Menelusuri Jejak Budaya Kuno Padang Lawas, Unimed Lakukan Riset Kolaboratif terkait Sejarah Lisan 

Riset kolaboratif lintas perguruan tinggi dan lembaga ini menyasar wilayah-wilayah yang dikenal kaya akan jejak peradaban lama

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
IST
RISET SEJARAH- Tim peneliti lintas perguruan tinggi yang dipimpin Dr Muharrina Harahap saat melakukan eksplorasi sejarah lisan dan tinggalan budaya di wilayah Padang Lawas dan Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, Januari 2026. Riset ini bertujuan mendokumentasikan tradisi lisan serta jejak peradaban kuno masyarakat Batak Angkola dan Mandailing. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejarah lisan yang selama ratusan tahun hanya hidup dalam ingatan masyarakat Batak Angkola dan Mandailing di Tapanuli bagian selatan, kini mulai didokumentasikan secara serius.

Upaya itu dilakukan melalui ekspedisi besar yang dipimpin dosen Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Muharrina Harahap, yang menelusuri tinggalan budaya dan tradisi lisan di Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara.

Riset kolaboratif lintas perguruan tinggi dan lembaga ini menyasar wilayah-wilayah yang dikenal kaya akan jejak peradaban lama, mulai dari Portibi, Huristak, Purba Sinomba, Gunung Tua, hingga Sosa.

“Masih banyak rumpang sejarah lisan di kawasan ini yang belum terhubung dan belum berhasil dijawab. Padahal, ingatan kolektif masyarakat menyimpan pengetahuan penting tentang asal-usul, identitas, dan kebudayaan mereka,” ujar Muharrina, Senin (19/1/2026).

Penelitian yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI ini bertujuan menggali dan mendokumentasikan tradisi lisan yang telah berusia ratusan tahun, sekaligus mengaitkannya dengan tinggalan budaya fisik dan nonfisik.

Baca juga: Pejabat Pemkab Langkat Ziarah ke Makam Raja-raja, Momentum Tanamkan Kecintaan Sejarah dan Budaya  

Di Padang Lawas, tim menelusuri peninggalan berwujud seperti candi-candi kuno dan manuskrip, serta warisan tak berwujud seperti toponimi atau asal-usul nama tempat, bahasa, dan cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat.

Wilayah Portibi dan Huristak menjadi titik krusial dalam ekspedisi ini. Di Huristak, tim menemukan kekayaan budaya berupa bagas godang, rumah adat tradisional masyarakat Mandailing, sementara kawasan Portibi dikenal sebagai lokasi peninggalan candi Hindu-Buddha yang menandakan kuatnya jejak peradaban masa lampau.

Ekspedisi dilakukan secara bertahap sejak 9 hingga 19 Januari 2026, meliputi Purba Sinomba, Gunung Tua, Lantosan, Portibi, Sungai Durian, Batang Onang, hingga Huristak, Binanga, Aek Nabara, Aek Haruaya, Sibuhuan, dan Sosa.

Riset ini melibatkan sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Atisah, Erli Yetti, Ninawati Syahrul, Agus Iswanto, dan Harits Fadly.

Selain itu, turut bergabung dosen dari berbagai perguruan tinggi, seperti Ricu Sidiq (Unimed), Nurhayati Harahap (USU), Rosliani (Balai Bahasa Sumatera Utara), dan Khairul Anam (UMSU).

Sebanyak lima mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni Unimed, juga dilibatkan dalam kegiatan ini, yakni Sultan Rasyid Hamonangan Hasibuan, Nila Angita Nasution, Nadila Syafitri Harahap, Mayang Sari Marpaung, dan Muhammad Syahrian Singh.

Dalam proses pengumpulan data, tim menggali informasi langsung dari pengetua adat, tokoh masyarakat, praktisi budaya, anggota legislatif, hingga pejabat pemerintah setempat.

Muharrina berharap, hasil ekspedisi ini tidak berhenti sebagai catatan akademik, tetapi dapat menjadi rujukan penting bagi Pemerintah Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara dalam menyusun kebijakan pelestarian adat, tradisi, dan tinggalan budaya.

“Dokumentasi ini penting agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan tidak punah tergerus zaman,” katanya.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved