Materi Belajar Sekolah

Perkembangan Partai Komunis China: Sejarah Pembentukan dan Tokoh-tokoh yang Memimpin Negara

Pada artikel ini membahas sejarah Partai Komunis China (PKC) yang berjalan di pemerintahan China. 

Tayang:
India Times
Sejarah Partai Komunis China. Presiden China Xi Jinping memberikan pidato kebangsaan. Ia merupakan kader PKC yang menjabat 

TRIBUN-MEDAN.com - Pada artikel ini membahas sejarah Partai Komunis China (PKC) yang berjalan di pemerintahan China. 

Bagaimana sejarah dan kebiajakan-kebijakannya? Simak artikel ini sampai hais.

PKC memiliki lebih dari 85 juta anggota.

PKC adalah salah satu partai politik terbesar di dunia.

Mereka ini merupakan partai monolitik dan monopoli yang mendominasi kehidupan politik China.

PKC jadi badan pembuat kebijakan utama di China.

PRESIDEN CHINA XI JINPING BERBICARA DI KTT BRICS 2021. KTT BRICS yang ke-13 dihadiri oleh kepala negara atau kepala pemerintahan dari lima negara anggota Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. Dalam KTT ini, presiden Xi Jinping membahas tentang penanganan covid-19 dan ekonomi global.
PRESIDEN CHINA XI JINPING BERBICARA DI KTT BRICS 2021. KTT BRICS yang ke-13 dihadiri oleh kepala negara atau kepala pemerintahan dari lima negara anggota Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. Dalam KTT ini, presiden Xi Jinping membahas tentang penanganan covid-19 dan ekonomi global. (Twitter.com CGTN)

Sejarah Awal Partai Komunis China

Dilansir Britannica, dalam sejarahnya, PKC didirikan sebagai partai politik dan gerakan revolusioner pada tahun 1921 oleh kaum revolusioner seperti Li Dazhao dan Chen Duxiu.

Kedua orang itu telah keluar dari Gerakan Keempat Mei (1919) dan beralih ke Marxisme setelah kemenangan Bolshevik dalam Revolusi Rusia tahun 1917.

Dalam gejolak tahun 1920-an, anggota PKC seperti Mao Zedong, Liu Shaoqi, dan Li Lisan, mulai mengorganisir serikat pekerja di kota-kota.

 

PKC lantas bergabung dengan Partai Nasionalis pada tahun 1924, dan aliansi tersebut terbukti sangat sukses pada awalnya.

Namun, pada tahun 1927, setelah Nasionalis di bawah Chiang Kai-shek berbalik melawan komunis dan mengusir mereka dari Shanghai, PKC mulai menunjukkan taji.

Aksi Revolusioner Awal Partai Komunis China

Banyak kader PKC, seperti Mao, kemudian meninggalkan kegiatan revolusioner mereka di kalangan proletariat perkotaan China.

Mereka pergi ke pedesaan, di mana mereka berhasil memenangkan dukungan petani.

Pada tahun 1931, Republik Soviet China, dengan populasi sekitar 10 juta, didirikan di China selatan.

Namun, entitas itu segera dihancurkan oleh kampanye militer nasionalis.

Mao serta sisa-sisa pasukannya melarikan diri dalam Long March (1934–1935) ke Yan'an di China utara.

Selama pawai itulah, Mao mencapai posisi kepemimpinan di PKC yang dia pegang sampai kematiannya pada tahun 1976.

Pemimpin penting lainnya yang mendukungnya pada periode itu adalah Zhou Enlai dan Zhu De.

Singkat cerita, pasca-pendudukan Jepang, perang saudara China dimulai kembali pada tahun 1946.

Program reformasi tanah PKC meningkatkan dukungan petaninya.

Sementara itu, ketidakmampuan dan demoralisasi nasionalis membuat mereka kehilangan dukungan.

Pada tahun 1949, nasionalis dikalahkan dan mundur ke Taiwan. PKC dan sekutunya lantas mendirikan Republik Rakyat China.

Baca juga: Sudah 37 Tahun, Pesona Penyanyi Jebolan AFI Ini bak ABG, Ternyata Dulu Sempat Tinggal di China

Baca juga: Fakta Patung Kucing Jimat Keberuntungan Bukan Berasal dari China, Tapi Legenda 1800-an Negara Ini

Perkembangan Partai Komunis China

Dalam beberapa tahun berikutnya, kehidupan PKC dipenuhi dengan ketidaksepakatan yang serius selama pembangunan negara.

Pada awalnya, PKC mengadopsi model pembangunan Soviet dan bersekutu erat dengan Uni Soviet.

Namun, PKC dan Partai Komunis Uni Soviet (CPSU) semakin berselisih mengenai kebijakan dan ideologi luar negeri.

Hubungan mereka retak tahun 1950-an.

Pada tahun 1966, Mao, yang tetap berselisih serius dengan beberapa pemimpin PKC lainnya selama pembangunan ekonomi dan sosial masa depan China, meluncurkan Revolusi Kebudayaan.

Ini diikuti periode pergolakan antara sayap radikal PKC di bawah Mao dan sayap yang lebih pragmatis, yang dipimpin Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping.

Liu, Deng, dan beberapa pemimpin pragmatis lainnya jatuh dari kekuasaan selama Revolusi Kebudayaan.

Setelah Mao meninggal, Deng Xiaoping muncul kembali dan mengambil alih kekuasaan tertinggi.

Revolusi Kebudayaan secara resmi berakhir, dan program “Empat Modernisasi” (industri, pertanian, ilmu pengetahuan/teknologi, dan pertahanan) diadopsi.

Setelah kematian Mao, Hua Guofeng menjadi ketua partai sampai tahun 1981, ketika anak didik Deng, Hu Yaobang, mengambil alih jabatan tersebut.

Hu digantikan sebagai sekretaris jenderal partai oleh anak didik Deng lainnya, Zhao Ziyang, pada tahun 1987.

Zhao digantikan oleh Jiang Zemin pada tahun 1989, dan Hu Jintao terpilih sebagai sekretaris jenderal pada tahun 2002.

Ini diikuti Xi Jinping, yang menjabat sekretaris jenderal pada tahun 2012.

Xi Jinping kini menjadi presiden China. 

Baca juga: Pasien Kasus Pertama Covid-19 di China Terungkap, Diduga dari Wanita Penjual Makanan di Pasar Wuhan

Baca juga: Mahasiswi di China Pakai Lampu Neon di Kepala saat Belajar, Kini Jadi Ikon Nasional

(*/tribun-medan.com)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari tribun-medan.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tribun Medan Update", caranya klik link https://t.me/tribunmedanupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

sumber: kompas.com

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved