Breaking News

Khazanah Islam

Tokoh Inspirasi Imam Al Ghazali, Ini Kata-kata Bijak dan Pemikirannya yang Luar Biasa

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Ihya Ulumiddin. Sempat dikritik oleh ilmuwan atau pemikir muslim, namun buku itu juga memberikan

Editor: Dedy Kurniawan
Ist
Ilustrasi Tokoh Muslim Menuntut Ilmu 

TRIBUN-MEDAN.com - Imam Al Ghazali merupakan tokoh muslim terkemuka di dunia. 

Beliau Cendekiawan muslim yang bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, Imam Besar Abu Hamid Al-Ghazali Hujjatul-Islam ini dilahirkan di Thusia, sebuah kota di Khurasan pada tahun 450 H/ 1058 M.

Beliau satu di antara ilmuwan penting, dan terkenal mempelajari ilmu di bidang filsafat dan tasawuf. Al Ghazali juga sering disebut Bapak Filsafat Islam. 

Baca juga: Baca Surat Al Maun, Kisah Celakanya Orang yang Sholat, Mengajarkan Toleransi dan Kepedulian

Baca juga: Mana Lebih Diutamakan, Bayar Utang Dulu atau Bersedekah, Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad

Baca juga: Tiga Azab Pelaku Zina, Bahkan Kelak Dibenci Para Penghuni Neraka, Ini Amalan untuk Bertaubat

Kata-kata bijak terkenal Imam Al Ghazali tentang kehidupan yang penuh makna dan inspiratif di antaranya

"Belum pernah aku berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwaku sendiri, yang terkadang membantuku, dan terkadang menentangku" 

Ayah dari Al-Ghazali adalah seorang pemintal kain wol yang taat pada ajaran Allah.

Sepeninggal ayahnya, Al-Ghazali beserta Ahmad, adiknya, dititipkan pada salah seorang teman ayahnya seorang sufi hingga akhirnya dialah yang merawat dan mengasuh Al Ghazali beserta adiknya.

Baca juga: Hukum Sholat di Akhir Waktu, Menunda padahal Sudah Dengar Azan, Begini Kata Ustaz Abdul Somad

Baca juga: Keutamaan Surat Ar Rahman, Ayat Diulang 31 Kali, Ini Kisah Nabi dan Bangsa Jin yang Mendengarkan

Baca juga: Bacaan Surat Al Kahfi dan Artinya, Nabi Muhammad Ingatkan Keutamaan Luar Biasa

Melansir dari buku Ihya Ulumuddin terjemahan: Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama oleh Dr. Hamka, Al Ghazali sejak kecil sudah mulai mempelajari ilmu fiqih di kotanya sendiri di bawah bimbingan Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani.

Kemudian, Al-Ghazali melanjutkan pembelajarannya ke kota Jurjan, sebuah kota di Timur Tengah, yang dibimbing oleh gurunya Imam Abi Nasar Al-Ismaili. Tidak berhenti sampai di situ, ia terus berpindah ke berbagai kota untuk menuntut ilmu.

Hingga sampailah Al Ghazali di kota Nisapur, salah satu kota di Iran, untuk menemui gurunya yang bernama Imam Al-Haramain. Mulai dari sinilah Al Ghazali menunjukkan tanda-tanda kecerdasan akalnya yang mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan seperti, ilmu mantik (logika), falsafah, hingga fiqih madzhab Syafi'i (mazhab fikih dalam Sunni yang dicetuskan oleh Imam Syafi'i).

Gurunya pun menyebut Al-Ghazali sebagai lautan tak bertepi. Beberapa literasi menyebutnya sebagai samudera ilmu. 

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Ihya Ulumiddin. Sempat dikritik oleh ilmuwan atau pemikir muslim, namun buku itu juga memberikan kehati-hatian para filsafat agar tidak menafikkan ilmu-ilmu tradisional Islam.

Buku itu juga memberikan sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.

Dalam buku "25 Kisah Pilihan Tokoh Sufi Dunia" oleh Siti Nur Aidah dan Tim Penerbit KBM Indonesia, disebutkan pengaruh filsafat dalam diri Al-Ghazali begitu kental.

Disebutkan juga kecerdasan Al-Ghazali dalam fiqih, tasawwuf, dan ushul ini tidak didasari dengan ilmu atsar (segala sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat dan boleh juga disandarkan pada perkataan Rasulullah SAW), ilmu hadits, dan sunah Rasulullah.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved