PSMS Lakukan Pelanggaran Berulang, Komdis PSSI Jatuhkan Denda Rp100 Juta

Tim PSMS Medan kembali menerima sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI setelah pertandingan melawan Sumsel United FC

TRIBUN MEDAN/HO
SANKSI KOMDIS - Pemain PSMS Medan mengatur strategi saat menghadapi FC Bekasi City. Tim PSMS Medan kembali menerima sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI setelah pertandingan melawan Sumsel United FC dengan total Rp100 juta. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tim PSMS Medan kembali menerima sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI setelah pertandingan melawan Sumsel United FC pada lanjutan kompetisi Pegadaian Championship musim 2025/2026  di Stadion Utama Sumatera Utara, 14 Februari 2026 lalu.

Berdasarkan hasil sidang Komdis PSSI, terdapat sejumlah pelanggaran yang terjadi dalam pertandingan tersebut, baik yang melibatkan pemain, suporter, hingga panitia pelaksana pertandingan (panpel). 

Atas pelanggaran tersebut, PSMS Medan dan panpel pertandingan dikenai beberapa sanksi berupa denda dengan total nilai mencapai Rp100 juta. Salah satu sanksi diberikan kepada pemain PSMS Medan, Clayton Da Silveira Da Silva. Ia dinilai melakukan pelanggaran karena tidak membawa kartu identitas (ID Card) hingga jeda pertandingan babak pertama.

Atas pelanggaran tersebut, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi kepada klub PSMS Medan berupa denda sebesar Rp25 juta.

Selain itu, klub berjuluk Ayam Kinantan tersebut juga kembali dikenai denda Rp25 juta karena dinilai melakukan pelanggaran berulang. Dalam laporan pertandingan disebutkan bahwa pada menit ke-43 terdapat yel-yel dari suporter PSMS Medan di Tribun Selatan yang menghina perangkat pertandingan.

Tak hanya itu, Komdis PSSI juga menjatuhkan denda Rp30 juta kepada PSMS Medan setelah ditemukan adanya sejumlah suporter dari Tribun Selatan yang memasuki area lapangan pertandingan setelah laga usai. Para suporter tersebut bahkan membentangkan spanduk dan berfoto bersama pemain PSMS Medan di dalam lapangan.

Dalam kejadian yang sama, Komdis juga mencatat adanya pemain PSMS Medan yang memasuki area lapangan pertandingan bersama keluarganya setelah pertandingan berakhir.

Sementara itu, panitia pelaksana pertandingan PSMS Medan juga turut dikenai sanksi berupa denda sebesar Rp20 juta. Panpel dianggap gagal menjalankan tanggung jawab dalam menjaga ketertiban dan keamanan pertandingan, terutama terkait masuknya suporter ke area lapangan serta adanya pemain yang kembali ke lapangan bersama keluarganya setelah laga selesai.

Menanggapi sanksi tersebut, Presiden Direktur PSMS Medan, Fendi Jonathan, mengaku cukup bingung dengan beberapa poin pelanggaran yang dijatuhkan oleh Komdis PSSI. Menurutnya, beberapa kejadian yang menjadi dasar sanksi justru terjadi setelah pertandingan berakhir. “Agak bingung juga ya bisa seperti itu. Beberapa poin seperti ada spanduk dan segala macam itu kan setelah game. Saya pun bingung kenapa masih dikenai denda seperti itu,” ujar Fendi Jonathan kepada Tribun Medan, Senin (9/3).

Ia juga mengungkapkan bahwa pihak klub saat ini masih melakukan koordinasi dengan panitia pelaksana pertandingan untuk membahas sanksi tersebut.

Fendi menjelaskan bahwa sebagian denda memang ditujukan kepada panpel sehingga pihak klub perlu berkoordinasi lebih lanjut sebelum mengambil langkah berikutnya. “Kita lagi koordinasi dengan panpel, karena dendanya itu kan ke panpel juga. Kita lihat nanti bagaimana. Paling nanti kita akan bersurat ke Komdis, tapi saat ini masih terus koordinasi dengan panpel,” katanya. 

Baca juga: Grup A Liga 4 Sumatera Utara, PS Kwarta Nilai Binjai City SC Tim yang Paling Siap

Denda Paling Banyak

FENDI menyinggung fakta bahwa PSMS Medan menjadi salah satu tim yang paling banyak menerima sanksi denda dari Komdis PSSI pada kompetisi Liga 2 musim ini. Menurutnya, Komdis memang menilai sejumlah pelanggaran berasal dari perilaku suporter. Namun ia menilai kejadian serupa sebenarnya juga banyak terjadi di klub-klub lain.

“Ya memang diakui oleh Komdis. Saya juga sudah sempat rapat dengan mereka. Mereka tetap menyalahkan suporter dan yang lain-lain. Tapi saya bilang suporter tidak hanya PSMS, di klub lain juga banyak, bahkan di Liga 1 juga ada,” ujarnya.

Ia menambahkan, besarnya jumlah suporter PSMS Medan yang hadir di stadion juga menjadi salah satu faktor yang membuat potensi pelanggaran lebih besar dibandingkan tim lain di Liga 2. “Di Liga 2 mungkin PSMS yang suporternya paling besar. Jadi mungkin itu juga risikonya. Tapi ini jadi pembelajaran bagi kita semua ke depannya,” kata Fendi. (cr29/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved