Berita Viral
Sebelum Meninggal Dokter Myta Curhat Jadwal Padat, Direktur RSUD: Kalau Dibully Itu Tidak Benar
Selama bertugas, dokter Myta disebut sempat mengeluhkan padatnya jadwal jaga di RSUD
TRIBUN-MEDAN.com - Kasus kematian dokter muda Myta Aprilia Azmy jadi sorotan.
Dokter Myta meninggal, sebelumnya menjalankan tugas program internship atau magang di Rumah Sakit K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.
Apa penyebab meninggalnya sang dokter?
Dokter Myta ternyata sempat curhat terkait padatnya jadwal tugas.
Apakah ada bully-an dari senior Myta?
Kementerian Kesehatan kini melakukan investigasi.
Baca juga: 12 Saksi Dipanggil Oditur Militer, Hari Ini Sidang Kasus Pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN
Kematian dokter muda Myta Aprilia Azmy yang terjadi secara mendadak menjadi perhatian publik.
Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) resmi melaporkan kasus tersebut ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk dilakukan investigasi menyeluruh.
Langkah ini diambil untuk mengungkap penyebab pasti kematian dr Myta, sekaligus menelusuri adanya dugaan perundungan atau bullying selama menjalani program internship atau magang.
Ketua Umum IKA FK Unsri, Achmad Junaidi, mengatakan laporan telah disampaikan ke pemerintah pusat dan saat ini menunggu proses investigasi resmi dari Kemenkes.
"Prosesnya sudah kami laporkan ke pusat. Nanti Kementerian Kesehatan yang akan melakukan investigasi, jadi kita tunggu hasilnya seperti apa," ujar Achmad, Senin (4/5/2026).
Peserta Program Internship
Diketahui, dr Myta merupakan peserta program internship yang sempat bertugas di Rumah Sakit K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.
Ia kemudian meninggal dunia seusai tiga hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Mohammad Hoesin Palembang, Sumatera Selatan, pada Jumat (1/5/2026).
Meski demikian, penyebab pasti kematian masih belum dapat dipastikan.
Baca juga: DUDUK Perkara Korban KA Argo Anggrek Gugat KAI Rp100 M Terkait Tragedi Bekasi, Geram Isi SMS KAI121
IKA FK Unsri menyebut terdapat informasi awal terkait dugaan infeksi paru-paru, tetapi hal itu belum bisa dikonfirmasi secara medis.
"Informasinya ada dugaan infeksi paru-paru, tetapi kami tidak tahu persis karena tidak menangani langsung," ucapnya.
Selain faktor medis, investigasi juga akan menyoroti kemungkinan adanya tekanan atau perundungan di lingkungan kerja selama almarhumah menjalani masa magang.
"Adanya dugaan itu (perundungan) nanti biar diinvestigasi oleh Kemenkes," katanya.
Ia memastikan IKA FK Unsri akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, meski kewenangan penuh berada di bawah Kementerian Kesehatan sebagai penyelenggara program internship.
"Kami siap mengawal sampai selesai. Namun. karena program ini berada di bawah Kementerian Kesehatan, mereka yang akan melakukan investigasi dan menentukan hasil akhirnya," ujarnya.
Sementara itu, perwakilan keluarga, dr Pebri Mahardika, menyebut dr Myta merupakan harapan besar keluarga yang tinggal selangkah lagi menyelesaikan program internship.
Jenazah dr Myta telah dimakamkan di TPU Rengas, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan, Sabtu (2/5/2026).
"Kami masih sangat terpukul. Dari mulai sakit sampai meninggal itu sangat cepat," ungkapnya.
Keluarga berharap kasus ini menjadi perhatian serius agar ke depan ada perbaikan sistem, khususnya terkait perlindungan serta beban kerja dokter internship.
"Kasus ini harus diungkap jelas, jangan sampai ada Myta yang lain," tegasnya.
Keterangan RSUD
Di tengah proses investigasi, pihak RSUD KH Daud Arif memberikan klarifikasi terkait dugaan perundungan.
Direktur RSUD KH Daud Arif, Sahala Simatupang, menyatakan pihaknya telah memanggil sejumlah pihak untuk dimintai keterangan.
"Kalau di-bully, itu tidak benar. Saya sudah panggil dokter. Komite medik juga sudah saya panggil. Semua saya panggil," katanya, dikutip dari Tribun Jambi, Sabtu.
Curhat Jadwal Padat
Curhat terakhir Myta Aprilia Azmy, dokter yang meninggal dunia di ICU RSUP Dr Mohammad Hoesin, Jumat (1/5/2026).
Dokter Myta sempat mencurahkan isi hatinya tentang jadwal yang padat saat bertugas di Jambi.
Kini keluarga besar sang dokter menyatakan mendukung dan menyerahkan sepenuhnya hasil investigasi kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terkait penyebab kematian almarhumah.
Hal ini disampaikan paman almarhumah, dr Febri, saat podcast bersama Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Sabtu (2/5/2026).
“Memang ada dugaan beban kerja berat ataupun faktor lain, namun kami belum mendapatkan data secara lengkap. Saat ini kami masih dalam suasana duka, dan Myta baru dimakamkan pukul 10.00 WIB tadi,” ujar dr Febri.
Ia menambahkan, pihak keluarga juga belum banyak berdiskusi dengan rekan sesama dokter internship yang hadir dari Kuala Tungkal, Jambi.
“Dari Kemenkes juga akan melakukan investigasi di Muara Tungkal pada Senin besok,” katanya.
Menurutnya, keluarga belum dapat menyimpulkan penyebab pasti karena keterbatasan data.
“Kami mengucapkan terima kasih atas respons cepat dari senior, sahabat, serta IKA FK Unsri yang telah mendukung keponakan kami. Apa pun hasilnya, kami serahkan sepenuhnya kepada IKA FK dan Kemenkes,” jelasnya.
Keluarga juga berharap kejadian serupa tidak terulang.
“Kami berharap ke depan tidak ada lagi ‘Myta kedua’. Ini sudah keempat kalinya dokter internship meninggal di tempat tugas,” ujarnya.
Kondisi Kesehatan Sebelum Bertugas
dr Febri menyebut, sebelum menjalani penugasan di RSUD Kuala Tungkal, kondisi Myta dalam keadaan sehat dan telah melalui proses seleksi serta skrining medis.
“Tidak ada riwayat penyakit paru, hasil rontgen dan laboratorium juga baik, sehingga dinyatakan layak mengikuti program internship,” katanya.
Selama bertugas, Myta disebut sempat mengeluhkan padatnya jadwal jaga, namun tidak secara rinci.
“Dia hanya sempat bercerita bahwa jadwal jaga cukup padat. Kami tidak mendalami lebih lanjut karena menganggap itu bagian dari pengabdian,” ujarnya.
Kronologi Sakit hingga Wafat
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Myta sempat mengalami sesak napas, demam, dan batuk saat bertugas di Kuala Tungkal.
Ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit setempat dan kondisinya sempat membaik. Namun, satu minggu kemudian, gejala kembali kambuh.
“Saturasi oksigen sempat turun di bawah 90 persen, bahkan hingga 80 persen. Ia kemudian disarankan berobat ke rumah sakit di Jambi,” jelasnya.
Karena disarankan beristirahat, Myta sempat dibawa ke OKU Selatan. Namun kondisinya kembali memburuk dengan saturasi oksigen turun hingga 75–80 persen.
Akhirnya, Myta dirujuk ke RSUP Dr Mohammad Hoesin dan dirawat di ICU.
“Saat masuk ICU, kondisi sudah sangat berat, dengan saturasi di bawah 70 persen dan harus menggunakan ventilator,” ujarnya.
Setelah menjalani perawatan selama tiga hari, Myta dinyatakan meninggal dunia pada 1 Mei 2026 pukul 11.20 WIB.
Baca juga: Everton vs Manchester City, Haaland CS Wajib Menang, Berikut Klasemen Liga Inggris
Sumber: Tribun Sumsel/TribunJambi.com
Baca juga: Jawaban Ahmad Dhani soal Instagramnya Mendadak Hilang, Tanggapan Maia Estianty?
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/KRONOLOGI-Dokter-Internship-Meninggal-Dunia-Myta-Aprilia-Tetap-Jaga-Malam-Saat-Sesak-Napas.jpg)