beasiswa parsial sendiri merupakan bantuan pendidikan yang hanya menanggung sebagian biaya kuliah atau kebutuhan studi, berbeda dengan beasiswa penuh yang mencakup seluruh biaya pendidikan dan hidup.

Pernyataan Bima itu semakin memperluas diskusi publik mengenai independensi pendidikan dan relasi antara bantuan pendidikan dengan dinamika politik.

Josepha Dapat Tawaran dari Anggota MPR

Tawaran beasiswa kepada Josepha sebelumnya disampaikan Anggota MPR RI Rifqinizamy Karsayuda setelah aksi protes Josepha dalam LCC Empat Pilar viral di media sosial.

Dalam perlombaan tersebut, Josepha memprotes keputusan dewan juri karena jawaban yang ia berikan dianggap salah dan membuat timnya mendapat pengurangan nilai sebesar lima poin.

Video protes itu kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu kritik publik terhadap objektivitas penilaian dewan juri.

Di tengah polemik tersebut, Rifqi menawarkan bantuan pendidikan kepada Josepha.

“Kalau Josepha berkenan, abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke China,” kata Rifqi dikutip dari Tribunnews, Rabu (13/5/2026).

Tak hanya itu, Rifqi juga menjanjikan peluang pekerjaan setelah Josepha menyelesaikan kuliah.

“Nanti begitu selesai SMA, Josepha akan berikan beasiswa sekolah kuliah gratis di China dan nanti akan ada pemberian pekerjaan langsung dari berbagai perusahaan multinasional untuk Josepha kalau sudah lulus dari China,” jelasnya.

Ia juga meminta Josepha untuk membicarakan tawaran tersebut bersama keluarga sebelum mengambil keputusan.

Polemik LCC Empat Pilar Masih Jadi Sorotan
Kasus LCC Empat Pilar MPR RI sebelumnya sudah lebih dulu menjadi perhatian nasional setelah muncul tudingan kesalahan penilaian dewan juri pada babak final tingkat Kalimantan Barat.

SMAN 1 Pontianak kemudian meminta klarifikasi terkait keputusan juri, sementara MPR RI memutuskan final akan diulang sebagai bentuk evaluasi atas polemik yang terjadi.

Namun, baik SMAN 1 Pontianak maupun SMAN 1 Sambas sama-sama menyatakan tidak akan mengikuti final ulang tersebut.

Di tengah situasi itu, Josepha justru menjadi figur yang mendapat simpati luas dari masyarakat. Dukungan terhadap dirinya mengalir dari berbagai pihak, termasuk tokoh publik dan pengguna media sosial.

Perkembangan terbaru terkait tawaran beasiswa ke China dan komentar Bima Yudho semakin memperpanjang perhatian publik terhadap polemik LCC Empat Pilar MPR RI 2026.

Artikel ini telah tayang di Tribun Jakarta

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved