Keributan di RS Bhayangkara

RS Bhayangkara Tebing Tinggi Bantah Tolak Pasien Rawat Inap, Sebut Harus Isi Administrasi Dulu

Rumah Sakit Bhayangkara Kota Tebingtinggi membantah telah menolak menangani pasien rawat inap. 

Tayang:
TRIBUN MEDAN/ANUGRAH NASUTION
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara, AKBP drg. Jauhari Ginting bersama dokter Donny Situmorang saat memberikan keterangan, Selasa (19/7/2022/Anugrah Nasution. 

TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN - Rumah Sakit Bhayangkara Kota Tebingtinggi membantah telah menolak menangani pasien rawat inap. 

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara, AKBP drg. Jauhari Ginting menyebutkan, jika tim dokter telah melakukan pemeriksaan terhadap pasien wanita yang saat itu datang dengan keluhannya penyakit lambung.

"Jadi pasien perempuan itu datang sekitar pukul 20.00 WIB dengan keluhan lambung. Sudah kita periksa oleh dokter IGD diperiksa tanda tanda vital sign, tensinya, nadinya pernapasannya untuk melihat kondisi kesehatan pasien," ujar Jauhari kepada Tribun, Selasa (19/7/2022).

Saat itu pasien yang bernama Ritha Dwinata Simanjuntak datang dengan pendampingan rekannya yakni Syahputra Bhayangkara.

Baca juga: MOBIL Polisi yang Digulingkan Warga saat Penangkapan Bandar Narkoba Ternyata Nyaris Dibakar

Keduanya datang dengan kondisi perut rekan wanita sakit dan meminta bantuan medis di ruang IGD Rumah Sakit Bhayangkara.

Saat itu dokter yang bertugas adalah dr. Donny Situmorang yang kemudian melakukan pemeriksaan awal pasien.

Seusai melakukan pemeriksaan kata Jauhari, dokter Donny kemudian menganjurkan agar pasien melakukan pendaftaran supaya bisa menjalani rawat inap.

Dokter yang bertugas pun kemudian meminta Syahputra Bhayangkara menghubungi keluarga agar datang dan menandatangani administrasi rawat inap.

Baca juga: KONDISI Terkini Pasien yang Diduga Ditolak Rawat Inap di RS Bhayangkara Tebing Tinggi

"Jadi sudah diperiksa oleh tim dokter disuruh agar mengisi administrasi agar dapat rawat inap. Namun si pendamping ini tidak mau mendaftar, langsung saya mau dirawat inapkan saja dulu," lanjut dia.

"Kalau mau rawat inap silahkan isi administrasi dulu, karena sesuai peraturan pelayanan rumah sakit harus tau identitas pasien," tambah Jauhari.

Namun sebut dia, orang yang mendampingi pasien tidak mau mendaftar dan memaksa agar rekannya segera mendapatkan dapat dirawat.

Padahal sesuai peraturan rumah sakit kata Jauhari pasien harus rawat inap harus mengisi formulir pendaftaran dan orang yang berhak menandatangani administrasi tersebut adalah keluarga pasien.

Pendamping pasien sebut Jauhari malah marah marah dan merekam kejadian tersebut. Setelah itu, keduanya langsung meninggalkan rumah sakit Bhayangkara.

"Kalau sesuai aturan rumah sakit itu kan yang berhak mendatangi surat administrasi adalah keluarga inti. Kalau pendamping itu bukan keluarga," sebut dia.

"Mendengar itu mulai miskomunikasi. Kemudian saat ditanyakan indetitas diri, pendamping langsung marah dan merekam kejadian lalu mengeluarkan kata kata yang tidak pantas," tutupnya," tuturnya.

Jauhari pun berharap agar informasi yang beredar mengenai penolakan pasien di rumah sakit Bhayangkara dapat diluruskan dengan adanya penjelasan dari pihak rumah sakit.

"Jadi itu yang terjadi dan kami telah meluruskan apa hal yang sebenarnya terjadi saat itu," tutup dia.

(cr17/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved