Catatan AFF Cup 2022
Sudahlah Indonesia, Lupakan Sepak Bola, Main Lato-lato Saja
Josep Guardiola pernah bilang kekurangan terbesar sepak bola Indonesia adalah pemahaman terhadap bola itu sendiri, bagaimana memainkannya dengan benar
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Indonesia adalah negara yang rakyatnya berbakat untuk banyak hal, kecuali sepak bola.
Saya pernah mendengar kalimat ini. Saya lupa siapa yang mengucapkannya, tapi saya merasa kesimpulan ini sangat benar.
Tengoklah, betapa dalam tempo sangat singkat begitu banyak orang di negeri ini jadi teramat piawai memainkan Lato-lato; mainan berbentuk dua bola kecil padat yang dimainkan dengan cara diguncang digoyang dan diantuk-antukkan hingga memunculkan bunyi ‘tok-tok-tok-tok’ yang menghadirkan teror bagi gendang telinga atau siapapun yang sedang sakit gigi.
Demikian populer Lato-lato ini hingga belakangan diselenggarakan pulalah kompetisinya. Tolok ukur penilaian adalah variasi gaya dan durasi, dan pemenangnya adalah seorang remaja tanggung yang bisa memperdengarkan bunyi ‘tok-tok-tok-tok’ itu selama dua jam tanpa putus. Atas pencapaian ini dia membawa pulang seperangkat Lato-lato aneka warna dan seekor kambing.
Sebelumnya, jika masih ingat, ada mainan bernama Spinner. Nama aslinya Spinning Wheel. Mirip Gasing, sama-sama diputar tapi tanpa tali. Ada yang terbuat dari plastik, dari atom, fiber glass, besi, bahkan baja. Tentu dengan harga yang beragam. Ada yang belasan ribu saja. Ada yang ratusan ribu hingga jutaan rupiah dengan tambahan aksesoris lampu sampai permata bling-bling.
Seperti Lato-lato, kala itu demam Spinner juga melanda sampai ke pelosok-pelosok negeri, dan dalam kurun tak lama lahir para pemain tingkat master yang boleh diadu melawan pemain mana pun di dunia.
Masih banyak ketangkasan lainnya. Mulai yang rada konyol sampai yang serba canggih macam game-game online multiple player yang kini digolongkan ke dalam e-Sport.
Namun tidak demikian sepak bola. Berkebalikan dari ketangkasan-ketangkasan tadi, makin ke sini sepak bola Indonesia justru makin menyedihkan. Makin terbelakang. Berbagai upaya yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan tak ada yang pernah betul-betul berhasil. Senyum-senyum yang muncul hanya semu. Mengembang sebentar lalu kembali kuncup, berganti tangis.
Sudah berapa banyak uang habis untuk proyek-proyek pembinaan. Garuda, Primavera, Baretti, Sociedad Anonima Deportiva (SAD), hingga mendatangkan dan mengontrak pelatih-pelatih asing. Jika dibelikan beras, barangkali karung-karungnya bisa dijajarkan dari Sabang sampai Merauke.
Pertanyaannya, apakah kita memang tidak berbakat dalam sepak bola?
Perkara bakat terang tak dapat ditampik. Bakat adalah anugerah Tuhan. Tidak dapat dibikin-bikin. Tidak dapat diasah kalau memang dari sananya tidak ada.
Ambil contoh Brasil dan Argentina. Lupakan segala bentuk profesionalitas kompetisi. Lupakan segenap gambaran ideal perihal klub, perihal pertandingan, atau perihal wasit. Lupakan itu semua.
Di Brasil, di Argentina, atau umumnya negara-negara Amerika Selatan, sepak bola masih dijalankan penuh ketegangan. Perkelahian antarpemain dan antarsuporter merupakan perkara biasa. Ada pula judi yang membayangi. Ada suap. Ada kartel. Ada mafia yang selalu ingin ikut campur. Mafia bahkan masuk ke tubuh otoritas sepak bola mereka. Mengambil keuntungan pribadi. Merusak dari dalam.
Namun bakat-bakat terus lahir dari sana. Dari tahun ke tahun. Dari jalanan yang berbatu berdebu. Dari lorong-lorong sempit yang meruapkan anyir darah. Bukan hanya satu dua, bukan hanya Pele, bukan hanya Maradona, bukan hanya Ronaldo, Ronaldinho, Kaka, Riquelme, Lionel Messi, tapi bisa sekaligus membentuk kesebelasan yang berpeluang meraih tropi piala dunia.
Bagaimana Indonesia? Situasinya kurang lebih sama. Namun tidak bakatnya. Josep Guardiola pernah datang ke Indonesia pada tahun 2012 dan kepadanya dihadapkan seorang bocah bernama Tristan Alif Naufal. Alif kala itu jadi pemberitaan hangat di Indonesia pascavideonya saat melakukan jugling, menimang-nimang bola, dan beberapa ketangkasan lainnya, beredar luas di YouTube.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/indonkalahlagi.jpg)