Tren Jasa Sewa iPhone Ramai di Medsos, Sosiolog Prihatin dengan Kecenderungan Remaja Sekarang
iPhone sering menjadi klasifikasi anak muda gaul dan kaya. Maka, banyak anak muda yang bermabisi untuk memiliki ponsel produksi Apple ini.
TRIBUN-MEDAN.com - iPhone sering menjadi klasifikasi anak muda gaul dan kaya. Maka, banyak anak muda yang bermabisi untuk memiliki ponsel produksi Apple ini.
Parahnya, ada beberapa kasus anak remaja yang rela melakukan tindakan kejahatan untuk bisa memiliki ponsel harga mahal ini.
Secara mengagetkan sebuah postingan media sosial tentang iPhone mendadak viral. Seorang pengguna media sosial membagikan postingan jasa sewa iPhone.
Postingan ini untuk memenuhi ambisi remaja agar terlihat keren di depan teman-temannya. Pada postingan itu juga menyertakan biaya sewa yang berbeda-beda untuk varian iPhone.
Jasa ini ternyata diminati sebagian orang, bahkan menjadi peluang bisnis baru.
Tampak foto tangkapan layar jasa penyewaan iphone berbagai tipe, lengkap dengan pricelist harga sewa per 24 jam.
"mau gaya bisa sewa iphone bos, gausa beli kalo sewa bisa terjangkau. Monggo wa langsung," tertulis dalam unggahan foto tersebut.
Hingga Senin (6/12/2021), twit tersebut sudah mendapat lebih dari 9.365 likes dan 1.568 retweets.
• KABAR TERBARU iPhone 14: Gunakan Port USB-C dan Teknologi WiFi 6E untuk Kecepatan Internetan
• Apple Self Service Repair: Bisa Perbaiki IPhone Tanpa ke Store dan Langsung Order Komponen
Pendapat Sosiolog
Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Drajat Tri Kartono menjelaskan, hal ini merupakan fenomena masyarakat konsumsi simbolik.
Di dalam masyarakat konsumsi simbolik, yang dipentingkan bukan hanya nilai suatu barang, melainkan sebuah simbol pengakuan dari lingkungan.
“Kalau barangnya kan nilai guna, tapi kalau simbol itu nilai penghormatan atau pengakuan, status, identitas orang,” kata Drajat, dilansir dari Kompas.com, Senin (6//12/2021).
Artinya, seseorang yang menggunakan produk-produk bermerek dengan harga mahal dan identik digunakan oleh orang kaya, hal itu membuat yang bersangkutan menilai dirinya sedemikian rupa.
“Bukan barangnya bisa dipakai atau tidak, tapi orang menilai saya seperti itu,” lanjut Drajat.
Tidak ada batasnya Drajat menegaskan, konsumsi simbolik tidak ada batasnya, karena orang mementingkan pengakuan dari lingkungannya dan terus mengikuti perkembangan yang ada.
“Kalau konsumsi yang biasa produk ada batasnya, jadi kalau saya misalnya perlu jam untuk melihat waktu, cukup saya beli satu jam, satu udah cukup,” tutur dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Jasa-sewa-iPhone.jpg)