Jadi Raja Usia 19 Tahun, Sisingamangaraja XII Berperang Selama 29 Tahun Melawan Belanda

Raja Sisingamangaraja XII dikenal sebagai raja di Tanah Batak dan pejuang yang berperang melawan Belanda selama Perang Batak yang berlangsung 29 tahun

Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan/HO
Kolase Raja Sisingamangaraja XII, raja di Tanah Batak dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam Perang Batak yang berlangsung selama 29 tahun, sejak 1878 hingga 1907. 

TRIBUN-MEDAN.com - Raja Sisingamangaraja XII dikenal sebagai raja di Tanah Batak dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam Perang Batak yang berlangsung selama 29 tahun, sejak 1878 hingga 1907.

Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 November 1961 berdasarkan SK Presiden RI No 590/1961.

Bagaimana kisah perjuangan Raja Sisingamangaraja XII melawan Belanda?

Sisingamangaraja XII lahir dengan nama asli Patuan Bosar Sinambela dan bergelar Ompu Pulo Batu.

Ia lahir tahun 1849 di Bakkara, sebelah barat daya Danau Toba, yang kini masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatra Utara (Sumut).

Patuan Bosar Sinambela diangkat menjadi raja pada 1876, meneruskan takhta ayahnya yang meninggal dunia. Ketika itu, usia Sisingamangaraja XII masih 19 tahun.

Sisingamangaraja dianggap sebagai raja dewa dan titisan Batara Guru. Sisingamangaraja diyakini memiliki kekuatan gaib seperti mengusir roh jahat, mengeluarkan hujan, dan bisa mengendalikan penanaman padi.

Mulanya, Sisingamangaraja XII tidak dilihat sebagai tokoh politik. Tetapi, saat penjajah Belanda datang ke Sumut sejak tahun 1850, ia bersama ayahnya mulai melawan para penjajah.

Setelah Belanda melanjutkan invasi ke Tanah Batak, para raja kampung yang beragama Kristen menerima masuknya kolonial. Sementara Sisingamangaraja XII, yang memiliki hubungan dekat dengan Kesultanan Aceh, menolak. 

Sisingamangaraja XII menolak Zending karena sang raja Batak khawatir kepercayaan dan tradisi animisme rakyat Batak akan terkikis oleh adanya perkembangan agama Kristen dari luar daerah mereka. Ia pun kemudian mengusir para misionaris dari Tanah Batak.

Pada tahun 1877, para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada Pemerintah Kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Sisingamangaraja XII.

Kemudian, Pemerintah Kolonial Belanda dan para misionaris sepakat untuk tidak hanya menyerang markas Sisingamangaraja XII di Bakara tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba.

Pada 6 Februari 1878, pasukan Belanda tiba di Pearaja, tempat kediaman misionaris Ingwer Ludwig Nommensen.

Kemudian, pasukan Belanda terus menuju ke Bahal Batu, Tarutung, untuk menyusun benteng pertahanan.
Kehadiran tentara kolonial ini memprovokasi Sisingamangaraja XII, yang kemudian mengumumkan perang pada 16 Februari 1878. Sejak saat itu, terjadi perang antara Belanda yang disebut sebagai Perang Batak.

Sisingamangaraja XII kemudian mengadakan upacara untuk menggalang semua orang Batak di balik perang melawan Belanda.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved