Berita Viral
Profil Prof Ferry Latuhihin, Sebut MBG Tidak Bisa Didanai Lagi Dampak Buruknya Ekonomi Indonesia
Prof Ferry Latuhihin, pengamat ekonomi dan analis pasar modal memprediksi MBG tak bisa didanai oleh pemerintah.
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Ringkasan Berita:
- Profesor Ferry Latuhihin, pengamat ekonomi dan pasar modal menuai sorotan usai bicara soal MBG
- Menurut Ferry, proyek MBG ini diprediksi bakal dihentikan pada Juni atau Juli 2026 akibat defisitnya keuangan negara
- Ferry mewanti-wanti pemerintah untuk tidak menghabiskan anggaran ke hal yang justru malah menambah utang negara
TRIBUN-MEDAN.COM,- Sosok danm profil Profesor Ferry Latuhihin kembali mencuri perhatian warganet.
Ferry Latuhihin adalah pengamat ekonomi dan analis pasar modal.
Saat menjadi narasumber di podcast yang dipandu Hendri Satrio, Prof Ferry Latuhihin sempat menyinggung proyek makan bergizi gratis (MBG) pemerintah dan kondisi ekonomi Indonesia.
Dalam acara tersebut, semula Ferry Latuhihin dan Hendri Satrio membahas soal perang yang berdampak pada masalah kenaikan harga minyak.
Baca juga: Profil Japto Soerjosoemarno, Ketua Pemuda Pancasila yang Diperiksa KPK Terima Setoran Tambang
Kemudian, mereka pun membahas masalah MBG.
Prof Ferry Latuhihin mengatakan, bahwa proyek MBG kemungkinan akan dihentikan jika ekonomi atau keuangan negara Indonesia tidak baik.
"Yang menjadi sorotan feeds adalah MBG bos. Ini dana tidak kecil Rp 335 triliun, sementara fiskal kita reot. (5:38) Defisit kita udah 2,96 persen," kata Ferry Latuhihin, dilihat di kanal Youtube Hendri Satrio Official, Kamis 12 Maret 2026.
Ferry mengatakan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengatakan bahwa dia akan memotong anggaran MBG senilai Rp 100 triliun.
Jika hal itu tidak dilakukan, kata Ferry, maka defisit ekonomi Indonesia akan loncat loncat 3,5 % .
"Dan ini bahaya," kata Ferry.
Baca juga: Profil Ayu Kynbraten, Semifinalis Miss Universe Norway 2026 Berdarah Minang Banjir Pujian
Ia mengatakan, yang jadi pertanyaan saat ini adalah jika harga minyak dunia ini tidak turun-turun karena perang akan lama.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar kian melemah.
"Pertama harga minyak yang kuotnya dalam dolar, dan dolarnya sendiri naik ke Rp 17 ribu. Berarti double hit ya. Ini ada kemungkinan fiskal kita tidak sustainable, dan ada kemungkinan sama sekali, bulan Juni, bulan Juli, ini MBG tidak lagi bisa didanai," kata Ferry.
Ia mengatakan, hal itu terjadi karena pemerintah sudah tidak punya uang.
Baca juga: Profil Pierre Kalulu, Pemain Juventus yang Jadi Incaran Liverpool dan MU
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Ferry-Latuhihin-singgung-soal-MBG.jpg)