Berita Viral

Penyesalan Tejo Bantu Ashari Melarikan Diri, Tertipu Identitas Palsu hingga Puasa Selama 3 Tahun

Pria bernama Tejo itu mengaku menyesal karena tanpa sadar telah membantu dan memberikan tempat tinggal kepada Ashari

Tayang:
TRIBUNNEWS
KIAI CABUL DITANGKAP - Polisi berhasil menangkap Ashari (berjaket kulit), pendiri Ponpes Ndholo Kusumo Pati yang menjadi tersangka pencabulan, Kamis (7/5/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com - Kasus pelarian Kiai Ashari, tersangka dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati, menyisakan cerita pilu bagi seorang warga di Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Pria bernama Tejo itu mengaku menyesal karena tanpa sadar telah membantu dan memberikan tempat tinggal kepada sosok yang belakangan diketahui sebagai buronan polisi.

Tejo merasa dirinya dibohongi setelah Kiai Ashari menggunakan identitas palsu selama berada di rumahnya.

Kiai Ashari sendiri diketahui telah menyandang status tersangka sejak 28 April 2026.

Namun, ia mangkir dari panggilan penyidik pada Senin (4/5/2026) hingga akhirnya melarikan diri ke sejumlah daerah.

Pelarian Kiai Ashari Berakhir di Wonogiri

KIAI PATI CABUL - Ashari, kiai pondok pesantren di Pati tersangka pencabulan 50 santriwati belum ditahan, diduga kabur dan mangkir demi hindari pemeriksaan.
KIAI PATI CABUL - Ashari, kiai pondok pesantren di Pati tersangka pencabulan 50 santriwati belum ditahan, diduga kabur dan mangkir demi hindari pemeriksaan. (IST)

Setelah beberapa hari menjadi buronan, keberadaan Kiai Ashari akhirnya terlacak di wilayah Kecamatan Purwantoro, Wonogiri.

Sebelumnya, tersangka disebut sempat berpindah-pindah lokasi mulai dari Kudus, Bogor, Jakarta, Solo hingga Wonogiri untuk menghindari pengejaran aparat.

Tim dari Polresta Pati yang dipimpin Kasat Reskrim Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama kemudian melakukan pengejaran intensif sejak Senin (4/5/2026).

Pelarian tersebut berakhir pada Kamis (7/5/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Kiai Ashari berhasil ditangkap polisi di sebuah desa di Kecamatan Purwantoro.

Di balik penangkapan itu, muncul kisah Tejo yang tanpa sadar telah menolong tersangka selama pelarian.

1. Tejo Mengaku Tertipu Identitas Palsu

Tejo menceritakan, Kiai Ashari datang ke rumahnya di Dusun Wotgalih, Desa Bakalan, pada Rabu (6/5/2026) pagi.

Saat itu, tersangka diantar oleh seorang warga lain yang sebelumnya bertemu dengannya.

Di hadapan Tejo, Kiai Ashari memperkenalkan diri sebagai Samsuri, warga asal Semarang.

Ia mengaku sedang menjalani tirakat dan ingin berziarah ke petilasan Gusti Wali di Gedong Wiyono.

"Saya tanya, ada keperluan apa pak? Dia jawab saya disuruh guru saya puasa 3 tahun dan saat ini baru jalan 3 bulan."

"Saya ke sini mau napak tilas di petilasan Gusti Wali di Gedong Wiyono," kata Tejo menirukan percakapan Ashari.

Karena merasa iba, Tejo pun mempersilakan tamunya menginap. Ia bahkan menyiapkan kamar khusus untuk Kiai Ashari.

Menurut Tejo, rumahnya memang kerap menjadi tempat singgah peziarah yang datang ke kawasan tersebut sehingga ia tidak menaruh curiga sedikit pun.

2. Sempat Dipinjami Motor hingga Dibantu Cari Kendaraan

Tidak hanya memberikan tempat tinggal, Tejo juga sempat membantu kebutuhan Kiai Ashari selama berada di Wonogiri.

Ia mengaku pernah mengantar tersangka untuk membeli motor bekas. Namun, rencana pembelian batal karena harga kendaraan dianggap tidak cocok.

Sebagai gantinya, Tejo bahkan rela meminjamkan sepeda motor pribadinya kepada Kiai Ashari agar bisa digunakan beraktivitas.

Pada Kamis pagi, Ashari sempat berpamitan kepada Tejo dengan alasan ingin menemui seorang teman.

Namun, di tengah perjalanan itulah polisi berhasil menemukan keberadaan tersangka yang selama beberapa hari masuk daftar pencarian.

3. Tejo Kaget Didatangi Polisi

Tak lama setelah penangkapan, aparat kepolisian mendatangi rumah Tejo untuk meminta keterangan.

Ia mengaku sangat terkejut saat mengetahui tamu yang ditolongnya ternyata merupakan tersangka kasus dugaan pelecehan terhadap santriwati.

"Saya kaget (didatangi polisi). Apa itu masalahnya Pak. Polisi bilang sudah buron lama kasus pelecehan, santri-santri," katanya.

Peristiwa tersebut membuat Tejo mengaku kecewa dan menyesal telah percaya begitu saja kepada orang yang baru dikenalnya.

"Nyesel (menerima tamu, ternyata buronan). Omongannya tidak sesuai dengan kenyataan. Hanya berjarak 1 malam, langsung ditangkap polisi," ucapnya.

4. Warga Kini Diminta Catat Identitas Tamu

Pasca kejadian itu, pemerintah desa bersama kepolisian mulai memperketat pendataan pengunjung di kawasan petilasan Gusti Wali Gedong Wiyono.

Tejo mengatakan dirinya diminta untuk mencatat identitas tamu yang datang, termasuk nama dan kartu tanda penduduk (KTP), agar kejadian serupa tidak terulang.

"Pak kepala desa bilang akan dibuatkan data, saya disuruh nyatet nama dan KTP tamu," tungkasnya.

Kasus ini menjadi gambaran bagaimana keramahan warga di daerah wisata religi atau lokasi ziarah terkadang dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk bersembunyi.

Di sisi lain, peristiwa yang dialami Tejo juga menunjukkan pentingnya pendataan tamu di lingkungan masyarakat, terutama bagi pendatang yang menginap dalam waktu tertentu.

Langkah administratif sederhana seperti pencatatan identitas dinilai bisa membantu mencegah penyalahgunaan kepercayaan warga.

Artikel sudah tayang di Tribunnews

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved