Berita Viral
Soal MBG Butuh 19.000 Sapi Per Hari, Dalih Kepala BGN: Itu Hanya Pengandaian
Polemik soal kebutuhan belasan ribu sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat penjelasan dari Kepala BGN.
TRIBUN-MEDAN.COM - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjelaskan soal program MBG membutuhkan 19.000 ekor sapi per hari untuk produksi menu makanan.
Kata Dadan, angka yang sempat menjadi sorotan publik itu bukan kebutuhan riil, melainkan sekadar ilustrasi perhitungan.
Dadan Hindayana menegaskan bahwa angka 19.000 ekor sapi hanyalah simulasi berbasis asumsi tertentu bukan kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan.
"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," kata Dadan, seperti dikutip dari Tribunnews.com, Sabtu (25/4/2026).
Dadan menjelaskan, dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bisa mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram. Jumlah itu setara dengan satu ekor sapi untuk sekali produksi.
"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi," ujarnya berandai-andai.
Namun, skenario tersebut hanya berlaku jika seluruh dapur MBG di Indonesia secara bersamaan memasak menu berbahan dasar daging sapi sesuatu yang sejauh ini tidak pernah diterapkan.
Dadan mencontohkan momen peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, ketika menu nasi goreng dan telur disajikan untuk sekitar 36 juta penerima manfaat. Dampaknya cukup signifikan terhadap pasar.
"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp 3.000," ungkapnya.
Lonjakan tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kebijakan menu seragam bisa memberi tekanan besar pada pasokan dan harga pangan.
Untuk menghindari dampak serupa, BGN memilih pendekatan yang lebih fleksibel. Menu MBG disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal serta preferensi masyarakat di masing-masing daerah.
Langkah ini tidak hanya menjaga stabilitas harga di pasar, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal.
"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal supaya tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi, kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," pungkas Dadan.
Antara Kebutuhan Gizi dan Stabilitas Pasar
Penjelasan ini menegaskan bahwa program MBG tidak sekadar soal memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan pasar.
Pemerintah berupaya memastikan program berjalan efektif tanpa memicu gejolak harga pangan.
Dengan pendekatan adaptif ini, MBG diharapkan tetap mampu mencapai tujuannya meningkatkan kualitas gizi masyarakat tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi.
(*/Tribun-medan.com)
Baca juga: Napi Dilibatkan Operasional Dapur MBG di Tangerang, SPPG: Mereka Sudah Dites Kesehatan dan Psikologi
Baca juga: Polemik Paket MBG di SMA Angkasa Pattimura yang Diduga Dibawa Pulang oleh Oknum Guru
Baca juga: FANTASTIS Anggaran Zoom Meeting atau Rapat Daring BGN Rp 5,7 Miliar, Ini Kata Dadan Hindayana
| Pengakuan Ferizka Totok Sirih ke Bayi Sampai Menjerit Klaim Bisa Sembuhkan Kanker Sejak SD |
|
|---|
| Begal yang Digebuki Warga di Deli Tua Ngadu ke Polisi, Padahal Ngaku Sering Bacok Pengendara Motor |
|
|---|
| NASIB Iptu N Tembak Remaja Berujung Tewas Saat Bubarkan Tawuran, Polri Kini Lakukan Evaluasi Anggota |
|
|---|
| Fantastis Harta Suratno Ketua DPRD Magetan Nangis Bak Bocil Saat Ditetapkan Tersangka Korupsi |
|
|---|
| JAWABAN Kubu Rismon Sianipar Dilaporkan Kasus Penipuan Buku 'Gibran End Game', Korban Rugi Rp 6 Juta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kepala-BGN-Dadan-2.jpg)