Jumat, 3 Juli 2026

Pengembangan Vermikompos Bantu Petani Aek Korsik Tingkatkan Produktivitas

Pengembangan Vermikompos Bantu Petani Aek Korsik Tingkatkan Produktivitas

Tayang:
Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Petani menunjukkan hasil panen semangka dari lahan demplot yang menggunakan vermikompos sebagai alternatif pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas pertanian 

TRIBUN-MEDAN.com, LABUHAN BATU UTARA, SUMUT – Di tengah tantangan harga pupuk kimia yang terus meningkat dan ketersediaannya yang kerap terbatas, pemanfaatan vermikompos berbahan limbah kotoran sapi menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam membantu petani di Desa Aek Korsik, Labuhanbatu Utara, Sumatra Utara, meningkatkan produktivitas pertanian.(3/7/26)

Melalui demonstrasi plot (demplot) budidaya semangka yang dikembangkan oleh PT SMART Tbk, anak usaha dari Sinar Mas Agribusiness and Food, bersama Sekolah Tani Indonesia (STI), petani dapat melihat secara langsung manfaat penggunaan vermikompos sebagai alternatif pupuk organik.

Selama bertahun-tahun, limbah kotoran sapi di Desa Aek Korsik belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian petani telah menggunakannya secara langsung sebagai pupuk, namun cara tersebut berisiko merusak tanaman karena unsur haranya belum siap diserap, sekaligus berpotensi memicu hama dan penyakit.

 

Melihat kondisi tersebut, PT SMART Tbk bersama Sekolah Tani Indonesia (STI) mendampingi masyarakat mengolah limbah kotoran sapi melalui teknologi vermicomposting sejak Agustus 2025. Dalam proses ini, cacing tanah jenis African Night Crawler dimanfaatkan untuk menguraikan limbah ternak menjadi vermikompos, yaitu pupuk organik yang membantu memperbaiki kesuburan tanah secara alami.

Program ini melibatkan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Jaya di Desa Aek Korsik yang saat ini beranggotakan 10 orang. Melalui pendampingan tersebut, para petani memperoleh pelatihan untuk menerapkan teknologi vermicomposting secara langsung di tingkat kelompok.

 

Pendampingan ini tidak hanya menghasilkan pupuk organik yang membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, dan mendukung perkembangan akar tanaman, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui budidaya cacing. Selain menguraikan limbah menjadi pupuk, cacing juga memiliki nilai ekonomi untuk berbagai kebutuhan, seperti pakan ikan dan bahan baku industri.

 

Cacing tanah African Night Crawler
Cacing tanah African Night Crawler dimanfaatkan untuk mengolah limbah kotoran sapi menjadi vermikompos, pupuk organik yang membantu meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas pertanian


 
Melalui pendekatan tersebut, limbah kotoran sapi yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini dapat diolah menjadi pupuk organik sehingga mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia. Kesuburan tanah yang lebih baik diharapkan dapat mendukung budidaya berbagai komoditas, mulai dari sayuran, buah, hingga kelapa sawit, sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat

Untuk melihat manfaatnya secara langsung, petani bersama tim pendamping mengembangkan demplot budidaya semangka di lahan seluas 1.000 meter persegi. Melalui lahan percontohan ini, penggunaan vermikompos dibandingkan dengan pupuk kimia konvensional agar petani dapat melihat sendiri perbedaannya di lapangan.

Hasil pengamatan menunjukkan tanaman semangka yang menggunakan vermikompos memiliki perkembangan akar yang lebih baik, kondisi tanah yang lebih gembur, serta daya tahan tanaman yang lebih tinggi dibandingkan tanaman yang menggunakan pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia juga dapat dikurangi hingga sekitar 30 persen, sementara produktivitas meningkat sekitar 15 persen.

 

Legimin, salah satu petani dari Dusun Patok Besi, Desa Aek Korsik, mengatakan perubahan tersebut terlihat nyata selama satu musim tanam. “Kami dapat melihat langsung perbedaan kondisi tanaman dan kualitas tanah. Vermikompos memberikan hasil yang sangat menjanjikan dan berpotensi menekan biaya produksi budidaya semangka, sementara tanaman juga terlihat lebih kuat dan sehat," ujarnya.

Senada, Fatoni Saputra, Penanggung Jawab Program Sekolah Tani Indonesia, menyebut demplot menjadi cara paling efektif untuk menunjukkan bahwa limbah ternak dapat diubah menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata bagi petani.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Round of 32 - Babak 32 Besar
Jumat, 3 Juli 2026 | 02:00 WIB
Spain
Spanyol
3 - 0
Austria
Austria
Round of 32 - Babak 32 Besar
Jumat, 3 Juli 2026 | 06:00 WIB
Portugal
Portugal
2 - 1
Croatia
Kroasia
Round of 32 - Babak 32 Besar
Jumat, 3 Juli 2026 | 10:00 WIB
Switzerland
Swiss
2 - 0
Algeria
Aljazair
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved