Batu Malin Kundang
Terbayang Kisah Durhakanya, Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis Padang Empat Hari Terendam Air
Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Padang melakukan 'penyelamatan' Batu Malin Kundang tenggelam dengan menyedot air di area sekitar objek wisata.
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Kota Padang sudah empat hari tergenang air, Selasa (29/8/2023).
Objek wisata di Kota Padang ini sudah tergenang air sejak pekan lalu.
Hingga kini, air masih menggenangi lokasi batu yang memiliki cerita kelam tersebut.
Dikutip dari Tribunpadang.com, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Padang melakukan 'penyelamatan' Batu Malin Kundang tenggelam dengan menyedot air di area sekitar objek wisata.
"Insya Allah hari ini kita sedot," ujar Yudi Indra Sani saat dihubungi TribunPadang.com.
Baca juga: OTW Los Angeles, Ini Jadwal Penampilan Putri Ariani di Live Show Americas Got Talent 2023
Yudi Indra Sani mengatakan penyedotan air di lokasi tersebut terkendala alat yang sedang rusak.
Meskipun begitu, Dispar Padang mengupayakan agar bisa menggunakan penyedot milik BPBD Padang.
Baca juga: Curiga dengan Gelagatnya, Pria Ini Rekam Aktivitas Wanita Selama 2 Jam, Ternyata Pelaku Pencurian
"Jika alatnya belum siap, kita pinjam dari BPBD, kabid masih menjemput alatnya" ujar Yudi.
Sebelumnya diberitakan, objek wisata batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Kota Padang, Sumatera Barat tenggelam.
Saat TribunPadang.com berkunjung, Senin (28/8/2023) sore, lokasi batu Malin Kundang terlihat digenangi air.
Air yang menggenang terlihat cukup tinggi. Akibatnya relief Malin Kundang yang dalam keadaan sujud pun hilang.
Baca juga: Danpomdan Jaya Sebut Video Viral Pria Dicambuk di Mobil Bukan Kasus Penganiayaan Imam Masykur: Hoax!
Tak hanya itu, relief puing-puing kapalnya pun juga tenggelam. hanya beberapa saja yang terlihat di permukaan.
Jika diperhatikan, lokasi salah satu objek wisata andalan Kota Padang telah menyerupai sebuah kolam.
Pasalnya, lokasi itu dikelilingi oleh tanggul yang agak tinggi, seolah-olah mirip dengan dinding kolam.
Baca juga: Xpora Indonesia Internasional Challenge 2023, Alwi Farhan Menang 2-0 dari Malaysia
Peristiwa ini pun membuat pengunjung tak bisa menikmati dan menyaksikan secara dekat objek wisata legenda tersebut.
Pengunjung juga tidak bisa berfoto di lokasi itu, padahal objek wisata ini salah satu spot berfoto favorit.
"Sudah dua hari tenggelam, ini hari yang ketiga," ujar Irma, salah seorang pedagang cendera mata di lokasi.
Irma menuturkan, pada hari pertama, ketinggian air tidak sampai menutup semua relief Batu Malin Kundang.
Namun sejak hujan deras melanda Kota Padang, pada Minggu (27/8/2023) ketinggian air semakin naik.
Baca juga: Anak-anak SD dan Guru Berikan Hormat, Saat Mobil Pembawa Jenazah Arist Merdeka Melintas
"Kemarin masih nampan punggung, kini tenggelam semua," ujar Irma.
Menurut Irma, penyebab tenggelamnya Malin Kundang tak hanya karena hujan, namun juga karena tak ada saluran air.
"Biasanya kalau tidak disedot butuh tiga sampai seminggu bisa kering," kata Irma.
Sekedar informasi, objek wisata batu Malin Kundang berlokasi di Pantai Air Manis, atau sekitar 8 Km dari Pasar Raya Padang.
Objek Wisata ini mengisahkan sebuah legenda seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Akibat kedurhakaan itu, Malin Kundang dikutuk menjadi batu.
Berikut Kisah Dogeng Malin Kundang
Pada zaman dahulu di sebuah perkampungan nelayan Pantai Air Manis di Padang, Sumatera Barat,
ada seorang janda bernama Mande Rubayah yang hidup bersama anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang.
Mande Rubayah sangat menyayangi dan memanjakan Malin Kundang. Malin kemudian tumbuh menjadi seorang anak yang rajin dan penurut.
Ketika Mande Rubayah sudah tua, ia hanya mampu bekerja sebagai penjual kue untuk mencupi kebutuhan dirinya dan anak tunggalnya.
Suatu hari, Malin jatuh sakit keras, hingga nyawanya hampir melayang namun akhirnya ia dapat diseiamatkan-berkat usaha keras ibunya.
Setelah sembuh dari sakitnya ia semakin disayang. Mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi
Saat Malin sudah dewasa ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau ke kota, karena saat itu sedang ada kapal besar merapat di Pantai Air Manis.
Baca juga: Fakta Baru Pembunuhan Imam Masykur: 3 TNI Ternyata Satu Angkatan dari Aceh, Kakak Ipar Ikut Berperan
“Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana.
Menetaplah saja di sini, temani ibu,” ucap ibunya yang sedih setelah mendengar keinginan Malin yang ingin merantau.
“Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku,” ujar Malin sambil menggenggam tangan ibunya.
“Ini kesempatan Bu, kerena belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini.
Aku ingin mengubah nasib kita Bu, izinkanlah” pinta Malin memohon.
“Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu Nak,” kata ibunya sambil menangis.
Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan Malin untuk pergi.
Kemudian Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus,
“Untuk bekalmu di perjalanan,” katanya sambil menyerahkannya pada Malin.
Setelah itu Malin Kundang berangkat ke tanah rantau meninggalkan ibunya sendirian.
Hari demi hari terus berlalu, hari yang terasa lambat bagi Mande Rubayah.
Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut.
“Sudah sampai manakah kamu berlayar Nak?” tanyanya dalam hati sambil terus memandang laut.
la selalu mendoakan agar anaknya selalu selamat dan cepat kembali.
Baca juga: Syoknya Gadis Asal Malaysia ini Ketika Nginap di Kamar Hotel, Kaki Ditarik-tarik Makhluk Halus
Beberapa waktu kemudian ketika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya.
“Apakah kalian melihat anakku, Malin? Apakah dia baik-baik saja? Kapan ia pulang?” tanyanya.
Namun setiap ia bertanya pada awak kapal atau nahkoda tidak pernah mendapatkan jawaban.
Malin tak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya
Bertahun-tahun Mande Rubayah terus bertanya namun tak pernah ada jawaban hingga tubuhnya semakin tua, dan kini jalannya mulai terbungkuk-bungkuk.
Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda yang dahulu membawa Malin, nahkoda itu memberi kabar bahagia pada Mande Rubayah.
“Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan gadis cantik, putri seorang bangsawan yang sangat kaya raya,” ucapnya saat itu.
“Malin cepatlah pulang kemari Nak, ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang…” rintihnya pilu setiap malam.
Baca juga: Xpora Indonesia Internasional Challenge 2023, Alwi Farhan Menang 2-0 dari Malaysia
Ia yakin anaknya pasti datang.
Benar saja tak berapa lama kemudian di suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang megah nan indah berlayar menuju pantai.
Penduduk desa mulai berkumpul, mereka mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran.
Mereka menyambutnya dengan gembira.
Mande Rubayah amat gembira mendengar hal itu, ia selalu berdoa agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya, sinar keceriaan mulai mengampirinya kembali.
Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia menerima kabar Malin dari nahkoda itu, Malin tak kunjung kembali untuk menengoknya.
Baca juga: Lagi Gelap, Suami Istri yang Merampok Driver Taksi Online Ternyata Terlilit Utang
Ketika kapal itu mulai merapat, terlihat sepasang anak muda berdiri di anjungan.
Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum karena bahagia disambut dengan meriah.
Mande Rubayah juga ikut berdesakan mendekati kapal.
Jantungnya berdebar keras saat melihat lelaki muda yang berada di kapal itu, ia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anaknya, Malin Kundang.
Belum sempat para sesepuh kampung menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin.
la langsung memeluknya erat Malin karena takut kehilangan anaknya lagi.
“Malin, anakku. Kau benar anakku kan?” katanya menahan isak tangis karena gembira, “Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?”
Malin terkejut karena dipeluk perempuan tua renta yang berpakaian compang-camping itu.
Baca juga: Kadishub Dituding Mengambil Uang Insentif Para Honorer, Aliansi Forum Geruduk Kantor DPRD Medan
Ia tak percaya bahwa perempuan itu adalah ibunya. Sebelum dia sempat berpikir berbicara, istrinya yang cantik itu meludah dan berkata,
“Perempuan jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku!
Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang sederajat denganku?!” ucapnya sinis
Mendengar kata-kata pedas istrinya, Malin Kundang langsung mendorong ibunya hingga terguling ke pasir, “Perempuan gila! Aku bukan anakmu!” ucapnya kasar.
Mande Rubayah tidak percaya akan perilaku anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata,
“Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kau jadi seperti ini Nak?!”
Baca juga: Pedagang Lemang Ditabrak Lari Mobilio Putih, tak Bisa Berjualan Usai Kakinya Terlindas
la malu kepada istrinya. Melihat perempuan itu bersujud hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata,
“Hai, perempuan gila! lbuku tidak seperti engkau! Melarat dan kotor!”
Perempuan tua itu terkapar di pasir, menangis, dan sakit hati.
Orang-orang yang meilhatnya ikut terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing.
Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi.
Dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Ia tak menyangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian.
Hatinya perih dan sakit, lalu tangannya diangkat ke langit. Ia kemudian berdoa dengan hatinya yang pilu,
“Ya, Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi.
Tapi kalau memang dia benar anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon keadilanmu, Ya Tuhan!” ucapnya pilu sambil menangis.
Tak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap.
Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya.
Tiba-tiba datanglah badai besar, menghantam kapal Malin Kundang.
Lalu sambaran petir yang menggelegar.
Saat itu juga kapal hancur berkeping- keping.
Kemudian terbawa ombak hingga ke pantai.
Esoknya saat matahari pagi muncul di ufuk timur, badai telah reda.
Di pinggir pantai terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu.
Itulah kapal Malin Kundang! Tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia.
Itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu karena telah durhaka.
Di sela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tengiri.
Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.
Artikel ini Tayang di Tribun Padang
Baca Berita Tribun Medan Lainnya di Google News
(tribunmedan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Batu-Malin-Kundang-Terendam.jpg)