Materi Belajar Sekolah

Berikut Sejarah Penemuan Vaksin Rabies, Bermula Seorang Anak Terkena Gigitan Anjing Gila

Berikut sejarah penemuan vaksin rabies. Penemuan ini terjadi pada tahun 1885 oleh Louis Pasteur. 

Tayang:
Kompas.com
Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta melaksanakan program vaksin rabies untuk hewan peliharaan di lingkungan perumahan kawasan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2020). Pelayanan jemput bola vaksinasi rabies ke lingkungan perumahan tersebut sebagai bentuk pelayanan untuk memastikan kesehatan hewan peliharaan warga yang berpotensi sebagai penular rabies di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi. 

TRIBUN-MEDAN.com - Berikut sejarah penemuan vaksin rabies. Penemuan ini terjadi pada tahun 1885 oleh Louis Pasteur

Pada tahun 1885 seorang anak berusia 9 tahun di Alsace, Perancis, tiba-tiba mengalami gigitan anjing gila.

Pada saat itu, rabies menjadi penyakit yang menakutkan di Eropa, hingga akhirnya penemuan vaksin rabies pun membawa harapan baru untuk melawan penyakit ini.

Saat itu, anak bernama Joseph Meister yang mengalami gigitan anjing gila atau terinfeksi rabies, dirawat oleh tiga ahli asal Paris untuk menyembuhkan penyakitnya.

Dua dari pria tersebut merupakan ahli di bidang medis, sedangkan satu pria lagi merupakan ahli terapi bernama Louis Pasteur seperti dilansir dari The Scientist.

Pasteur adalah seorang ahli kimia dan mikrobiologi Perancis di mana beberapa karyanya telah menjadi penemuan yang mengubah dunia.

Dia membuktikan bahwa mikroba dapat menyebabkan penyakit.

Di masa sekarang, Louis Pasteur dikenal sebagai penemu vaksin antraks dan rabies, serta menciptakan proses pasteurisasi.

Meskipun relatif jarang, pada saat itu rabies atau hidrofobia merupakan momok menakutkan bagi masyarakat di Eropa.

Pasalnya, seseorang yang digigit anjing gila akan mengeluarkan busa dari mulutnya sebelum akhirnya meninggal.

 

Masa inkubasi virus rabies yang cukup lama pun menarik perhatian Pasteur untuk menemukan vaksin jenis baru saat itu.

Louis Pasteur telah dikenal sebagai salah satu ilmuwan dunia yang karyanya telah menjadi penemuan yang mengubah dunia. Salah satunya penemuan vaksin rabies, yang telah menyelamatkan seorang anak dari gigitan anjing gila, penyakit rabies, di Perancis.
Louis Pasteur telah dikenal sebagai salah satu ilmuwan dunia yang karyanya telah menjadi penemuan yang mengubah dunia. Salah satunya penemuan vaksin rabies, yang telah menyelamatkan seorang anak dari gigitan anjing gila, penyakit rabies, di Perancis. (Lukisan oleh Albert Edelfelt/1885 via WIKIMEDIA COMMONS)

Studi vaksin rabies dari kolera ayam

Dilansir dari Live Science, pada tahun 1879, Pasteur memulai penelitian vaksin rabies pada kolera ayam.

Dia meyakini bahwa telah berhasil mengisolasi patogen penyebab kolera pada ayam.

Selama pengujian, Pasteur menyuruh muridnya untuk menyuntik unggas yang berbeda pada waktu tertentu, dan meninggalkan sementara penelitiannya.

Setelah itu, sejumlah patogen kolera secara tidak sengaja dibiarkan mengering.

Mengejutkannya adalah, para muridnya menemukan, bahwa ayam yang diberi patogen yang telah rusak itu justru tidak terkena kolera.

Penasaran, saat Pasteur kembali, dia menyuntikkan ayam-ayam yang sehat dengan sejumlah patogen kolera baru.

Beberapa hari kemudian, Pasteur mengamati bahwa ayam yang diberi patogen 'tidak berguna' tidak menunjukkan tanda-tanda terinfeksi.

Bakteri yang dilemahkan di laboratorium lalu disuntikkan ke ayam sehat membantu sistem kekebalan pada ayam mengenali bakteri saat terjadi infeksi tanpa membuatnya terkena penyakit.

Meski teknik melemahkan mikroorganisme penyebab penyakit untuk membentuk kekebalan sudah cukup terkenal pada waktu itu, tetapi Pasteur merupakan yang pertama melakukan prosesnya.

Hingga kemudian, metode ini pun diikuti oleh para ahli virus di seluruh dunia.

Penelitian vaksin rabies

Setelah berhasil dengan temuannya, pada tahun 1882, Louis Pasteur beralih pada permasalahan penyakit rabies dengan penelitian tentang vaksin rabies.

Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta melaksanakan program vaksin rabies untuk hewan peliharaan di lingkungan perumahan kawasan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2020). Pelayanan jemput bola vaksinasi rabies ke lingkungan perumahan tersebut sebagai bentuk pelayanan untuk memastikan kesehatan hewan peliharaan warga yang berpotensi sebagai penular rabies di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.
Foto: Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta melaksanakan program vaksin rabies untuk hewan peliharaan di lingkungan perumahan kawasan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2020). Pelayanan jemput bola vaksinasi rabies ke lingkungan perumahan tersebut sebagai bentuk pelayanan untuk memastikan kesehatan hewan peliharaan warga yang berpotensi sebagai penular rabies di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Virus rabies dapat menyebar dari kontak dengan cairan tubuh korban yang terinfeksi, termasuk air liur hewan yang sudah terinfeksi.

Seperti yang telah diketahui, gigitan hewan rabies sangat berbahaya dan seringkali berakibat fatal.

Didasari pemikiran tersebut, Pasteur memeriksa air liur dan jaringan hewan rabies, namun tidak dapat menemukan mikroorganisme yang menyebabkan penyakit.

Pasteur membutuhkan bahan eksperimen yang telah terkontaminasi. Maka, dia meminta beberapa orang untuk memberinya seekor anjing gila.

Setelah mendapatkannya, dia membuka mulut hewan itu secara paksa untuk mengumpulkan air liur yang sudah terpapar virus ke dalam botol.

Sayangnya, menyuntikkan air liur hewan yang terinfeksi tidak menyebabkan rabies secara signifikan pada hewan yang diuji.

4 Cara Mengatasi Penyakit Rabies pada Binatang yang Wajib Diketahui

Hindari Penyebab Rabies, Disternak Karo Suntikan Vaksin Kepada 9000 HPR Sejak Awal September

Melalui pembedahan dan eksperimen yang mendalam, Pasteur menemukan bahwa 'agen penyebab' harus terkonsentrasi di sumsum tulang belakang dan otak korban untuk mengembangkan penyakit.

Pasteur yakin bahwa vaksinasi dengan melemahkan penyakit yang disebabkan virus diikuti dengan perawatan yang lebih ketat, secara progresif akan membantu membangun sistem kekebalan.

Menariknya, melalui asistennya yang menemukan botol khusus untuk mengeringkan jaringan yang terinfeksi, Louis Pasteur akhirnya menyadari bahwa semakin lama sumber infeksi mengering maka semakin kecil kemungkinannya rabies akan menginfeksi saat disuntikkan.

Setelah serangkaian percobaan suntikan rabies yang semakin kuat diberikan kepada anjing selama 12 hari, dia menyuntikkan ekstrak rabies langsung ke otak anjing. Hasilnya, semua anjing yang disuntik tidak mengalami rabies.

Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta melaksanakan program vaksin rabies untuk hewan peliharaan di lingkungan perumahan kawasan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2020). Pelayanan jemput bola vaksinasi rabies ke lingkungan perumahan tersebut sebagai bentuk pelayanan untuk memastikan kesehatan hewan peliharaan warga yang berpotensi sebagai penular rabies di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.
Foto: Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta melaksanakan program vaksin rabies untuk hewan peliharaan di lingkungan perumahan kawasan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2020). Pelayanan jemput bola vaksinasi rabies ke lingkungan perumahan tersebut sebagai bentuk pelayanan untuk memastikan kesehatan hewan peliharaan warga yang berpotensi sebagai penular rabies di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Tetapi saat Pasteur memindahkan virus dari anjing gila ke kelinci, virus menjadi tidak terlalu berbahaya ketika berpindah ke tubuh manusia karena sudah melewati beberapa spesies lainnya.

Metode tersebut dapat melemahkan virus untuk membentuk kekebalan.

Saat vaksin penemuannya disuntikkan pada Meister, anak laki-laki ini tidak lagi bergejala.

Setelah memulai perawatan pada anak lainnya pada bulan Oktober 1885, Pasteur menyatakan penemuan vaksin itu berhasil di hadapan Akademi Kedokteran Nasional Prancis.

Kabar penemuan vaksin rabies itu pun menjadi berita internasional, bahkan pasien dari Amerika Serikat langsung pergi ke Eropa untuk menerima pengobatan yang ditemukannya.

Seiring waktu, Pasteur mengembangkan aturan terkait imunisasi yang ampuh melindungi hewan dari penularan penyakit ini, serta pencegahan rabies. 

Hampir satu abad kemudian, yakni pada tahun 1970-an catatan laboratorium Pasteur yang dimiliki oleh ahli warisnya dipublikasikan.

Mereka mengungkapkan perbedaan yang mengejutkan antara penelitian Pasteur dan klaimnya tentang pengujian vaksin pada anjing.

Dalam catatan itu ditemukan, pengobatan yang diberikan kepada Meister dibuat menggunakan metode yang berbeda, dan pada dasarnya belum diuji pada hewan, meski berhasil.

Lalu di tahun 1888 Institut Pasteur dibuka sebagai tempat penelitian penyakit menular dan pengembangan vaksin. Louis Pasteur pun dikenang sebagai ilmuwan revolusioner dan ahli yang hebat.

Penjelasan Kelompok Virus Berdasarkan Asam Nukleat, Sel Inangnya, dan Keberadaan Amplop Virus

Gelombang Ketiga Masih Ramalan, Pakar Virus: Terpapar Covid-19 Belum Tentu Terinfeksi

(*/tribun-medan.com)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari tribun-medan.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tribun Medan Update", caranya klik link https://t.me/tribunmedanupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved