ITB Peduli Salurkan IPA Mini, Atasi Krisis Air Bersih Pascabanjir di Tanjung Pura Langkat
ITB Peduli Salurkan IPA Mini, Atasi Krisis Air Bersih Pascabanjir di Tanjung Pura Langkat
TRIBUN-MEDAN.com, LANGKAT - Bencana banjir yang melanda Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada penghujung 2025 berdampak serius terhadap akses sanitasi dan air bersih warga, khususnya di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat.
Hasil pengamatan lapangan menunjukkan, banjir menyebabkan sumur-sumur warga terkontaminasi akibat intrusi air permukaan yang membawa sedimen dan polutan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit bawaan air (water-borne diseases) di tengah masyarakat terdampak.
Menanggapi situasi tersebut, Tim ITB Peduli–Diktisaintek Program Sumut melakukan asesmen cepat dan menetapkan penyediaan air bersih sebagai prioritas utama penanganan darurat. Keputusan ini merujuk pada Sphere Handbook dan Buku Saku Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL), yang menyebutkan bahwa setiap individu dalam kondisi darurat wajib mendapatkan akses minimal 15 liter air bersih per orang per hari untuk kebutuhan dasar seperti mandi, kakus, cuci, dan memasak.
Dosen Program Studi Teknik Lingkungan ITB, Dr Mayrina Firdayati, menyebutkan bahwa pemulihan akses air bersih merupakan langkah paling krusial pascabencana banjir untuk mencegah krisis kesehatan masyarakat.
Awalnya, tim merencanakan pembangunan toilet panggung di lokasi terdampak. Namun, berdasarkan hasil asesmen, fasilitas toilet di sejumlah titik pengungsian masih tersedia dan secara struktur layak, meski tidak dapat digunakan secara saniter karena tidak adanya suplai air.
“Oleh karena itu, sumber daya dialihkan sepenuhnya untuk penyediaan air bersih,” ujar Ketua Tim ITB Peduli–Diktisaintek Program Sumut, Dr Lulu Lusianti Fitri, setelah menerima masukan dari pengamat yang terafiliasi dengan Rumah Amal Salman (RAS) – Ikatan Alumni ITB (IA ITB) Sumut.
Sebagai solusi, tim mengembangkan dan menghibahkan tiga unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mini kepada Pemerintah Kecamatan Tanjung Pura. Unit ini dirancang menggunakan komponen yang tersedia di kota Medan, meski menghadapi tantangan kelangkaan barang dan fluktuasi harga pascabencana. Strategi tersebut juga bertujuan untuk menggerakkan roda ekonomi wilayah terdampak.
IPA Mini memiliki kapasitas produksi lebih dari 1.000 liter air bersih per jam, dengan estimasi 1.200 hingga 1.500 liter per jam, tergantung kondisi air baku. Sumber air baku berasal dari sumur dangkal terdampak banjir maupun air sungai yang relatif tidak terlalu keruh.
Teknologi IPA Mini terdiri dari dua tahap filtrasi, yakni media silika serta media karbon dan mangan, yang dilengkapi dengan satu unit ultrafiltrasi untuk menyaring bakteri, virus, bahan organik, dan polutan lainnya. Sistem ini juga dilengkapi fasilitas backwash, pompa air baku, pompa distribusi, serta tangki air berkapasitas 1.100 liter.
| UP3 Sibolga Sigap Pulihkan Listrik Pascabanjir & Longsor di Tapanuli Tengah & Humbang Hasundutan |
|
|---|
| Telkomsel Salurkan Bantuan CSR Logistik untuk Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh Utara |
|
|---|
| Konsistensi Indako dan Yayasan AHM Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Sumatera Utara |
|
|---|
| Panin Dai-ichi Life Salurkan Bantuan Rp100 Juta untuk Korban Bencana Hidrometeorologi di Sumatera |
|
|---|
| Bersama Komdigi, Telkomsel Salurkan Genset, Alat Komunikasi dan Sumur Bor untuk Pulihkan Sumatra |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/IPA-MINI-mobile.jpg)