Berita Internasional
Alotnya Proses Gencatan Senjata AS dan Iran, Trump Sebut Proposal dari Teheran Tak Masuk Akal
Trump bahkan menyebut tuntutan yang diajukan Teheran sebagai sesuatu yang “sangat tidak bisa diterima”.
TRIBUN-MEDAN.com - Alot. Begitulah kondisi yang menggambarkan situasi terkini proses gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran.
Upaya diplomasi untuk meredakan konflik di kawasan Teluk Persia kembali menghadapi hambatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal balasan Iran terkait gencatan senjata.
Trump bahkan menyebut tuntutan yang diajukan Teheran sebagai sesuatu yang “sangat tidak bisa diterima”.
Penolakan tersebut memperpanjang ketidakpastian di Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan global.
Konflik yang terus berlanjut disebut telah mengganggu jalur pelayaran internasional dan memicu kenaikan harga energi dunia.
Penolakan ini menjadi pukulan telak bagi upaya resolusi konflik di Selat Hormuz yang telah melumpuhkan jalur pengiriman global serta memicu lonjakan harga energi dunia.
Apa isi tuntutan Iran?
Berdasarkan laporan televisi pemerintah Iran, Teheran menganggap proposal AS sebagai bentuk penyerahan diri.
Sebagai gantinya, melalui mediator Pakistan, Iran mengajukan sejumlah syarat mutlak untuk mengakhiri perang secara permanen.
Dilansir dari AP News, syarat-syarat tersebut meliputi:
- Pembayaran ganti rugi perang oleh pihak Amerika Serikat.
- Kedaulatan penuh Iran atas wilayah strategis Selat Hormuz.
- Pengakhiran seluruh sanksi ekonomi.
- Pelepasan aset-aset Iran yang disita oleh AS.
Padahal, proposal terbaru dari Washington bertujuan untuk mengakhiri konfrontasi militer, membuka kembali jalur pelayaran internasional, serta membatasi program nuklir Iran.
Menanggapi sikap Teheran, Trump menuduh Iran tidak serius dalam bernegosiasi.
“Mereka tidak akan tertawa lagi!” tulis Trump, seraya menambahkan bahwa Teheran telah “bermain-main” dengan AS selama hampir 50 tahun.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa pemerintah tetap mengedepankan jalur diplomasi sebelum kembali ke opsi militer penuh.
“Trump memberikan diplomasi setiap kesempatan yang mungkin kami bisa sebelum kembali ke permusuhan,” ujar Waltz kepada ABC.
Perintah baru dari Mojtaba Khamenei
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dilaporkan telah muncul untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Dalam pertemuan dengan kepala komando militer gabungan, ia memberikan instruksi tegas untuk menghadapi musuh.
“(Mojtaba Khamenei) mengeluarkan arahan baru dan menentukan untuk kelanjutan operasi dan konfrontasi yang kuat dengan musuh,” lapor penyiar berita negara Iran tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Teror drone di Teluk Arab dan blokade pelabuhan
Ketegangan di lapangan semakin meningkat meski ada upaya gencatan senjata yang rapuh.
Serangan drone dilaporkan terjadi di wilayah Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait. Sebuah drone memicu kebakaran kecil pada sebuah kapal di lepas pantai Qatar.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut serangan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya dan tidak dapat diterima yang mengancam keamanan jalur perdagangan maritim.”
Sementara itu, militer AS terus memperketat blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April. AS mengklaim telah memukul mundur 61 kapal komersial dan melumpuhkan empat lainnya.
Pada Jumat pekan lalu, AS bahkan menyerang dua kapal tanker minyak Iran yang mencoba menerobos blokade.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran pun memberi peringatan keras. Setiap serangan terhadap aset mereka akan dibalas dengan “serangan berat” terhadap pangkalan AS dan kapal musuh di kawasan tersebut.
Isu krusial lainnya adalah stok uranium yang diperkaya milik Iran. International Atomic Energy Agency mencatat Iran memiliki lebih dari 440 kilogram uranium dengan kemurnian 60 persen, yang secara teknis sangat dekat dengan tingkat senjata nuklir.
Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Akrami Nia, menyatakan pasukan dalam posisi “siaga penuh” untuk melindungi situs penyimpanan uranium.
“Kami mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka berniat mencurinya melalui operasi infiltrasi atau operasi helikopter,” kata Nia kepada kantor berita IRNA.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga mendesak tindakan fisik untuk melucuti kemampuan nuklir Iran.
Dalam wawancaranya dengan CBS, Netanyahu mengutip pernyataan Trump.
“Trump berkata kepada saya, ‘Saya ingin masuk ke sana,’ dan saya pikir itu bisa dilakukan secara fisik.”
Hingga saat ini, stabilitas di Teluk Persia masih berada di ujung tanduk. Kehadiran kapal-kapal Perancis dan Inggris yang rencananya akan membantu mengamankan jalur pelayaran setelah perang usai juga telah mendapat penolakan keras dari Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang mengancam akan memberikan “respons segera” jika hal itu terealisasi.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Kondisi Terkini Motjaba Khamenei usai Serang Israel-AS, Begini Penjelasan Resmi dari Iran |
|
|---|
| Kepergok Bersama Sang Kekasih di Rumah, Wanita Muda Tewas Dihabisi Tiga Saudaranya |
|
|---|
| Istri Baru Melahirkan, Suami Ketahuan Selingkuh dan Kembali ke Mantan Kekasihnya yang Kini Hamil |
|
|---|
| Nikah di Usia 40 Tahun dan Beri Mahar Besar, Pria Ini Syok Sang Istri Pergi setelah 2 Minggu Menikah |
|
|---|
| 140 Ekor Ayam Mati Diduga Gegara Dentuman Musik DJ Pernikahan, Polisi Turun Tangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Mohammad-Bagher-Ghalibaf-DIINCAR-PRESIDEN-TRUMP.jpg)