Berita Viral
KISAH Ibu-Anak Tinggal di Gubuk Samping Kandang Domba, Mandi Pakai Air Sawah, Makan dari Sisa MBG
Sebuah potret kemiskinan ekstrem di Indonesia masih belum habis. Seorang wanita bernama Riris (21) bersama ibunya Ismawati (54)
TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah potret kemiskinan ekstrem di Indonesia masih belum habis. Seorang wanita bernama Riris (21) bersama ibunya Ismawati (54) tinggal di gubuk berukuran 2x2 meter.
Mereka menempati tanah HGU PG Rajawali II Subang, Jawa Barat.
Gubuk mereka berada di samping kandang domba.
Selain itu gubuk tersebut tidak memiliki fasilitas MCK.
Setiap hari, Riris dan ibu angkatnya harus mandi dan buang air besar (BAB) menggunakan air irigasi di pesawahan belakang gubuk yang mereka tinggali berdua.
Tinggal di gubuk 2x2 meter Ismawati mengaku menjalani hidup sehari-hari bersama anak angkatnya Riris di sebuah gubuk berukuran 2x2 meter.
"Saya di sini tinggal dengan anak angkat saya Riris yang memiliki keterbatasan mental (down syndrome) sejak kecil," ujar Ismawati, saat ditemui Kompas.com, Sabtu (2/5/2026) siang.
Baca juga: Lirik Lagu Batak Ai Adong Do Tuhanku Dipopulerkan oleh Nadia Sister
Baca juga: Gelar Bakti Sosial, IDW Medan Targetkan 120 Kantong Darah
Gubuk yang sangat tidak layak untuk tempat tinggal tersebut terlihat sumpek dan kamarnya hanya cukup untuk kasur lapuk dan untuk menyimpan pakaian.
"Ya seperti ini di, dalam gubuk ini hanya muat untuk satu kasur dan untuk nyimpan baju, masak air kita di luar menggunakan hawu atau tungku kayu bakar, sementara untuk listrik dikasih dari tetangga," katanya.
Ismawati dan Riris rela menjalani kehidupan tersebut karena tak punya pilihan lain.
"Saya tak punya rumah, ini gubuk ukuran 2x2 meter terbuat dari GRC dibuat oleh warga tanpa ada MCK, bahkan mandi dan buang air besar harus ke sawah yang ada di belakang gubuk jaraknya kurang lebih hampir 50 meteran karena harus memutar mengelilingi tanggul sawah," ungkapnya.
Ismawati mengaku, bau kotoran domba setiap hari dirasakannya karena gubuk yang ia tinggali berada di samping kandang domba.
"Kandang domba dengan gubuk yang saya tinggali hanya berjarak 5 meteran. Bau kotoran domba setiap hari dirasakan namun tak ada pilihan lain karena cuma ini tempat tinggal saya sama Riris," katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan, Ismawati mengaku kadang masak kadang dikasih sama tetangga.
"Masak kalau punya beras, kadang makan juga dikasih tetangga," ucapnya.
Selain itu terkadang, dari kepala desa membawa makanan dari sisa MBG di sekolah.
"Kadang setiap hari dapat MBG sisa di sekolah yang anaknya tidak masuk sekolah, suka dikasihkan ke saya" katanya.
Terkait kondisi Riris dan ibunya tersebut, pihak pemerintah kecamatan Cikaum Kabupaten Subang belum bisa dimintai konfirmasi.
(*/tribun-medan.com)
Artikel sudah tayang di kompas.com
| KEPALA BGN Buka Suara Soal Gaji Pencuci Piring MBG Rp 3 Juta, Sedangkan Guru Rp 800 Ribu Per Bulan |
|
|---|
| TAMPANG 2 Pembunuh Dumaris boru Sitio setelah Diringkus, Akhir Pelarian di Kota Binjai |
|
|---|
| NASIB Ketua DPRD Sumedang Sidik Jafar Dipijak Kuda Saat Kirab Budaya, Dilarikan ke RS |
|
|---|
| KELICIKAN 3.000 ASN Pakai Aplikasi Ilegal Demi Presensi Fiktif, Guru Hingga Nakes, Polisi Selidiki |
|
|---|
| DAFTAR Nama Lengkap dan Alamat Keempat Pelaku Perampokan dan Pembunuhan Dumaris Sitio di Rumbai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kemiskinannnsd.jpg)