Cerita Seleb

Ternyata Begini Cara Kerja Teknologi 'Deepfake' di Balik Hebohnya Video Syur Mirip Nagita

Namun, setelah ditelusuri video tersebut diduga hanya hasil editan dengan menggunakan teknologi deepfake.

Facebook
Video dewasa mirip Nagita Slavina sudah mendorong netizen kembali menjadi detekftif. Foto asli pelaku dalam video dibongkar. 

Hal itu dilakukan sewenang-wenang, tanpa meminta izin ke si pemilik wajah.

Alhasil, korban deepfake tampak seakan-akan memainkan aksi porno yang tak korban lakukan.

Hal tersebut bisa terjadi karena deepfake mengandalkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembelajaran mendalam (deep learning).

Deep learning sendiri merupakan metode pembelajaran algoritmik yang digunakan untuk melatih komputer.

Bila diterapkan pada video, AI dan deep learning itu bisa menghasilkan video palsu yang menampilkan seseorang sedang melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka lakukan atau katakan.

Kiri: Rekaman asli Barack Obama. Kanan: Simulasi video dengan teknologi Deep Video Portraits.
Kiri: Rekaman asli Barack Obama. Kanan: Simulasi video dengan teknologi Deep Video Portraits. (H. Kim et al., 2018/Gizmodo)

Cara kerja deepfake

Dalam pembuatannya, The Guardian mengungkapkan video deepfake bisa dibuat menggunakan teknik pertukaran wajah. Dengan teknik ini, ada dua algoritma AI yang digunakan, yaitu encoder dan decoder.

Awalnya, pembuat deepfake harus memutar video atau ribuan foto hasil potret dari dua orang melalui algoritma AI yang disebut encoder. Misalnya dalam konteks pornografi, dua orang itu adalah korban deepfake (A) dan pemeran betulan di video porno (B).

Encoder tadi akan menemukan dan mempelajari kesamaan antara wajah A dan B, lalu mengemasnya menjadi satu algoritma. Dalam proses encoder ini, gambar wajah si A dan B akan dikompresi menjadi sebuah sandi (encoded).

Selanjutnya, pembuat deepfake akan menggunakan algoritma AI kedua yaitu decoder, untuk mengajarkan komputer untuk memulihkan kembali gambar wajah si A dan B yang terkompresi tadi.

Karena ada dua wajah yang digunakan, pembuat deepfake harus melatih satu decoder untuk wajah si A (korban deepfake) dan satu decoder lagi untuk si B (pemeran betulan).

Nah, di sinilah proses pertukaran wajah itu akan dilakukan.

Pembuat bisa memasukkan gambar yang sudah dikompresi tadi ke dalam decoder yang salah.

Misalnya, pembuat deepfake memasukkan wajah si A (korban deepfake) ke dalam decoder milik wajah B (pemeran asli).

Dengan begitu, decoder bakal merekonstruksi wajah orang B (apemeran asli) dengan ekspresi dan detail lain dari wajah A (korban deepfake).

Setelah proses selesai, wajah A-lah (korban deepfake) yang akan terlihat dalam video porno hasil rekayasa itu, bukan wajah pemeran asli yang benar-menar menjadi subjek video.

Penampakan tampang Presiden Rusia Vladimir Putin versi asli (kiri) dan versi deepfake (kanan).
Penampakan tampang Presiden Rusia Vladimir Putin versi asli (kiri) dan versi deepfake (kanan). (AP Photo/Alexander Zemlianichenko MIT Technology Review via Business Insider)
Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved