Ramadan 2025

Mengenal Sejarah Masjid Agung Sidikalang, Dulu Bernama Masjid Raya

Masjid Agung Sidikalang merupakan salah satu Masjid ikonik di Kota Sidikalang, Kabupaten Dairi, Jumat (21/3/2025).

TRIBUN MEDAN/ALVI SUWITRA
MASJID DI DAIRI: Masjid Agung yang berada di Jalan Sisingamangaraja, Kota Sidikalang Kabupaten Dairi. Masjid tersebut dibangun tahun 1960, dan direnovasi oleh Presiden ke 2, Soeharto melalui program Amal Bakti Pancasila, Jumat (21/3/2025). 

TRIBUN-MEDAN.com, SIDIKALANG - Masjid Agung Sidikalang merupakan salah satu Masjid ikonik di Kota Sidikalang, Kabupaten Dairi, Jumat (21/3/2025).

Terletak di Jalan Sisingamangaraja, Masjid tersebut tepat berada di samping Kantor Bupati Dairi. Selain itu, lokasi yang sangat strategis membuat Masjid tersebut ramai dikunjungi baik masyarakat setempat, maupun pengendara yang sedang melintas.

Awalnya, Masjid tersebut berada di Masjid Lama pada tahun 1939, yang berada di Jalan Sudirman Kota Sidikalang. Karena jamaah semakin bertambah, maka Masjid tersebut pindah ke lokasi sekarang karena lebih luas.

"Awalnya Masjid Agung ini berada di tempat Masjid Lama. Setelah kita (Indonesia) merdeka, sekitar tahun 1960an pindah kemari," ujar Penasihat Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Sidikalang, Raja Ardin Ujung, Jumat (21/3/2025).

Masjid Agung merupakan salah satu Masjid yang mendapat program renovasi pada saat masa pemerintahan Presiden Soeharto melalui Yayasan Amal Bakti Pancasila.

"Dulu namanya Yayasan Amal Bakti Pancasila. Itu programnya seluruh Masjid, termasuk di Kabupaten Dairi ada 2 Masjid yang dapat. Salah satunya disini. Kemudian diresmikan oleh Harmoko, " kata Raja Ardin.

Sebelum berdirinya Masjid Agung, dahulunya lokasi tersebut merupakan lahan kosong yang diberikan oleh pemilik hak ulayat tanah Marga Ujung.

Bahkan, sebelum menjadi nama menjadi Masjid Agung, awalnya Masjid tersebut bernama Masjid Raya, dengan dinding bangunan terbuat dari kayu. Maka tak heran, jika banyak orang yang menyebut Masjid Agung sebagai Masjid Raya.

"Setelah ada program Amal Pancasila itu, baru lah terbuat dari kayu, menjadi bangunan permanen. Itu kira - kira di tahun 1960," sebutnya.

Hingga pada akhirnya, bangunan tersebut kembali dilakukan renovasi di tahun 2024, dengan penambahan bangunan berupa menara, dan perbaikan atap Masjid hingga memperindah bagian dinding luar.

Seluruh pembangunan tersebut merupakan sumbangan dari para jamaah yang memberikan sumbangan melalui kotak infaq, dengan anggaran diperkirakan mencapai Miliaran rupiah.

"Semua berasal dari sumbangan para jamaah. Tidak ada sumbangan darimana pun. Karena disini banyak jamaah, maupun para musafir yang memberikan sumbangan melalui kotak infaq, " jelasnya.

Terkait pelaksanaan Sholat Ied Idul Fitri nantinya, akan digelar di halaman Masjid yang cukup menampung hingga ribuan jamaah.

"Bisa menampung seribu sampai dau ribu jamaah. Semua dilakukan di lapangan Masjid, baik Sholat Idul Fitri maupun Idul Adha, " tutupnya

(Cr7/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter   dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved