Materi Belajar Sekolah

Materi Belajar Bahasa Indonesia Kelas 9: Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerita Pendek

Pilihan kata dan kalimatnya pun ringkas. Perkenalan, konflik, hingga penyelesaian cerita dibungkus dengan padat dan tidak bertele-tele.

Ilustrasi
Ilustrasi Menulis Kalimat Intransitif 

Materi Belajar Bahasa Indonesia Kelas 9: Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Cerita Pendek

TRIBUN-MEDAN.com - Teman-teman 'membedah' sebuah teks dapat mengasah daya pikir. 

Setiap teks memiliki makna yang terkandung. Makna ini bisa kita tulis ulang dan kiat ceritakan  kembali. 

Maka, teman-teman coba dipahami cara melihat makna yang terkandung dalam teks cerpen (cerita pendek).

Sejak kecil, sebagian dari kita mungkin sudah familiar dengan cerita-cerita pendek.

Sesuai dengan namanya, cerita pendek atau cerpen hanya terdiri dari beberapa halaman.

Pilihan kata dan kalimatnya pun ringkas. Perkenalan, konflik, hingga penyelesaian cerita dibungkus dengan padat dan tidak bertele-tele.

Meski begitu, cerita pendek tak terlepas dari dua unsur utama dalam sebuah cerita, unsur intrinsik dan ekstrinsik.

Cerita pendek memiliki beberapa ciri.

Pertama, alur cerita yang tidak kompleks jika dibandingkan dengan novel. Kedua, cerpen cenderung memusatkan perhatiannya pada satu kejadian saja. Ketiga, cerpen memiliki plot dan latar yang tunggal, artinya tidak bercabang ke cerita atau plot sampingan. Keempat, tokoh yang muncul di cerita pendek terbatas. Terakhir, waktu berlangsungnya cerita pendek lebih singkat.

Semua ciri itu bisa ditemukan baik pada unsur intrinsik mapun ekstrinsik sebuah cerita.

Unsur Intrinsik

Cerpen memiliki beberapa unsur intrinsik, pertama adalah tema. Tema merupakan ide pokok cerita yang menentukan nada dan pembawaan cerita.

Kedua adalah latar. Latar adalah dimensi berlangsungnya cerita, baik itu dari latar waktu, tempat, maupun suasana.

Ketiga adalah alur. Alur merupakan susunan penuturan cerita. Alur terdiri dari tiga macam, yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Alur maju menceritakan kejadian secara kronologis, yaitu dari perkenalan, konflik, dan penyelesaian secara berurutan.

Alur mundur memulai cerita dari penyelesaian, kemudian membawa pembaca ke kejadian di masa lampau.

Terakhir, alur campuran yang menggabungkan keduanya. Di satu bagian cerita dituturkan secara kronologis, tapi di bagian lain membahas masa lalu.

Baca juga: Materi Belajar IPA: Penjelasan Bagian-bagian Bunga, Perkembangbiakan Pada Bunga, dan Fungsinya

Baca juga: Materi Belajar PPKn: Jenis-jenis Tindakan yang Mendukung Wujud Demokrasi

Unsur intrinsik keempat adalah tokoh dan penokohan. Tokoh merujuk kepada karakter dan pelaku cerita, sementara penokohan adalah sifat-sifat dari para tokoh.

Kelima adalah sudut pandang. Sudut pandang menentukan cara cerita dituliskan, yaitu dari sudut pandang orang pertama (“aku”), orang kedua (“kamu), atau orang ketiga (“dia”).

Terakhir adalah amanat, yaitu pesan yang bisa didapat dari cerita.

Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur pembentuk cerpen yang berasal dari luar cerita itu sendiri.

Pertama adalah nilai dalam cerita. Nilai-nilai tersebut bisa berupa nilai sosial, budaya, maupun politik. Contohnya, cerpen yang berlatar di Indonesia bisa menampilkan tokohnya yang bernama Budi sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah warung tegal dan membahas siapa yang akan mereka pilih di Pemilu pertama mereka nanti.

Budi adalah nama yang umum digunakan oleh orang Indonesia dan warung tegal merupakan tempat makan yang bisa kita temukan di Indonesia.

Indonesia sebagai negara demokrasi juga mengadakan pemilihan umum untuk menentukan pejabat negara.

Ketiganya menampilkan nilai sosial, budaya, dan politik Indonesia.

Kedua adalah latar belakang tokoh. Tiap penulis memiliki motivasi dan alasan tersendiri dalam menciptakan tokoh dalam cerita.

Bisa jadi tokoh-tokoh tersebut menyimbolkan sesuatu atau memiliki makna tersendiri.

Unsur ekstrinsik yang terakhir adalah situasi sosial. Situasi sosial membahas situasi yang terjadi di saat pembuatan cerita karena biasanya, penulis mendapatkan inspirasi dari hal-hal sekitarnya.

Contohnya di zaman Soeharto, banyak cerita-cerita yang membahas tentang perjuangan kebebasan opini atau penindasan oleh pemerintah.

Tapi di era Reformasi, cerita tentang perjuangan mungkin lebih ke perjuangan HAM maupun solusi terhadap perubahan iklim.

(*/tribun-medan.com)

Baca juga: Materi Belajar IPA: Berikut Jawaban Lengkap Kenapa Air Laut Asin

Baca juga: Materi Belajar Bahasa Inggris: Penggunaan Tanda Baca Koma Pada Teks Bahasa Inggris dan Contohnya

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari tribun-medan.com. Mari bergabung di Channel Telegram "Tribun Medan Update", caranya klik link https://t.me/tribunmedanupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved