Materi Belajar Sekolah
Biografi WR Supratman, Kumandangkan Lagu Indonesia Raya Pertama Kali di Kongres Pemuda
WR Supratman mengukir kisah hidupnya dari seorang musikus, wartawan, hingga pahlawan nasional.
TRIBUN-MEDAN.com - Biografi WR Supratman mengumandangkan lagu Indonesia Raya pertama kali di Kongres Pemuda.
Nama WR Supratman sudah tidak asing lagi bagi pelajar.
Para pelajar pasti tidak pernah ragu untuk menyebut nama WR Supratman sebagai pencipta lagu kebangsaan kita: "Indonesia Raya". Tapi, pelajar perlu tahu sejarah lagu Indonesia Raya.
Kendati demikian, WR Supratman juga tokoh yang berperan bagi bangsa Indonesia. Bahkan hari kelahirannya dinobatkan sebagai hari musik nasional sejak 2013.
Dari perjalanan hidup pahlawan nasional ini kita bisa banyak belajar sejarah dan perjuangannya untuk Indonesia.
WR Supratman mengukir kisah hidupnya dari seorang musikus, wartawan, hingga pahlawan nasional. Kisah tersebut tentu bukan perjalanan singkat melainkan jalan yang panjang dan tidak mudah menaklukan penjajah Indonesia saat itu.
Biografi WR Supratman
WR Supratman, Sang Pencipta Lagu Indonesia Raya lahir pada hari Jumat tanggal 19 Maret 1903 di Purworejo, Jawa Tengah.
Namun Sang ayah, Sersan Jumeno Senen yang merupakan tentara KNIL dan juga seorang pendeta mencatat kelahiran WR Supratman di Jatinegara.
WR Supratman memiliki enam saudara, 1 saudara laki-laki dan sisanya saudara perempuan. WR Supratman tumbuh di Makasar bersama kakaknya bernama Roekijem sejak tahun 1914.
Sejak itulah ia dibiayai sekolah oleh suami Roekijem, yakni Willem Van Eldik.
Pendidikan WR Supratman mengawali pendidikan di usia 4 tahun di Frobel School (Taman Kanak-kanak) di Jakarta tahun 1907.
Ia kemudian melanjutkan bangku pendidikannya di Tweede Inlandschool yang selesai pada tahun 1917.
WR Supratman sempat mengikuti ujian Klein Ambtenaar Examen dan lulus menjadi calon pegawai rendahan.
Setelah itu WR Supratman melanjutkan lagi pendidikannya di Normaalschool atau Sekolah Pendidikan Guru saat itu.I a pun akhirnya menjadi guru di Sekolah Angka 2 sampai akhirnya ia memperoleh ijazah Klein Ambtenaar.
WR Supratman memang tumbuh di keluarga musisi. Sang kakak, Roekijem juga sangat gemar dengan sandiwara dan musik. Ia bahkan banyak hasil karyanya yang dipertunjukan di mes militer.
Roekijem juga mahir bermain alat musik biola, kegemarannya inilah yang membuat WR Supratman juga juga bisa bermain alat musik biola dan membuatnya banyak membaca buku musik.
WR Supratman mulai berkecimpung di dunia musik saat kakak iparnya, W.M. Van Eldick memberinya kado sebuah biola saat ulang tahunnya yang ke 17.
Biola itulah yang membuat WR Supratman kemudian akrab dengan musik, terutama jazz. Ia dan kakak iparnya pun akhirnya mendirikan grup jazz dengan nama Black And White.
Grup jazznya tersebut sempat populer dikalangan sinyo-sinyo Belanda. Sebelum Sang Musikus ini bertransformasi menjadi tokoh kebangsaan, ia sering berfoya-foya dan berkencan dengan sinyo-sinyo Belanda.
Rupa kondisi bangsa berhasil mendesak dan menarik perhatiannya untuk ikut andil dalam bidang politik, seperti pelbagai pidato dan bacaan politik. Terutama WR Supratman sangat gemar membaca Koran Pemberita Makasar.
Pengetahuan politiknya pun akhirnya membuat WR Supratman memiliki hasrat untuk menciptakan lagu kebangsaan. Ia sempat mengalami kesulitan saat menulis lagu kebangsaan karena WR Supratman merasa pengalaman politiknya belum cukup.
Akhirnya ia pun melibatkan diri dalam perjuangan dan bertemu oleh para tokoh-tokoh pergerakan.
Dengan berbekal biola WR Supratman pergi ke Pulau Jawa, tepatnya Kota Bandung dimana daerah tersebut adalah pusat pergerakan tokoh-tokoh muda.
Sebelum sampai di Bandung, WR Supratman rupanya singgah di Surabaya dan akrab dengan para pelajar di sana yang penuh semangat juang.
WR Supratman, Seorang Musikus dan Wartawan
Setelah singgah sebentar di Surabaya beberapa tahun, pada tahun 1924 WR Supratman akhirnya pergi ke Cimahi.
Disanalah ia gemar membaca koran Kaoem Muda yang akhirnya membawa WR Supratman menjadi seorang jurnalis.
Sebelum ia diterima di Koran Kaoem Muda, WR Supratman sempat kursus kader politik di organisasi bentukan Soekarno, yakni Kelompok Studi Umum.
Karir jurnalisnya di Koran Kaoem Muda tidak berjalan lama, Ia kemudian pindah ke Biro Pers Algemene Pers News Agency (Alpena) sebagai reporter sekaligus editor.
Karena kondisi ekonomi perusahaan media tempat WR Supratman bekerja tersebut seret akhirnya membuat ia memutuskan untuk beralih ke media lain.
WR Supratman kemudian bergabung dengan Surat Kabar Sin Po yang membuat kehidupan ekonominya membaik.
Di perusahaan media Sin Po juga membuat WR Supratman menjadi lebih dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan. Yakni Sumarno, M. Tabrani, Bahder Djohan, Paul Pinontoan, dan Sumarto.
WR Supratman mengungkapkan kekagumannya pada M. Tabrani dan Sumarto saat berpidato di Kongres Pemuda Indonesia Pertama.
Dari situlah WR Supratman memiliki ide untuk membuat lagu “Indonesia Raya” dengan inspirasi “Cita-cita satu nusa, satu bangsa yang digelari Indonesia Raya.”
Setelah Kongres selesai, WR Supratman mulai membuat konsep lagu kebangsaan dengan tulisan dalam not balok dan not angka.
Lagu Indonesia Raya akhirnya tercipta dengan tiga kuplet dengan bait ulangan dan irama lagu, 6 per 8.
Sebagai wartawan ia ditugaskan untuk meliput Kongres II pada 28 Oktober 1928 di Batavia. Namun kali ini WR Supratman tidak ingin hanya menulis berita melainkan ia berinisiatif untuk menyanyikan lagu ciptaannya.
Selebaran salinan lagu Indonesia Raya ia sebar kepada para pemimpin organisasi pemuda. Akhirnya WR Supratman mendapat izin dari Sugondo untuk menyanyikannya saat jam istirahat.
Namun karena keraguan Sugondo setelah membaca lirik lagunya yang sangat lugas, ia khawatir pemerintah dapat memboikot acara kongres.
Oleh sebab itu Sugondo hanya mengizinkan WR Supratman membawakannya dalam instrumen biola saja.
Saat jam istirahat tiba, lagu Indonesia Raya dilantunkan dengan versi instrumental WR Supratman yang menakjubkan. Semua peserta kongres tercengan dan terharu dengan keindahan gesekan biola WR Supratman.
Itulah saat pertama kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan mendapat sambutan hangat para penonton. Lirik dan notasi lagu Indonesia Raya kemudian pertama kali diterbitkan di edisi 10 November 1928 Surat Kabar Sin Po dengan jumlah 5.000 eksemplar.
Dari terbitan Surat Kabar Sin Po inilah akhirnya judul lagu WR Supratman yang semual “Indonesia” menjadi “Indonesia Raja” yang kemudian sekarang akrab kenal Indonesia Raya.
Setelah itu lagu kebangsaan tersebut kemudian dibawakan lagi oleh WR Supratman pada pembubaran panitia kongres kedua di bulan Desember 1928. Pada acara ini kemudian lagu Indonesia raya dibawakan lengkap dengan liriknya.
Penampilan lagu Indonesia Raya juga dinyanyikan dengan iringan paduan suara. Berikutnya Lagu Indonesia dibawakan pada acara pembukaan Kongres PNI tanggal 18 hingga 20 Desember 1929.
Para peserta kongres ini kemudian berdiri dan ikut bernyanyi mengikuti kur dan iringan biola WR Supratman sebagai bentuk penghormatan pada Indonesia Raya.
Karya WR Supratman Meresahkan Pihak Belanda
Kepopuleran lagu Indonesia Raya pun semakin luas hingga membuat pihak Belanda khawatir jika lagu tersebut dapat membangkitkan semangat kemerdekaan.
Karena keresahan Belanda itulah akhirnya pada tahun 1930 lagu Indonesia Raya dilarang untuk dinyanyikan di acara atau kesempatan apapun.
Pemerintah kolonial menggunakan alasan kepada publik bahwa lagu Indonesia Raya tersebut dapat mengganggu ketertiban dan keamanan.
Tidak hanya dilarang, WR Supratman juga mendapat ancaman, bahkan ia sempat ditahan dan di introgasi atas lirik lagu yang ia buat (merdeka, merdeka, merdeka).
Berkat keuangan dari berbagai kalangan, akhirnya pemerintah Hindia Belanda mencabut tuntutannya terhadap WR Supratman dan memperbolehkan lagu Indonesia dinyanyikan dengan syarat hanya dinyanyikan di ruang tertutup saja.
Keberhasilan lagu Indonesia Raya membaut WR Supratman kembali menciptakan lagu berjudul Matahari Terbit. Pemerintah Belanda kembali menahan WR Supratman karena ciptaan lagunya yang dianggap berbahaya bagi posisi mereka.
Lagu Matahari Terbit dianggap oleh pemerintah Belanda memuji Dai Nippon yakni pihak Jepang. Namun WR Supratman berhasil bebas dari tuduhan Belanda berkat bantuan Van Eldik. Setelah keluar dari tahanan singkat itu WR Supratman justru jatuh sakit.
Kondisi buruknya tersebut membuat pemerintah Belanda senang. Karena kondisinya yang semakin memburuk, tepat pada tanggal 17 Agustus 1938 WR Supratman Wafat di usianya yang ke 35 tahun.
Sebelum kepergiannya, WR Supratman sempat berkata pada kakak iparnya, Oerip Kasansengari bahwa ia yakin bahwa Indonesia pasti akan merdeka.
Tak disangka hari wafatnya pada akhirnya bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia 7 tahun kemudian. WR Supratman dikebumikan di pemakaman umum di Jalan Kenjeran Surabaya.
Selain lagu Indonesia Raya, WR Supratman juga menciptakan beberapa lagu kebangsaan yang kemudian saat ini kita kenal sebagai lagu wajib nasional.
Berikut daftar lagu ciptaan WR Supratman:
Indonesia Raya : Lagu Kebangsaan Republik Indonesia yang diciptakan pada tahun 1924
Ibu Kita Kartini : Lagu Wajib Nasional yang diciptakan pada tahun 1929
Di Timoer Matahari : Lagu Wajib yang diciptakan pada tahun 1931
Indonesia Iboekoe : Yang Diciptakan pada tahun 1926
Bendera Kita Merah Poetih : Yang Diciptakan pada tahun 1928
Bangoenlah Hai Kawan : Yang Diciptakan pada tahun 1929
Mars KBI : Lagu Kepandoean Bangsa Indonesia yang Diciptakan pada tahun 1930
Mars PARINDRA : Lagu Partai Indonesia yang Diciptakan pada tahun 1930
Mars Soerya Wirawan : Yang Diciptakan pada tahun 1937
Matahari Terbit : Yang Diciptakan pada tahun 1928
Selamat Tinggal : Lagu yang belum selesai WR Supratman tulis di tahun 1938
Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi
Berkat peran dan karya besarnya, pemerintah membangun museum WR Supratman yang terletak di Jl Mangga Nomor 21 Tamansari, Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Museum ini berisi beberapanya barang milik WR Supratman salah satunya adalah biola legendaris Sang Musikus.
Museum tersebut rupanya adalah kediaman WR Supratman sebelum ia wafat pada tahun 1938. Sebelum dijadikan museum, tempat tersebut sempat ditinggali oleh sebuah keluarga hingga tahun 1974 dan akhirnya kosong selama 27 tahun lamanya.
Jejak perjuangan WR Supratman juga dipamerkan di Museum Sumpah Pemuda yang berada di JL Kramat Raya Nomor 106, Jakarta.
WR Supratman merupakan pahlawan nasional yang ikut berperan bersama tokoh-tokoh pemuda pergerakan nasional lainnya dalam peristiwa melahirkan deklarasi sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
Karena perannya itulah WR Supratman menjadi aktivis pergerakan nasional yang menciptakan lagu Indonesia Raya sebagai wujud rasa persatuan dan kehendak bangsa Indonesia untuk merdeka.
(*/tribun-medan.com)
Baca juga: Materi Belajar Bahasa Indonesia: Cara Membuat Karya Tulis Ilmiah serta Strukturnya
Baca juga: Materi Belajar Geografi: Batas Wilayah Negara Indonesia, Beserta Luas dan Letaknya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pencipta-lagu-indonesia-raya.jpg)