Berita Viral

ALASAN Pilu Badut Bunuh Ibu Mertua dan KDRT Istri, Sering Diselingkuh dan Istri Tak Mau Jaga Anak

Badut penjual balon dan mainan anak di Mojokerto telah ditangkap atas perbuatannya membunuh ibu mertua dan menganiaya istri.

Tayang:
TRIBUN MEDAN
MENANTU BUNUH MERTUA - Interogasi tersangka S terkait kasus penganiayaan terhadap ibu dan anak. Perbuatan tersangka mengakibatkan ibu mertua meninggal dan istrinya mengalami luka berat dirawat intensif di rumah sakit. 

TRIBUN-MEDAN.com - Badut penjual balon dan mainan anak di Mojokerto telah ditangkap atas perbuatannya membunuh ibu mertua dan menganiaya istri.

Aksi Satuan alias Tuan (42) memiliki alasan yang cukup sedih. 

Tuan mengurai kisah hidupnya selama menikah dan berujung pada pembunuhan ibu mertua.  

Kasus pembunuhan dan penganiayaan ini sebuah ujung dari masalah hubungannya dengan Sri Wahyuni (35), sang istri. 

Pria 42 tahun ini sering cekcok dengan Sri Wahyuni karena masalah orang ketiga. 

Tuan sudah lama mengetahui istrinya selingkuh.  

Tersangka nekat menghabisi nyawa ibu mertua, Siti Arofah (54), usai terpergok KDRT istri di rumah kontrakan yang baru dihuni delapan bulan di Dusun Sumbertempur RT02/01, Desa Sumbergirang, Puri, Kabupaten Mojokerto, Rabu (6/5/2026) pagi.

Di hadapan penyidik Satreskrim Polres Mojokerto, tersangka berderai air mata saat menceritakan perlakuan yang didapat oleh suami dan menantu sebagai salah satu pemicu terjadinya peristiwa pembunuhan.

"Istri saya selingkuh Pak Polisi, sebenarnya saya sudah tahu sejak lama cuma saya ikuti alurnya. Tapi semakin dibiarin malah seperti itu," ujar tersangka S dengan isak tangis di ruangan Polres Mojokerto, Jumat (8/5/2026).

Tersangka S mengungkapkan, dirinya sama sekali tidak pernah dihargai oleh istrinya meski telah bekerja sampai larut malam menjadi badut penjual balon dan mainan anak-anak di sepanjang jalan Bangsal- Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Tak jarang, ia berjalan kaki sembari mendorong sepeda pancal menempuh puluhan kilometer dari Mojosari ke rumahnya di kawasan Puri.

Ia berjualan seringkali membawa putranya berusia 3,5 tahun dari pernikahannya dengan korban.

"Kok (korban) enggak lihat saya kerja, bawa anak kecil hujan-hujanan sampai panas kepanasan. Saya sering pak jalan (berjualan) dari Mojosari sampai ke rumah, anak juga ikut karena tidak ada yang merawat," ucap tersangka sembari mengelus dada.

Baca juga: Detik-detik Mobil Box Tabrak Kios Pangkas Rambut Saat Pelanggan Sedang Dicukur

Baca juga: PERUSAHAAN Ramai Pecat Generasi Z Padahal Baru Beberapa Bulan Kerja, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Tersangka terpaksa membawa anaknya setiap kali berjualan lantaran si istri tidak mau mengurusnya.

Sang istri bersedia mengurus anak jika semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi.

Sementara, penghasilan dari badut menjual balon dan mainan anak-anak tidak seberapa.

"Dia mau momong kalau kebutuhan terpenuhi semuanya, seperti uang belanja sendiri dan uang sekolah, uang dandan (skincare)," tutur S.

"Sedangkan, seperti saya ini penghasilan tidak tentu. Pokoknya mintanya dipenuhi, akhirnya lari cari yang beruang," sesalnya.

Sebelum kejadian itu, istri tersangka sempat meminta izin bekerja dengan cara diduga tidak benar.

Tersangka otomatis melarang keinginan istri untuk memperoleh uang secara instan dari pekerjaan tersebut.

"Dulu juga pernah izin mau terjun ke gitu (bekerja), terus saya dianggap apa. Seperti enggak ada pekerjaan lainnya saja, pokoknya maunya yang instan," tutur tersangka S.

Penghasilan jadi badut

Tersangka S menyebut, penghasilannya tidak menentu dalam sehari, terkadang mendapat uang sekitar Rp4 ribu hingga Rp25 ribu.

Dirinya juga mengamen di lampu merah dengan pakaian badut, dan pernah sesekali saat ramai mendapat uang Rp300-400 ribu sehari.

"Penghasilan tidak menentu, kalau Minggu berangkat dari rumah pukul 5 pagi pulang jam 10 malam. Kalau mengamen saya sendirian," ungkap dia.

Menurut pengakuan tersangka S, istrinya bekerja di sebuah tempat usaha sablon sepatu kawasan Brangkal, Mojokerto.

Terkadang istri bersedia merawat anak saat tidak ada kerja lembur.

"Istri kalau katanya enggak lembur, mau momong anak. Cuma kerjanya tidak menentu, tidak jelas. Saya terakhir mengantar ke pabrik sablon," beber S.

Sakit hati dibanding-bandingkan

Dari pengakuan tersangka S, dirinya menyimpan amarah yang sudah sangat lama terpendam lantaran si istri berulang kali membandingkan penghasilan yang lebih besar ketimbang suami.

"Sering bilang koyomu karo koyoku enggak onok opo-opoe (Penghasilanmu dengan penghasilanku, tidak ada apa-apanya) yang itu berulang. Dan kalau dinasehati, selalu bantah, lalu bilang gak nyukupi gak usah nuturi (tidak mencukupi tidak usah menasehati)" kata tersangka S.

Namun, apapun alasannya, perbuatan tersangka merampas nyawa orang lain dan menganiaya korban hingga kritis, tidak patut dibenarkan.

"Saya menyesal, tapi saya cuma kepikiran anak yang masih kecil," tutupnya.

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di tribun-jatim.com

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved