Kecelakaan Bus ALS di Muratara

Firasat Terakhir Sopir ALS Sebelum Tewas Kecelakaan, Sang Istri: Dia Berbeda Hari Itu

Matanya sembab, wajahnya pucat, sesekali tubuhnya bergetar menahan tangis yang terus pecah.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN MEDAN/Haikal Faried Hermawan
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution menemui salah satu keluarga korban kecelakaan maut di PT. ALS, Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, Kamis (7/5/2026).  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Tangis duka tak henti pecah di loket PT ALS di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, Kamis (7/5/2026) sore.

Di sudut ruangan loket yang dipenuhi suara lalu lalang penumpang dan deru bus yang datang silih berganti, seorang perempuan bernama Siti (40) tampak terduduk lemah sambil menggenggam telepon genggamnya erat-erat.

Matanya sembab, wajahnya pucat, sesekali tubuhnya bergetar menahan tangis yang terus pecah.

Perempuan itu baru saja menerima kenyataan pahit bahwa suaminya, Zulpan (44), menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan maut bus ALS yang bertabrakan dengan truk tangki di Jalan Sumatra, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026).
Di sampingnya, anak perempuan mereka yang masih duduk di bangku SMP hanya tertunduk diam.
Sesekali ia mengusap air mata sambil memeluk ibunya. Beberapa anggota keluarga lain tampak mencoba menenangkan Siti yang berkali-kali tak kuasa menahan isak.
Kedatangan Siti ke loket ALS bukan untuk menunggu kepulangan suaminya seperti biasanya. Hari itu, ia datang untuk mengurus dokumen pemulangan jenazah lelaki yang selama ini menjadi tulang punggung keluarganya.
Suasana duka semakin terasa ketika Siti mulai menceritakan kenangan terakhir bersama sang suami.
Dengan suara pelan dan terbata-bata, ia mengaku terus teringat momen saat Zulpan berpamitan pergi bekerja pada Sabtu (24/4/2026).
Menurutnya, ada sesuatu yang berbeda dari sikap sang suami hari itu. Zulpan yang biasanya ceria dan banyak bicara justru tampak lebih pendiam.
Tatapannya kosong, seolah menyimpan sesuatu yang tak bisa diucapkan.
“Udah kubilang, ‘Aku pergi ya’, diam aja dia. Gak open (peduli) lagi dia,” ucap Siti sambil menatap kosong ke arah jalan.
Ia mengaku sempat memeluk suaminya sebelum berangkat.
Namun respons yang diterimanya justru membuat hatinya kini terasa semakin perih untuk dikenang.
“Sampai kupeluk pun dia bilang, ‘Awas jauh-jauh’,” katanya, lalu kembali menangis.
Tak hanya kepada istrinya, perubahan sikap Zulpan juga dirasakan anak-anak mereka.
Biasanya, sebelum berangkat bekerja, Zulpan selalu mencium anak perempuannya dan bercanda sejenak.
Namun hari itu berbeda. Ia justru lebih banyak diam dan memilih menelepon anak laki-lakinya cukup lama.
“Biasanya gak pernah dia telponan lama begitu sama anak kami. Jadi kayak ada firasat gitu sekarang kupikir,” ujar Siti lirih.
Siti mengatakan, selama ini suaminya dikenal sebagai pekerja keras.
Bertahun-tahun menjadi sopir bus ALS lintas Sumatera dijalani Zulpan demi menghidupi keluarga.
Meski pekerjaannya penuh risiko dan membuatnya lebih sering berada di jalan daripada di rumah, Zulpan disebut tak pernah mengeluh.
“Dia kerja terus untuk anak-anak. Kadang berhari-hari gak pulang karena narik bus,” katanya sambil mengusap air mata.
Kabar kecelakaan itu pertama kali diterimanya pada Rabu malam sekitar pukul 19.00 WIB.
Saat itu, ia sedang mencuci piring di rumah mereka di kawasan Titi Kuning, Medan.
Tiba-tiba seorang teman menghubungi dan mengatakan bahwa bus ALS yang mengalami kecelakaan adalah bus yang dikemudikan suaminya.
Namun Siti menolak percaya. Dalam pikirannya, Zulpan pasti akan pulang malam itu seperti biasa.
“Terus kubilang, ‘Bukan itu, suamiku pulang malam ini’,” ucapnya sambil sesenggukan.
Tak lama setelah itu, telepon genggamnya terus berdering tanpa henti. Pesan belasungkawa datang bertubi-tubi dari keluarga, kerabat, hingga rekan sesama sopir.
Saat itulah, Siti mulai merasa lemas.
“Menjerit lah aku di situ. Gak nyangka aku. Gak rela aku dia pergi,” katanya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Kini, di tengah kesedihan mendalam yang masih menyelimuti keluarganya, Siti hanya berharap proses identifikasi dan pemulangan jenazah suaminya bisa berjalan lancar agar Zulpan dapat segera dimakamkan di kampung halaman dengan layak.
Bagi Siti, kepergian Zulpan bukan hanya kehilangan seorang suami, tetapi juga sosok ayah, sahabat hidup, dan tulang punggung keluarga yang selama ini selalu berjuang di balik kemudi bus lintas Sumatera.

(Cr9/Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved