Berita Medan

Keluarga Pensiunan Polisi Tutup Akses Jalan, Janda 84 Tahun Sakit-sakitan Terkurung di dalam Rumah

Wanita lanjut usia ini terkurung di dalam rumahnya akibat perbuatan pensiunan Polisi bernama Bisara Tupal Butarbutar dan anaknya bernama S Butarbutar.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Fredy Santoso |

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Nasib malang dialami ER Situmorang (84), janda tua renta sakit-sakitan, warga Jalan Pelajar Timur, Gang Satahi, Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai.

Wanita lanjut usia ini terkurung di dalam rumahnya sendiri akibat perbuatan pensiunan Polisi bernama Bisara Tupal Butarbutar dan anaknya bernama S Butarbutar.

Baca juga: Penderitaan Lansia yang Rumahnya Terkurung Tembok Hotel : Cuma Bisa Lewat Got Pakai Boots, Ada Ular

Untuk mendapat pertolongan medis pun dia tidak bisa, akibat akses jalan, pagar depan rumah ditutup mati oleh keluarga pensiunan Polisi tersebut.

Pada 14 Agustus lalu, atau 2 hari setelah penutupan, keluarga ER sempat mau membawanya ke rumah sakit.

Penampakan pagar keluar masuk rumah Jeni yang ditutup total.
Penampakan pagar keluar masuk rumah Jeni yang ditutup total. (TRIBUN MEDAN/FREDY SANTOSO)

Nahasnya, lantaran tidak ada akses jalan akhirnya dia gagal dibawa ke rumah sakit.

Tandu portabel milik ambulans itu tak bisa masuk ataupun melompati pagar untuk mengeluarkannya yang sedang sakit-sakitan.

Alhasil, untuk memenuhi kebutuhan medisnya, anaknya terpaksa membeli obat-obatan, dengan cara melompat pagar.

"Ambulance sudah datang tanggal 14, mau kami bawa ke rumah sakit tetapi berpikir kami untuk cara melompat. Ambulance nya pulang karena ga bisa membawa," kata Jeni Sirait (49), anak ER Situmorang, Sabtu (26/8/2023).

Rumah keluarga ER Situmorang dan anaknya Jeni Sirait telah ditutup total sejak 12 Agustus 2023 lalu oleh keluarga pensiunan Polisi bernama Bisara Tupal Butarbutar dan anaknya.

Saat didatangi, ER Situmorang cuma terbaring di dalam kamar berukuran sekitar 3 x 3 meter persegi.

Dia nampak lemah berselimut kain motif bunga-bunga di atas ranjangnya.

Tatapannya kosong lantaran sakit-sakitan.

Kursi roda dan popok nampak berada di dalam kamar wanita tua ini.

Sejak terkurung, sampai sekarang, Jeni, kakaknya, ibu dan suami serta anaknya mengalami kesulitan.

Anaknya, sudah delapan hari tidak sekolah akibat sulitnya keluar masuk ke dalam rumah.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Jeni dan keluarganya mengandalkan sang suami untuk kesana kemari.

Untungnya, kata Jeni, pada 12 Agustus l2023 alu, sebelumnya mereka dikurung keluarga pensiunan Polisi tersebut, suaminya sudah keluar lebih dahulu membawa sepeda motor.

Baca juga: Detik-detik Warga Padamkan Api dan Evakuasi 2 Jenazah Bocah yang Terkurung di Dalam Kamar

Sehingga sepeda motor tersebut menjadi andalan mereka. Sementara satu sepeda motor lain juga ikut terkurung.

"Kebetulan suami saya waktu itu sedang keluar. Nah, 5 menit setelah keluar langsung ditutup. Jadi puji tuhan begitu suami keluar membawa sepeda motor makanya ada akses kami untuk kesana kemari," kata Jeni.

Pantauan di lokasi, akses utama keluar masuk rumah mereka ditutup mati menggunakan pagar besi berwarna putih milik keluarga Bisara Tupal Butarbutar.

Jangankan manusia, kucing pun rasanya tak bisa keluar dari sini.

Pagar besi bercat putih itu di las, kemudian di cor beton ke tanah.

Saat Tribun Medan berusaha masuk ke dalam rumah keluarga Jeni, terpaksa memanjat pagar beton setinggi setengah meter ditambah pagar besi runcing berkarat setengah meter.

Rasanya terlalu berbahaya jika dilakukan oleh wanita dan anak-anak.

Sementara Jeni dan keluarganya, menggunakan dua lapis kursi plastik yang diikat dengan tali plastik.

Sebelum mereka melompat keluar, kursi yang diikat tali terlebih dahulu dikeluarkan dari dalam area rumah ke halaman tetangga.

Setelah itu barulah mereka memanjat pagar dari balik tembok rumah. Ketika sudah di atas pagar, kemudian kaki mereka menginjak ke kursi yang sudah dikeluarkan tadi.

Usai itu, kursi tadi dimasukkan lagi ke dalam rumah menggunakan tali.

Tali ini berfungsi untuk menaruh dan menariknya agar mudah saat digunakan melalui pagar setinggi satu meter.

"Ini seminggu anak saya tidak sekolah, 8 hari mulai tanggal 14 Agustus tidak sekolah.nYang menutup anaknya pak Butarbutar," ungkapnya.

Awal Mula

Sambil mengingat, Jeni menceritakan kalau almarhum ayahnya membeli lahan yang dijadikan rumah mereka saat ini kepada Bisara Tupal Butarbutar pada tahun 1983.

Saat itu ada kesepakatan jika keluarga Jeni membeli lahan, maka pihak Bisara memberikan 3 meter lahan untuk akses jalan masyarakat.

Jalan yang dimaksud tepat di depan gerbang rumah Jeni menghadap Jalan Satahi, ke Jalan Pelajar Timur. Dari mulai masuk Gang Satahi, ke rumah Jeni memang lahan milik Bisara.

Ternyata seiring berjalannya waktu, pada tahun 1990, lahan milik Bisara yang awalnya tanah kosong mulai dibangun beberapa rumah kontrakan.

Nah, rumah kontrakan ini dibangun menutup setengah dari depan rumah keluarga Jeni sehingga rumah mereka tertutup.

Sempat terjadi ketegangan, namun akhirnya keluarga Bisara memberikan akses jalan untuk mobil, tetapi miring.

Sejak tahun 1995, sertifikat hak milik (SHM), keluarga Jeni pun keluar.

Pada tahun 2021, rumah kontrakan milik Bisara kembali diperpanjang sampai nyaris menutup total pintu keluar masuk rumah Jeni.

Anak Bisara, Surya hanya menyisakan jalan untuk sepeda motor sekitar 1 meter.

Sempat terjadi keributan karena mereka menutup akses jalan, tetapi keluarga Bisara tak peduli. Mereka ingkar janji soal memberikan lahan untuk jalan.

Sampai pada puncaknya tahun 2022, pihak Jeni melakukan gugatan atas akses jalan keluar masuk rumah mereka.

Di Pengadilan Negeri Medan tingkat 1 pada Maret 2023, keluarga Jeni menang dan pengadilan meminta agar keluarga Bisara membongkar bagian depan rumah kontrakan mereka dan memberikan akses jalan seperti dahulu.

Namun keluarga Bisara melakukan perlawanan. Mereka mengajukan banding.

Pada tingkat banding Juli 2023, kata Jeni, ternyata keluarga Jeni menang lagi.

Lagi-lagi, keluarga pensiunan Polisi itu melawan. Kali ini mereka mengajukan Kasasi.

Ternyata, sebelum keluarnya keputusan, atau tepatnya pada 12 Agustus, keluarga Bisara menutup total pintu keluar masuk rumah mereka.

Jeni dan keluarganya pun merasa kecewa dan kesal lantaran keluarga pensiunan Polisi tidak menaati hukum.

"Namun mereka tetap tidak terima dan mereka melakukan kasasi. Jadi ini masih proses kasasi, artinya masih status quo tapi mereka menutup total,"ungkap Jeni.

Sekarang ini, Jeni dan ibunya yang tua renta dan sakit-sakitan berharap pemerintah dan penegak hukum bisa bersikap adil kepada mereka.

Dia berharap juga agar Wali Kota Medan Bobby Nasution datang menyaksikan penderitaan yang mereka alami.

Besar harapan Jeni kepada Bobby Nasution sebagai Wali Kota sekaligus menantu Presiden.

"Kami minta tolong ke pak Bobby Nasution sebagai Wali Kota Medan memperhatikan kami, pemerintah perhatikan kami karena ini masih status peradilan. Secara kemanusiaan hanya jalan akses keluar tolong dibuka."

Tribun Medan berusaha mewawancarai pensiunan Polisi bernama Bisara Tupal Butarbutar ke rumahnya tepat di simpang Gang Satahi. Namun seseorang menyebut Bisara sedang tidak berada di rumah.

Seorang pria pun langsung cepat-cepat menutup pagar rumah milik Bisara.

Sementara anaknya, S Butarbutar nampak bergegas pergi ketika Tribun Medan mendatangi rumah Jeni dan keluarganya yang dikurung.

S Butarbutar sendiri disebut tinggal di rumah yang langsung menutup akses jalan rumah Jeni.

(cr25/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved